KABARIKA.ID, JAKARTA – PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pupuk bagi petani tetap menjadi prioritas utama, meskipun perusahaan tengah menjalankan program transisi energi untuk mengurangi emisi karbon dari kegiatan industri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perusahaan berkomitmen menjaga operasional seluruh pabrik pupuk, termasuk Urea dan NPK, agar kebutuhan sektor pertanian nasional tetap dapat dipenuhi di tengah perubahan teknologi produksi menuju industri rendah karbon.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, mengatakan program transisi energi dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kemampuan operasional perusahaan dan kebutuhan pupuk nasional.

Menurutnya, upaya menekan emisi tidak boleh mengabaikan peran industri pupuk dalam mendukung produktivitas pertanian serta pencapaian swasembada pangan.

“Transisi energi yang kami lakukan itu bertahap dan terukur,” kata Yehezkiel, sebagaimana disampaikan dalam keterangannya kepada wartawan, Ahad (1/11/2026).

Yehezkiel menegaskan bahwa perusahaan tetap mengutamakan keandalan fasilitas produksi untuk menjamin keberlanjutan pasokan pupuk bagi petani.

“Kita memastikan bahwa operasional dari seluruh pabrik kita, baik itu pabrik pupuk urea, pupuk NPK, dan pupuk lainnya, tetap kita jaga keandalannya,” ujar Yehezkiel.

Pupuk Indonesia Prioritaskan Kebutuhan Petani

Pupuk Indonesia menempatkan kesinambungan produksi pupuk sebagai salah satu aspek penting dalam mendukung sektor pertanian nasional.

Ketersediaan pupuk memiliki hubungan langsung dengan aktivitas budidaya tanaman, terutama ketika petani memasuki periode musim tanam.

Karena itu, perusahaan berupaya menjaga kemampuan produksi di tengah pelaksanaan berbagai program efisiensi energi dan modernisasi fasilitas pabrik.

Menurut Yehezkiel, industri pupuk memiliki peran strategis dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.

Pasokan pupuk yang berkelanjutan menjadi salah satu faktor pendukung produktivitas pertanian, bersama dengan ketersediaan air, benih, teknologi budidaya, dan sarana produksi lainnya.

Di sisi lain, industri pupuk juga menghadapi tantangan untuk mengurangi penggunaan energi dan emisi gas rumah kaca dari kegiatan produksi.

Pupuk Indonesia berupaya menjalankan kedua agenda tersebut secara bersamaan melalui penyesuaian teknologi dan peningkatan efisiensi operasional.

Dengan demikian, proses transisi menuju industri yang lebih ramah lingkungan dirancang tanpa mengesampingkan fungsi utama perusahaan sebagai produsen pupuk.

Revitalisasi Pabrik Urea dan NPK untuk Jaga Produksi

Salah satu strategi yang dijalankan Pupuk Indonesia adalah memperkuat efisiensi energi melalui program revitalisasi pabrik.

Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan kinerja fasilitas produksi sekaligus mengurangi penggunaan energi pada setiap ton produk yang dihasilkan.

Yehezkiel menjelaskan bahwa dalam jangka pendek, perusahaan memprioritaskan efisiensi konsumsi energi dan penggunaan gas sebagai bagian dari kegiatan operasional pabrik.

“Target penurunan konsumsi energi jangka pendek itu memang terkait dengan efisiensi energi melalui revitalisasi pabrik, kemudian menurunkan konsumsi gas per ton produk,” kata Yehezkiel.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan meningkatkan efektivitas produksi sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan industri.

Penggunaan energi yang lebih efisien juga diharapkan mendukung keandalan operasional pabrik dalam memenuhi kebutuhan pupuk nasional.

Bagi Pupuk Indonesia, keberlanjutan produksi tetap menjadi perhatian utama karena kebutuhan pupuk berkaitan dengan kelangsungan kegiatan pertanian.
Oleh karena itu, modernisasi fasilitas dilakukan secara bertahap agar perubahan teknologi dapat berjalan seiring dengan kegiatan produksi yang sudah berlangsung.
Siapkan Teknologi Rendah Karbon hingga 2050
Selain meningkatkan efisiensi pabrik, Pupuk Indonesia menyiapkan sejumlah strategi jangka menengah dan panjang untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
Perusahaan mengembangkan pemanfaatan teknologi blue ammonia dan green ammonia sebagai bagian dari transformasi industri menuju produksi yang lebih rendah karbon.
Teknologi tersebut menjadi salah satu pilihan dalam mengurangi dampak lingkungan dari proses produksi amoniak yang merupakan bahan penting dalam industri pupuk.
Pupuk Indonesia juga mengkaji penerapan teknologi carbon capture, utilization, and storage (CCUS).
Teknologi ini diarahkan untuk menangkap karbon dioksida dari proses industri agar dapat dimanfaatkan kembali atau disimpan sehingga tidak seluruhnya dilepaskan ke atmosfer.
Strategi lainnya adalah pengembangan pendekatan berbasis alam atau nature-based solutions (NBS) untuk mendukung upaya pengurangan emisi.
Dalam menjalankan transformasi tersebut, perusahaan membuka kerja sama dengan mitra yang memiliki pengalaman dan kemampuan teknologi rendah karbon.
“Kami juga menggandeng kemitraan strategis dengan beberapa perusahaan yang memang memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk pengembangan teknologi rendah karbon itu,” kata Yehezkiel.
Penerapan berbagai teknologi tersebut menjadi bagian dari peta jalan perusahaan menuju pengurangan emisi secara bertahap hingga 2050.
Dalam skenario tanpa intervensi atau business as usual, emisi Pupuk Indonesia diperkirakan dapat mencapai 25 juta ton setara karbon dioksida (CO2eq) pada 2050.
Melalui program transformasi energi, perusahaan menargetkan emisi dapat ditekan hingga sekitar 1,7 juta ton CO2eq pada tahun tersebut.
Target itu menunjukkan arah pengembangan industri pupuk yang tidak hanya berorientasi pada kapasitas produksi, tetapi juga memperhatikan dampak lingkungan dalam jangka panjang.
Emisi Pupuk Indonesia Turun pada 2025
Upaya efisiensi energi yang dilakukan Pupuk Indonesia juga tercermin dalam realisasi pengurangan emisi gas rumah kaca sepanjang 2025.
Berdasarkan data perusahaan, emisi gas rumah kaca cakupan 1 dan cakupan 2 berhasil ditekan sebesar 17,47 persen dibandingkan skenario tanpa intervensi.
Penurunan tersebut dilaporkan setara dengan sekitar 2,25 juta ton CO2eq.
Dalam skenario business as usual, emisi perusahaan pada 2025 diperkirakan mencapai 12,90 juta ton CO2eq.
Namun, setelah berbagai langkah pengurangan emisi dilakukan, realisasi emisi aktual tercatat sebesar 10,64 juta ton CO2eq.
Penurunan ini menggambarkan perkembangan upaya perusahaan dalam meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi emisi dari kegiatan operasional.
Emisi cakupan 1 merupakan emisi langsung dari kegiatan yang berada dalam kendali perusahaan, sedangkan cakupan 2 berkaitan dengan emisi tidak langsung dari energi yang dibeli dan digunakan perusahaan.
Pengurangan kedua jenis emisi tersebut menjadi bagian dari langkah Pupuk Indonesia memperbaiki kinerja lingkungan industri.
Produksi Pupuk dan Ketahanan Pangan Tetap Jadi Perhatian
Meski menjalankan transformasi energi, Pupuk Indonesia menegaskan bahwa kegiatan produksi pupuk tetap harus berlangsung secara andal.
Perusahaan berupaya menjaga keseimbangan antara peningkatan efisiensi, pengurangan emisi karbon, dan pemenuhan kebutuhan sektor pertanian.
Upaya tersebut menjadi penting karena perubahan teknologi dalam industri pupuk membutuhkan perencanaan yang matang serta kesiapan fasilitas produksi.
Melalui revitalisasi pabrik, pengembangan teknologi rendah karbon, dan kemitraan strategis, Pupuk Indonesia berupaya memperkuat keberlanjutan kegiatan industrinya.
Bagi petani, perusahaan menempatkan ketersediaan serta keterjangkauan pupuk sebagai prioritas yang harus dipertahankan sepanjang proses transformasi tersebut.
Dengan strategi transisi energi yang dilakukan secara bertahap, Pupuk Indonesia berupaya mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan produksi pupuk.