Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitektur Kesadaran

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Konflik Iran dan Israel-AS sekali lagi memperlihatkan bahwa energi adalah urat nadi peradaban modern. Ketika Timur Tengah bergejolak, harga minyak dunia mudah tersulut. Indonesia yang masih bertumpu pada impor energi fosil tidak punya ruang untuk sekadar menyaksikan. Negeri ini tidak boleh menjadi penonton dari drama geopolitik yang dampaknya langsung mengguncang ekonomi domestik.

Karena itu, diversifikasi sumber daya energi adalah jalan strategis menuju kedaulatan nasional.

Di tengah kebutuhan itu, Indonesia memiliki potensi besar. Sawit adalah salah satu jawaban paling realistis bagi ketahanan energi bangsa. Dari kebun-kebun luas di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, sawit mampu diolah menjadi biodiesel yang menopang transportasi, alat berat, mesin pertanian, hingga distribusi logistik pangan.

Namun kekuatan sumber daya tidak akan bermakna tanpa kesungguhan kepemimpinan.

Di titik inilah kesungguhan Presiden melalui Menteri Pertanian menjadi elemen penting. Pertanian tidak lagi hanya bicara produksi pangan, tetapi juga harus masuk dalam arsitektur besar energi nasional. Sawit, tebu, jagung, singkong, tebon, hingga limbah pertanian memiliki potensi besar sebagai basis bioenergi dan biomassa.

Dengan kepemimpinan yang visioner, sektor pertanian dapat menjadi simpul pertemuan antara ketahanan pangan dan ketahanan energi. Kebijakan hilirisasi sawit untuk biodiesel, pemanfaatan limbah sekam padi untuk biomassa, pengembangan bioetanol dari tebu dan singkong, serta integrasi energi pada kawasan pangan modern akan memperkuat fondasi ekonomi nasional dari desa.

Dampaknya sangat nyata bagi sosial-ekonomi masyarakat.

Ketika energi berbasis pertanian berkembang, biaya produksi menurun. Petani tidak lagi terlalu tergantung pada solar impor untuk pompa air dan mesin panen. Nelayan memperoleh rantai pendingin berbasis energi terbarukan. UMKM pangan desa tumbuh dengan listrik yang lebih stabil dan murah. Harga bahan pokok lebih terjaga karena ongkos distribusi dapat ditekan.

Di tengah perang yang membuat dunia cemas, Indonesia justru harus membaca peluang sejarah. Mengubah sektor pertanian menjadi lumbung energi masa depan.

Sawit adalah bahan bakar dari bumi.
Biomassa adalah tenaga dari sisa yang dihidupkan kembali.
Dan pemihakan ke sektor pertanian serta  kesungguhan Kementerian Pertanian adalah jembatan kebijakan yang menghubungkan ladang dengan kedaulatan.

Bangsa besar bukan bangsa yang sibuk mengeluh pada gejolak global, melainkan yang mampu mengubah kebun sendiri menjadi sumber daya strategis. Konflik perang di Timur Tengah saat ini hendaknya menjadi alarm bahwa masa depan energi Indonesia tidak boleh terus ditentukan oleh perang di negeri jauh.

Indonesia mampu menulis nasib energinya dari tanahnya sendiri.
Dari sawitnya. Dari petaninya. Dari keberanian kebijakannya.
Saatnya tidak hanya menjadi penonton, karena Indonesia mampu menjadi arsitek kedaulatan energi yang lahir dari sektor pertanian nasional. (*)

Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban” (*)