KABARIKA.ID, JAKARTA– Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Asep Saifuddin Jahar, mengapresiasi kiprah Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam mendorong penguatan sektor pertanian dan kemandirian pangan nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Prof. Asep mengatakan dirinya telah mengenal kiprah Mentan Amran, termasuk ketika mengikuti executive course yang menghadirkan Mentan Amran sebagai salah satu narasumber. Dari kesempatan tersebut, ia mengaku terkesan dengan perjalanan hidup dan kontribusi Mentan Amran dalam pengembangan pertanian Indonesia, khususnya komoditas padi.

“Saya pernah mengikuti short course executive course yang diadakan di Jakarta yang salah satu narasumbernya Pak Menteri, Pak Amran. Saya sangat kagum dan terkesan dengan jejak langkah, perjalanan hidup, dan kontribusinya di dalam pengembangan pertanian, khususnya terkait dengan padi,” katanya, Kamis (24/9).

Menurut Prof. Asep, penguatan sektor pertanian memiliki arti strategis bagi Indonesia. Ia menilai Indonesia memiliki modal geografis sebagai negara tropis yang dapat mendukung pengembangan pertanian secara berkelanjutan.

Karena itu, ia berharap penguatan sektor pertanian tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, tetapi juga didukung pemerintah daerah dan perguruan tinggi.

“Saya pikir sebagai leading person yang berhasil terus meningkatkan kemandirian pangan. Saya harap juga pemerintah daerah bersama-sama ikut mendukung ini,” ujarnya.

Apresiasi Prof. Asep disampaikan di tengah sejumlah capaian sektor pertanian nasional yang terus diperkuat pemerintah. Berdasarkan data BPS, produksi beras Indonesia sepanjang 2025 mencapai sekitar 34,69 juta ton, meningkat 4,07 juta ton atau 13,29 persen dibandingkan 2024.

Prof. Asep juga menilai keberhasilan pembangunan pertanian perlu dilihat tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari dampaknya terhadap kehidupan petani. Salah satu indikator yang menunjukkan perkembangan tersebut adalah Nilai Tukar Petani (NTP).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat NTP nasional pada Agustus 2026 mencapai 129,19, naik 1,05 persen dibandingkan Juli 2026 yang berada pada level 127,84. Kenaikan tersebut terjadi karena indeks harga yang diterima petani meningkat 1,14 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,09 persen.

Selain beras, pemerintah melaporkan Indonesia telah mencapai swasembada pada delapan komoditas pangan strategis pada 2026, yakni beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit.

Transformasi tersebut diperkuat melalui berbagai program Kementan, antara lain optimalisasi lahan, perbaikan dan penguatan irigasi, pompanisasi, penyediaan benih unggul, pupuk bersubsidi, serta modernisasi pertanian melalui alat dan mesin pertanian.

Di sisi hilir, peningkatan produksi juga mulai membuka ruang bagi Indonesia untuk kembali memasuki pasar internasional. Pada Agustus 2026, Indonesia melakukan pengiriman perdana 1.000 ton beras ke Malaysia setelah sebelumnya memperkuat pemenuhan kebutuhan beras dalam negeri.

Prof. Asep menilai capaian tersebut menunjukkan pentingnya kesinambungan antara pemerintah, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun sektor pertanian.

“Indonesia adalah daerah tropis sehingga cocok untuk pengembangan ini. Sehingga kita bukan hanya untuk kebutuhan kita, tetapi juga untuk ekspor, untuk kemandirian pangan,” katanya.

Ia berharap perguruan tinggi dapat mengambil bagian lebih besar dalam mendukung pembangunan pertanian melalui pendidikan, riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia.

“Saya harap ini juga diikuti oleh perguruan tinggi-perguruan tinggi, pemerintah daerah,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Prof. Asep menyampaikan harapan agar Mentan Amran terus berkontribusi dan menjadi inspirasi bagi masyarakat dalam membangun sektor pertanian nasional.

“Saya harap Pak Amran terus berkontribusi, terus berdedikasi, dan juga menjadi inspirator bagi seluruh masyarakat. Maju terus Pak Amran, semoga Amran-Amran lainnya akan hadir di Indonesia,” pungkasnya. (*)