KABARIKA.ID, MAKASSAR — Pola berkedip pada anak-anak menunjukkan kaitan yang mengejutkan dengan kemampuan berpikir fleksibel dan aktivitas di wilayah kunci otak yang sedang berkembang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Anak-anak kecil terus-menerus dituntut untuk beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Mereka mungkin perlu menghentikan suatu kegiatan, mengikuti instruksi baru, mengingat aturan yang berbeda, atau menyesuaikan diri ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.
Keterampilan sehari-hari tersebut sebagian bergantung pada fungsi eksekutif, yaitu kemampuan mental yang membantu seseorang mengendalikan perhatian dan perilaku.
Kemampuan ini berkembang pesat selama masa prasekolah dan berkaitan dengan kemampuan belajar, keterampilan sosial, serta aspek penting kehidupan lainnya di kemudian hari.
Sebuah analisis baru menunjukkan bahwa hal yang tampak biasa seperti berkedip dapat memberikan petunjuk bagi para peneliti mengenai bagaimana sistem kendali mental ini berkembang.
Anak-anak yang lebih sering berkedip cenderung lebih baik dalam beralih antaraturan, dan mereka juga menunjukkan pola aktivitas tertentu di area otak yang berperan dalam kemampuan berpikir fleksibel.
Mengapa Kemampuan Berpikir Fleksibel itu Penting?
Fungsi eksekutif mencakup beberapa keterampilan mental, namun penelitian ini berfokus pada fleksibilitas kognitif. Fleksibilitas kognitif adalah kemampuan untuk berhenti mengikuti satu aturan dan mulai menggunakan aturan lain saat situasi berubah.
Keterampilan ini penting dalam kehidupan sehari-hari anak-anak. Mengikuti beberapa instruksi, berganti aktivitas di kelas, dan menyesuaikan perilaku dalam situasi sosial, semuanya menuntut kemampuan untuk mengalihkan perhatian dan merespons informasi baru.
Masa prasekolah sangatlah penting karena fungsi eksekutif mengalami perubahan pesat selama periode ini.
Namun, mempelajari mekanisme otak di balik perubahan tersebut merupakan hal yang sulit karena banyak metode pemindaian otak yang terasa tidak nyaman atau tidak praktis bagi anak-anak yang masih sangat kecil.
Hal inilah yang mendorong para peneliti untuk mengamati perilaku yang secara tak terduga sederhana: berkedip secara spontan.
Perubahan Pola Berkedip Selama Masa Kanak-kanak
Bayi yang baru lahir hanya berkedip beberapa kali setiap menit, sedangkan orang dewasa umumnya berkedip jauh lebih sering.
Selama masa kanak-kanak awal, frekuensi berkedip meningkat dan perbedaan pola berkedip antar-anak pun menjadi semakin nyata.
Ryuta Kuwamizu dari Universitas Tsukuba dan rekan-rekannya bertanya-tanya apakah perbedaan tersebut mungkin berkaitan dengan perkembangan fleksibilitas mental.
Mereka meneliti 113 anak berusia antara 35 hingga 80 bulan dari berbagai sekolah prasekolah di Osaka dan Kyoto, Jepang.
Para peneliti mencatat seberapa sering anak-anak berkedip secara alami saat mereka menyelesaikan permainan menyortir kartu. Anak-anak tidak diberi tahu bahwa frekuensi kedipan mereka sedang diamati, sehingga tim dapat merekam perilaku alami mereka.
Anak-anak yang lebih muda umumnya memiliki tingkat kedipan yang rendah dengan variasi yang minim.
Pada anak-anak yang lebih tua, perbedaannya menjadi jauh lebih besar, dan beberapa di antaranya bahkan berkedip lebih dari 20 kali per menit.
Anak-anak Menghadapi Perubahan Aturan
Permainan kartu ini dirancang untuk menguji seberapa baik anak-anak dapat mengubah pola pikir mereka ketika aturan permainan berubah. Kartu-kartu tersebut dapat dicocokkan berdasarkan warna atau bentuknya.
Pada awalnya, anak-anak menyortir kartu berdasarkan warna. Kemudian, mereka diminta untuk beralih dan menyortir kartu berdasarkan bentuk, sebelum masuk ke tahap berikutnya di mana aturan penyortiran berubah-ubah secara bergantian.
Para peneliti memberikan perhatian khusus pada momen ketika seorang anak harus meninggalkan satu aturan dan beralih menggunakan aturan lainnya.
Hal ini memberikan ukuran yang disebut akurasi peralihan (switching accuracy), yang pada dasarnya mencerminkan seberapa sering anak-anak membuat pilihan yang tepat setelah aturan berubah.
Seperti yang diperkirakan, mengubah aturan lebih sulit daripada mengikuti aturan awal. Anak-anak lebih banyak melakukan kesalahan setelah peralihan pertama dan selama tahap di mana aturan terus berubah-ubah.
Frekuensi Kedipan yang Lebih Tinggi Dikaitkan dengan Fleksibilitas
Anak-anak yang lebih tua umumnya lebih baik dalam beralih antaraturan. Mereka juga cenderung lebih sering berkedip.
Namun, usia bukanlah satu-satunya faktor penentu. Bahkan setelah peneliti memperhitungkan faktor usia, anak-anak dengan tingkat kedipan yang lebih tinggi tetap cenderung memiliki akurasi peralihan yang lebih baik.
Hal ini tidak berarti bahwa berkedip membuat anak-anak berpikir lebih baik. Temuan ini menunjukkan adanya hubungan antara keduanya, namun eksperimen tersebut tidak dapat membuktikan bahwa satu hal menyebabkan hal lainnya.
Sebaliknya, berkedip mungkin mencerminkan perubahan otak yang terjadi bersamaan dengan berkembangnya fleksibilitas mental.
Untuk menyelidiki kemungkinan tersebut, tim peneliti mengamati aktivitas di bagian depan otak anak-anak saat mereka memainkan permainan kartu tersebut.
Aktivitas Otak Menjadi Terfokus
Para peneliti menggunakan metode functional near-infrared spectroscopy (fNIRS).
Metode yang aman bagi anak-anak ini memancarkan cahaya inframerah-dekat (near-infrared) yang tidak berbahaya menembus kulit kepala serta memantau perubahan aliran darah kaya oksigen di dekat permukaan otak.
Perubahan aliran darah tersebut memberikan petunjuk tidak langsung kepada para peneliti mengenai area otak mana yang bekerja lebih keras.
Tim peneliti berfokus pada korteks prefrontal, yaitu wilayah di bagian depan otak yang berperan mengendalikan perhatian dan perilaku.
Bagian permainan yang menuntut pergantian aturan yang lebih sulit memicu aktivitas yang lebih kuat dibandingkan dengan tahap awal yang sederhana.
Anak-anak yang lebih besar juga menunjukkan pergeseran aktivitas yang lebih jelas ke arah sisi kanan dan bagian atas korteks prefrontal.
Pola ini mengisyaratkan bahwa aktivitas otak menjadi lebih terspesialisasi seiring dengan perkembangan anak.
Alih-alih banyak wilayah di sekitarnya merespons dengan cara yang sama, area-area tertentu tampak terlibat lebih kuat dalam tugas tersebut.
Satu Area Otak Tampak Menonjol
Satu wilayah yang sangat menarik perhatian adalah korteks prefrontal dorsolateral kanan, atau rDLPFC.
Area ini membantu seseorang menangani perubahan aturan dan mengendalikan perilaku yang berorientasi pada tujuan.
Area ini merupakan satu-satunya dari empat area prefrontal yang diukur yang memiliki kaitan dengan laju kedipan mata sekaligus kemampuan beralih aturan.
Anak-anak yang lebih sering berkedip cenderung menunjukkan aktivitas yang lebih kuat di area tersebut, dan aktivitas yang lebih kuat itu juga berkaitan dengan kemampuan beralih aturan yang lebih baik.
Hubungan-hubungan tersebut melemah setelah faktor usia diperhitungkan. Hal ini penting karena otak itu sendiri mengalami perubahan pesat selama masa-masa tersebut.
Meski demikian, hasil penelitian tetap menunjukkan adanya hubungan antara kedipan mata, fleksibilitas mental, dan perkembangan aktivitas di wilayah otak bagian depan yang spesifik ini.
Akan tetapi, tim peneliti mengukur semua aspek tersebut pada satu titik waktu yang kurang lebih sama dalam kehidupan setiap anak.
Mereka tidak memantau anak-anak yang sama selama bertahun-tahun, sehingga tidak dapat menunjukkan secara persis bagaimana kedipan mata dan aktivitas otak berubah secara bersamaan pada diri seorang anak seiring berjalannya waktu.
Peran Dopamin Masih Belum Pasti
Kedipan mata menarik perhatian karena mungkin mencerminkan aktivitas dalam sistem kimiawi otak, termasuk dopamin.
Dopamin membantu mengatur sirkuit otak yang terlibat dalam perhatian, pembelajaran, dan perilaku yang fleksibel.
Namun, para peneliti tidak mengukur kadar dopamin pada anak-anak tersebut. Mereka juga tidak mengukur secara langsung area otak yang lebih dalam yang bekerja bersama korteks prefrontal.
Hal ini berarti seorang anak yang lebih sering berkedip tidak bisa serta-merta dikatakan memiliki kadar dopamin yang lebih tinggi. Kedipan mata dipengaruhi oleh beberapa sistem otak, dan zat kimia seperti asetilkolin serta noradrenalin mungkin juga turut berperan.
Untuk saat ini, laju kedipan mata lebih tepat dipahami sebagai kemungkinan petunjuk luar mengenai perkembangan otak yang mendasarinya, bukan sebagai pengukuran kimiawi secara langsung.
Perilaku Sederhana Bisa Bermanfaat
Ada alasan praktis mengapa para peneliti tertarik pada aktivitas berkedip.
Mengukur perkembangan otak pada anak usia prasekolah bisa jadi sulit dilakukan, sedangkan laju kedipan mata dapat direkam menggunakan kamera video biasa.
Dalam eksperimen ini, laju kedipan mata diukur selama sekitar enam menit yang mencakup permainan kartu serta jeda istirahat singkat.
Penelitian selanjutnya perlu menguji apakah pola yang sama muncul pada tugas-tugas lain dan pada anak-anak dengan latar belakang yang lebih beragam.
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Communications Psychology edisi September 2026. Artikel lengkap penelitian tersebut dapat diakses di sini.
Apa yang Tidak Dapat Ditunjukkan oleh Penelitian Ini
Para peneliti juga hanya menggunakan satu jenis tugas fungsi eksekutif.
Oleh karena itu, temuan ini terutama memberikan informasi mengenai kemampuan beralih aturan secara fleksibel, bukan mengenai setiap aspek perhatian, daya ingat, atau pengendalian diri.
Meski demikian, penelitian ini mengisyaratkan bahwa perilaku sehari-hari dapat menyimpan informasi berguna tentang bagaimana otak anak mengorganisasi sistem yang diperlukan untuk berpikir secara fleksibel.
Berkedip tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis perkembangan atau mengukur kecerdasan, namun pada akhirnya hal ini mungkin memberikan cara yang lebih mudah bagi peneliti untuk mempelajari bagaimana pengendalian mental berubah selama masa penting dalam kehidupan anak. (rus)
