KABARIKA.ID, JAKARTA — Kemajuan kota sering diukur dari seberapa tinggi gedung yang berdiri. Namun di balik kemegahan gedung pencakar langit, terselip ironi: kesenjangan sosial yang kian menganga. Di satu sisi, kota menampilkan wajah modern dan glamor; di sisi lain, ribuan warga hidup di lorong-lorong sempit dengan pendapatan pas-pasan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Fenomena ini melibatkan dua kelompok utama: kelas atas yang menikmati kemewahan fasilitas kota modern, dan kelas bawah yang berjuang di pinggiran sistem ekonomi.
Pemerintah, pengembang properti, dan masyarakat kota sama-sama punya peran—baik sebagai aktor maupun korban dari ketimpangan ini.
Ketimpangan ini paling jelas terlihat di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Medan—tempat gedung-gedung tinggi menjulang berdampingan dengan kawasan padat penduduk. Dalam satu kilometer persegi, kamu bisa melihat perbedaan mencolok antara apartemen mewah dan rumah semi permanen yang nyaris roboh.
Kesenjangan sosial bukan hal baru, tapi semakin terasa di era modern ini—terutama pasca-pandemi, ketika harga kebutuhan naik dan biaya hidup di perkotaan makin tak terjangkau.
Sementara itu, nilai properti di kawasan elit melonjak drastis, menandakan jurang yang makin lebar antara “yang punya” dan “yang bertahan hidup.”
Akar masalahnya kompleks.
•Pembangunan yang tidak merata: Fokus pembangunan lebih banyak diarahkan ke sektor properti dan investasi, bukan kesejahteraan warga.
•Kebijakan ekonomi yang timpang: Pendapatan pekerja tidak sebanding dengan biaya hidup kota.
•Minimnya akses pendidikan dan lapangan kerja layak: Membuat kelas bawah sulit naik tingkat sosial.
Ketimpangan sosial menciptakan konsekuensi nyata: meningkatnya kriminalitas, rendahnya rasa percaya masyarakat terhadap pemerintah, dan munculnya “tembok sosial” antara si kaya dan si miskin.
Kota yang seharusnya menjadi ruang hidup bersama berubah menjadi simbol ketidakadilan yang mencolok.
Kemajuan seharusnya tak hanya diukur dari tinggi gedung, tapi dari seberapa banyak warga yang bisa menikmati hasilnya. Kota ideal bukan hanya yang indah dilihat dari udara, tapi juga yang adil dirasakan dari bawah. Saatnya membangun kota dengan keadilan sosial sebagai fondasi—bukan hanya beton dan kaca, tapi juga empati dan kebijakan yang manusiawi. (*)
