KABARIKA.ID, DUBAI — Perang Amerika Serikat (AS) terhadap Iran kini telah memasuki bulan ke-10. Meski terjadi jeda pertempuran antara kedua negara lebih dari dua pekan terakhir, karena Presiden Donald Trump menghadapi Pemilu paruh waktu awal November ini, namun situasi di Timur Tengah tetap tegang di tengah ketidakpastian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Akankah Presiden Trump memerintahkan serangan baru terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu hari Selasa (3/11/2026), atau akankah terobosan diplomatik di saat-saat terakhir mampu mencegah pertempuran lebih lanjut?
Ketidakpastian menyelimuti Timur Tengah seiring dengan sinyal yang saling bertentangan dari Washington mengenai langkah selanjutnya.
Di sisi lain, Teheran memperingatkan akan adanya konfrontasi berkepanjangan, sementara pihak penengah berpacu dengan waktu untuk mencegah terjadinya kembali perang skala penuh.
Trump telah menegaskan tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan umum tanggal 3 November, namun ia tidak menutup kemungkinan apa yang mungkin terjadi setelahnya, sebuah sikap yang memicu spekulasi mengenai potensi aksi militer lanjutan.
Sementara itu, Iran telah memperingatkan bahwa serangan lain dari AS dan Israel dapat memicu konflik yang lebih luas dan destruktif, dengan kemungkinan menyasar infrastruktur di luar fasilitas minyak.
Seorang pejabat keamanan senior Iran mengatakan kepada CNN bahwa Teheran dapat menyerang infrastruktur tambahan, termasuk fasilitas yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI), seraya memperingatkan bahwa pertempuran yang kembali pecah akan berubah menjadi “perang penuh kejutan” yang berkepanjangan.
Namun, di balik retorika yang kian tajam, kontak diplomatik tetap berlangsung dengan Qatar memainkan peran sentral dalam upaya membawa Washington dan Teheran kembali ke meja perundingan.
Trump Tetap Membuka Berbagai Opsi
Trump berbicara dengan PM Israel Benjamin Netanyahu pada hari Sabtu (31/10/2026), di tengah spekulasi yang kian menguat mengenai kemungkinan serangan terhadap Iran.
Saat ditanya mengenai percakapan tersebut pada hari Minggu (1/11/2026), presiden AS itu tidak memberikan banyak detail, hanya mengatakan bahwa mereka telah melakukan diskusi yang sangat baik.
Axios melaporkan bahwa Netanyahu mendesak dilakukannya kembali tindakan militer setelah pemilihan umum AS, sementara Trump lebih memilih untuk memberikan lebih banyak waktu bagi perundingan.
Menlu AS Marco Rubio mengatakan bahwa Trump belum memutuskan apakah akan melanjutkan operasi militer dan lebih memilih penyelesaian melalui jalur diplomatik.
“Ada berbagai pembicaraan. Sebenarnya, pembicaraan tidak pernah benar-benar berhenti,” ujar Rubio kepada para wartawan.
Ia menolak untuk menetapkan tenggat waktu bagi perundingan, seraya menegaskan bahwa keputusan mengenai tindakan militer pada akhirnya berada di tangan presiden.
Menurut Stephen N.R., editor senior gulfnews, ketidakpastian ini membuat situasi semakin sulit untuk dipahami, apakah peringatan militer dari Washington ditujukan untuk menekan Teheran agar bersedia memberikan konsesi, atau justru sebagai sinyal persiapan untuk konfrontasi lebih lanjut.
Hasan Alhasan, seorang peneliti senior di International Institute for Strategic Studies, mengatakan bahwa sinyal-sinyal dari AS telah memicu kecemasan di seluruh kawasan, sehingga sulit untuk membedakan antara tekanan dalam negosiasi dengan indikasi nyata akan adanya eskalasi dalam waktu dekat.

Teheran Mengancam akan Melakukan Pembalasan yang Lebih Luas
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, telah memerintahkan angkatan bersenjata negara itu untuk bersiap memberikan respons segera terhadap setiap serangan baru, tanpa batasan geografis.
Para komandan Iran juga mengeklaim bahwa negara tersebut telah mengembangkan senjata baru dan memperluas kemampuan militernya sejak pertempuran dimulai pada bulan Februari lalu.
Kepala keamanan Teheran, Mohsen Rezaei, telah memperingatkan akan adanya pembalasan yang menghancurkan jika perang kembali pecah, sementara para pejabat Iran mengisyaratkan bahwa target-target yang mungkin disasar bisa melampaui instalasi militer dan energi yang lazim.
Menlu Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Teheran tetap terbuka untuk bernegosiasi, namun di saat yang sama juga siap untuk membela diri.
Ia berharap Washington akan memilih jalur diplomasi, seraya menambahkan bahwa hasilnya bergantung pada respons AS terhadap pertanyaan dan persyaratan yang diajukan oleh Iran.
Dapatkah Diplomasi Qatar Mencegah Perang Lainnya?
Qatar telah muncul sebagai perantara kunci, dengan menampung para negosiator Iran sekaligus menjaga komunikasi dengan Washington.
Para pejabat Iran mengatakan bahwa delegasi mereka telah meninggalkan Qatar, meskipun pertukaran pesan secara tidak langsung dengan Washington tetap berlangsung.
Teheran kini menunggu tanggapan AS atas usulannya untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu dua hari, dengan syarat Washington menerima sejumlah ketentuan yang diajukan Iran.
Tuntutan tersebut mencakup pelonggaran sanksi serta perubahan terhadap pembatasan yang memengaruhi ekspor minyak Iran.
Kedua belah pihak masih belum mencapai kesepakatan mengenai ketentuan dan urutan pelaksanaan dari kesepakatan apa pun.
Wakil Presiden AS, JD Vance, juga telah mengirimkan surat kepada kepala keamanan Iran, Mohsen Rezaei, yang memunculkan harapan bahwa peluang diplomasi mungkin masih terbuka.
Utusan AS, Tom Barrack, memberikan penilaian yang lebih optimistis dengan mengatakan bahwa langkah-langkah diplomatik yang signifikan dapat muncul dalam waktu dua minggu.
Namun, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa kemajuan apa pun bergantung pada kesediaan Washington untuk menerima tujuh persyaratan yang diajukan Teheran.
Kekhawatiran Meningkat Terkait Penerbangan, Sekolah, dan Bisnis
Bagi penduduk di seluruh Timur Tengah, ketidakpastian yang terjadi kini tidak lagi terbatas pada pernyataan diplomatik atau pergerakan militer semata.
Menurut laporan CNN, keluarga dan dunia usaha semakin khawatir akan kemungkinan terganggunya perjalanan udara, kegiatan sekolah, dan tempat kerja jika pertempuran kembali pecah.
Di Arab Saudi, tempat serangan kelompok Houthi telah mengganggu kehidupan sehari-hari, beberapa penduduk menuturkan bahwa mereka kembali menerapkan sistem kerja jarak jauh dan pembelajaran daring.
Seorang warga Amerika mengatakan bahwa para tetangga dan teman-temannya tengah bersiap menghadapi bulan November yang sulit, serta mencemaskan potensi gangguan pada penerbangan selama masa liburan.
Di Bahrain, penduduk mengungkapkan bahwa dampak psikologis dari serangan-serangan sebelumnya masih terasa, meskipun kehidupan sehari-hari tetap berjalan.
UEA mengharapkan terobosan, namun bersiap menghadapi skenario terburuk.
Uni Emirat Arab (UEA) menekankan pentingnya diplomasi, sembari mengakui adanya kemungkinan konflik yang kembali meletus.
Dalam sebuah konferensi di Manama pada hari Minggu (1/11/2026), penasihat diplomatik kepresidenan, Anwar Gargash, menyatakan harapan UEA agar negosiasi dapat menghasilkan sebuah terobosan.
“Bukanlah kepentingan kawasan ini untuk kembali mengalami babak konflik baru,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa negaranya juga telah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
UEA berulang kali menyerukan pentingnya menahan diri, mengedepankan dialog, serta mematuhi hukum internasional sebagai langkah krusial untuk menjaga keamanan dan stabilitas kawasan.
Ancaman Baru terhadap Pelayaran
Risiko terhadap perdagangan regional dan pasokan energi kembali disorot menyusul insiden yang melibatkan kapal pengangkut gas alam cair (LNG) milik Qatar.
Perusahaan pelayaran Qatar, Nakilat, menyatakan bahwa kapal mereka, Al Mayeda, terkena objek yang tidak teridentifikasi di Teluk Arab.
Kapal tersebut mengalami kerusakan namun tetap dapat beroperasi. Tidak ada awak kapal yang terluka, dan tidak dilaporkan adanya dampak terhadap lingkungan.
Qatar mengecam insiden tersebut dan telah meluncurkan penyelidikan. Pihak perusahaan tidak menyebutkan siapa yang bertanggung jawab.
Secara terpisah, Iran menetapkan angkatan laut dan angkatan udara Inggris sebagai organisasi teroris, dengan menuduh London mendukung operasi militer AS-Israel.
Perkembangan ini menambah kekhawatiran bahwa permusuhan yang kembali pecah dapat meluas melampaui konfrontasi langsung antara Washington dan Teheran.
Perang atau Damai?
Pertanyaan utamanya adalah apakah upaya diplomatik terkini dapat menjembatani perbedaan antara Washington dan Teheran sebelum salah satu pihak memutuskan untuk melakukan eskalasi.
AS terus menuntut jaminan terkait program nuklir Iran, sementara Teheran bersikeras bahwa penghapusan sanksi dan kekhawatiran mereka mengenai keamanan harus ditangani.
Menjelang Pemilu paruh waktu di AS besok (3/11/2026), dengan peringatan militer yang kian intens dan para mediator yang masih berupaya mencari titik temu, kemungkinan terjadinya terobosan diplomatik maupun serangan baru sama-sama tidak dapat dikesampingkan.
Bagi jutaan orang di kawasan Timur Tengah, kekhawatiran mendesak saat ini adalah apakah hari-hari mendatang akan menghasilkan sebuah kesepakatan atau justru memicu babak baru peperangan. (*/rus)
