KABARIKA.ID, MAKASSAR – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meninjau pembangunan Masjid Hajjah Andi Nurhadi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Masjid yang diproyeksikan mampu menampung 20 ribu jemaah itu kini menunjukkan kemajuan signifikan, dengan pengerjaan kubah telah rampung dan memasuki tahap finishing.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Amran meninjau langsung proses pembangunan masjid tersebut pada Minggu pagi (1/11/2026). Sembari berolahraga, ia terlihat mengenakan kaus putih, celana training, dan sepatu kets saat melihat perkembangan pengerjaan kubah masjid.

Masjid yang dibangun di kawasan Panaikang, tepatnya di belakang Kodam XIV/Hasanuddin, itu memiliki nilai pembangunan yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp 1 triliun.

Amran mengatakan pembangunan masjid tersebut merupakan bentuk bakti kepada kedua orang tuanya, khususnya sang ibunda, Hj. Andi Nurhadi, yang namanya diabadikan sebagai nama masjid.

“Masjid ini dibangun untuk ibunda tercinta, ayahanda tercinta. Kami memang niatkan sejak dulu, kalau kami punya uang kami akan bangun masjid,” tutur Amran.

Pembangunan Masjid Hajjah Andi Nurhadi dimulai pada Oktober 2023. Peletakan batu pertamanya diresmikan oleh Wakil Presiden saat itu, KH Ma’ruf Amin.

Sejak awal, masjid ini dirancang bukan sekadar menjadi tempat ibadah. Amran berharap keberadaannya dapat berkembang menjadi pusat pendidikan Islam sekaligus pusat pembinaan generasi muda di kawasan Indonesia Timur.

“Ini bukan hanya berfungsi sebagai masjid, tapi juga untuk pendidikan generasi muda, hafidz Al Quran, membangun mental yang tangguh agar besar nanti dia tidak korupsi,” kata pendiri Tiran Nusantara Group tersebut.

Menurut Amran, masjid harus memiliki peran lebih luas dalam kehidupan masyarakat. Selain menjadi tempat beribadah, masjid diharapkan menjadi ruang untuk membangun karakter, memperkuat pendidikan keagamaan, dan menanamkan nilai-nilai integritas sejak dini.

“Kami ingin masjid ini hidup dan memberi manfaat luas bagi umat, bukan sekadar bangunan megah,” tegasnya.

Salah satu bagian yang menjadi daya tarik Masjid Hajjah Andi Nurhadi adalah kubah emas raksasa berdiameter 34 meter.

Kubah tersebut dirancang sebagai simbol kejayaan Islam sekaligus merepresentasikan cita-cita menjadikan masjid sebagai pusat perkembangan peradaban Islam.

Selain kubah berukuran besar, arsitektur masjid ini juga mengadopsi filosofi kapal pinisi yang identik dengan masyarakat Bugis-Makassar.

Inspirasi tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap identitas budaya masyarakat Sulawesi Selatan yang dikenal memiliki tradisi maritim kuat dan melahirkan pelaut-pelaut tangguh.

Dengan kapasitas sekitar 20 ribu jemaah, masjid ini diproyeksikan menjadi salah satu ikon baru Kota Makassar.

Tak hanya mengandalkan desain arsitektur, Masjid Hajjah Andi Nurhadi juga dirancang memiliki sejumlah fasilitas modern.

Salah satu konsep yang diusung adalah pembangunan menara yang direncanakan memiliki ketinggian melampaui Monumen Nasional (Monas) di Jakarta. Jika terealisasi sesuai rencana, menara tersebut akan menjadi salah satu fitur paling menonjol dari kompleks masjid.

Masjid ini juga direncanakan dilengkapi teknologi metaverse yang memungkinkan pengunjung menjelajahi representasi digital masjid-masjid indah serta perkembangan peradaban Islam di berbagai belahan dunia.

Melalui teknologi tersebut, jemaah diharapkan dapat memperoleh pengalaman edukatif mengenai sejarah dan kebudayaan Islam tanpa harus mengunjungi setiap lokasi secara langsung.

Penggunaan teknologi digital itu menjadi bagian dari konsep pengembangan masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan sekaligus pendidikan.

Selain fungsi ibadah dan pendidikan, pengelolaannya juga dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi umat melalui konsep ekonomi sirkular.

Konsep tersebut diarahkan agar aktivitas masjid dapat memberikan manfaat ekonomi bagi jemaah dan masyarakat sekitar, termasuk melalui pengembangan kegiatan produktif dan pemanfaatan fasilitas pendukung.

Dengan demikian, Masjid Hajjah Andi Nurhadi diharapkan tidak hanya ramai pada waktu salat atau kegiatan keagamaan tertentu, tetapi juga menjadi pusat aktivitas sosial, pendidikan, dan ekonomi masyarakat.

Pembangunan masjid ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan fasilitas keagamaan berskala besar di Makassar. Ke depan, tantangannya bukan hanya menuntaskan pembangunan fisik, tetapi juga memastikan pengelolaan yang berkelanjutan agar fasilitas yang dibangun dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas. (*)