KABARIKA.ID, MAKASSAR – Lima program studi (Prodi) unggulan di Universitas Hasanuddin (UNHAS) resmi menggenggam akreditasi internasional penuh (fully accredited) dari lembaga bergengsi Jerman, Foundation for International Business Administration Accreditation (FIBAA).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih dari sekadar pengakuan formal yang berlaku hingga September 2029, capaian ini mengungkap “resep” internal yang selama ini menjadi pembeda: sinergi kolaboratif yang rapi dari tingkat rektorat hingga gugus tugas lapangan.
Kelima prodi yang kini telah sejajar dengan standar mutu global tersebut berasal dari tiga fakultas berbeda, yakni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), dan Fakultas Hukum (FH).
Adapun daftar prodi yang meraih prestasi ini meliputi, Ilmu Hukum, Hukum Administrasi Negara, Ilmu Ekonomi Pembangunan, Ilmu Komunikasi, dan Ilmu Hubungan Internasional.
Akreditasi FIBAA ini menjadi penanda bahwa kurikulum, tata kelola akademik, serta sistem penjaminan mutu di kelima prodi tersebut telah memenuhi parameter ketat internasional, khususnya dalam aspek outcome-based education dan dukungan sumber daya.
Di balik keberhasilan ini, Ketua Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pendidikan (LPMPP) Unhas, Prof. Dr. Ir. Musrizal Muin, M.Sc., mengungkapkan bahwa faktor penentu utamanya bukan hanya kerja keras individu prodi, melainkan model kerja bersama yang sangat terstruktur.
“Kami membangun sebuah alur kerja yang mengintegrasikan kebijakan strategis pimpinan universitas dengan eksekusi teknis di lapangan. Mulai dari Unit Pengelola Program Studi (UPPS), Ketua Program Studi, hingga Task Force, semuanya bergerak dalam ritme komunikasi yang konsisten,” jelas Prof. Musrizal saat diwawancarai, Senin (14/4/2026).
Dalam dunia penjaminan mutu, pendekatan ini memungkinkan UNHAS bergerak adaptif terhadap indikator penilaian internasional yang kerap kali sangat dinamis.
Proses monitoring dan evaluasi tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi napas bersama yang memastikan setiap celah kelemahan dapat segera ditambal sebelum asesmen lapangan berlangsung.
Angle yang diusung dalam capaian ini adalah transformasi dari pemenuhan administratif menuju budaya mutu organisasi. Prof. Musrizal menegaskan, model kolaborasi yang diterapkan selama proses akreditasi ini dirancang bukan untuk tujuan instan.
“Ini adalah kerangka kerja berkelanjutan. Kami tidak ingin sistem penjaminan mutu internal hanya sibuk ketika ada asesmen. Ini harus menjadi cara berpikir dan bekerja di UNHAS,” tambahnya.
Dengan raihan ini, Universitas Hasanuddin kian memantapkan posisinya di peta persaingan pendidikan tinggi global. Capaian ini sekaligus menjadi bukti bahwa integrasi antarlini di dalam kampus mampu mendongkrak daya saing institusi secara signifikan di mata dunia. (*)
