KABARIKA.ID, MAKASSAR — Sebuah hasil penelitian terbaru berjudul, “Plastik Beracun: Bagaimana Bahan Kimia dalam Plastik Sehari-hari Membahayakan Kesehatan Anda” (Poison Plastics: How Chemicals in Everyday Plastics are Harming Your Health”), baru saja dirilis pada hari Rabu (23/09/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hasil studi investigasi tersebut menyebutkan, hampir 93% bahan kimia plastik yang umum digunakan untuk membungkus makanan serta membuat pakaian, mainan, dan produk rumah tangga maupun perawatan pribadi lainnya, menimbulkan risiko tinggi bagi kesehatan manusia.

“Potensi dampak buruk bagi kesehatan meliputi kanker, perubahan genetik, serta toksisitas pada sistem endokrin, reproduksi, dan organ tubuh,” kata Naima Fenderl, penulis utama laporan hasil studi tersebut.

Fenderl adalah seorang peneliti di Environmental Justice Foundation (EJF), organisasi nirlaba lingkungan yang berbasis di London.

“Kami meneliti dampak bahan kimia plastik ini terhadap tubuh serta tingkat paparannya untuk menghitung risiko kesehatan secara keseluruhan,” ujar Fenderl.

Laporan tersebut menganalisis paparan terhadap lima kategori plastik yang digunakan banyak orang hampir setiap hari:

> Hampir 92% bahan kimia yang ditemukan dalam plastik yang bersentuhan dengan makanan memiliki risiko tinggi bagi kesehatan manusia,
> Hampir 89% mainan anak-anak mengandung plastik berisiko tinggi,
> Sekitar 93% tekstil dan pakaian dibuat menggunakan bahan kimia berbahaya,
> Lebih dari 92% produk rumah tangga umum, seperti air minum kemasan, peralatan dapur, peralatan makan, peralatan berkebun, perlengkapan kamar mandi, dan alat tulis kantor, mengandung bahan kimia berisiko tinggi, dan
> Hampir 93% plastik untuk keperluan kebersihan dan medis juga mengandung bahan kimia berbahaya. Produk-produk tersebut antara lain benang gigi (dental floss), tampon dan produk menstruasi lainnya, cangkang kapsul obat, koyo (patch), dan jarum suntik.

“Laporan ini sangat luar biasa dalam menyajikan informasi mengenai plastik sehari-hari dengan format yang sangat mudah dipahami,” kata dokter spesialis anak Dr. Philip Landrigan, direktur Global Observatory on Planetary Health serta Program for Global Public Health and the Common Good di Boston College.

Baca juga: Tubuh Kita Sudah Mengandung Plastik: Ilmuwan Menemukan Mikroplastik pada 17 Sampel Arteri Manusia yang Diuji

“Tiba-tiba saja, orang-orang bisa merasakan secara langsung bagaimana plastik ini menyusup ke dalam kehidupan mereka dengan cara-cara yang sebelumnya tidak mereka sadari,” ujar Landrigan, yang tidak terlibat dalam penyusunan laporan tersebut.

Data Belum Memadai untuk Mengukur Potensi Bahaya

Namun, menurut laporan itu, hal yang tak kalah mengkhawatirkan adalah apa yang belum diketahui oleh dunia sains mengenai bahan kimia plastik dalam produk sehari-hari.

Hampir 80% dari 3.552 bahan kimia yang terkandung dalam plastik yang sering digunakan masyarakat, tidak memiliki data yang cukup untuk menentukan tingkat toksisitas atau risiko paparannya.

“Kita sama sekali tidak tahu bahaya apa yang mungkin ditimbulkan oleh bahan-bahan kimia tersebut terhadap diri kita maupun anak-anak kita. Kita bahkan tidak mengetahui nama atau komposisi dari banyak bahan kimia yang ada dalam produk konsumen, industri kimia mungkin memiliki informasi tersebut, namun informasi itu tidak tersedia untuk publik,” papar Landrigan.

“Situasi kita ini ibarat orang mabuk dan tiang lampu, bukan? Kita mencari kunci di bawah tiang lampu karena di situlah ada cahaya, sementara kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di luar sana, di bagian dunia lainnya,” lanjut Landrigan.

American Chemistry Council, sebuah asosiasi perdagangan industri yang mewakili perusahaan manufaktur bahan kimia, menyatakan bahwa laporan EJF tersebut harus disikapi dengan “sangat hati-hati” karena mengabaikan sumber data penting, seperti basis data aditif plastik yang disediakan untuk publik oleh International Council of Chemical Associations.

Menurut Kimberly Wise White, wakil presiden bidang regulasi dan ilmiah di American Chemistry Council, laporan tersebut juga tidak mempertimbangkan basis data regulasi di Amerika Serikat dan Uni Eropa.

“Penyajian informasi yang selektif dalam laporan ini menyesatkan dan secara keliru melabeli bahan-bahan kimia sebagai zat yang tidak diatur, karena mengabaikan kerangka regulasi utama dalam analisisnya, tanpa mempertimbangkan hal-hal tersebut. Laporan ini lebih bertujuan menciptakan berita utama daripada memajukan ilmu pengetahuan,” ujar White.

Plastik Ada di Mana-mana

Plastik terdapat dalam hampir setiap aspek kehidupan kita. Lebih dari 80% produk pertanian yang dijual di supermarket dibungkus dengan plastik sekali pakai.

Baca juga: Plastik yang Umum Digunakan Terkait Makanan, Terbukti Meningkatkan Risiko Penyakit Perlemakan Hati

Sekitar 60% pakaian terbuat dari kain sintetis berbahan dasar plastik, sementara diperkirakan 90% mainan yang dimasukkan ke mulut dan dimainkan oleh anak-anak terbuat dari plastik, yang banyak di antaranya mengandung bahan kimia yang diketahui berbahaya bagi kesehatan.

Ditambah lagi dengan ribuan barang rumah tangga umum yang terbuat dari plastik, seperti panci, wajan, peralatan dapur, wadah penyimpanan makanan, dan bahkan furnitur, serta beragam bahan kimia plastik dalam produk perawatan pribadi dan medis, maka potensi paparannya sungguh mencengangkan.

Pada tahun 2024, sekelompok ilmuwan internasional menciptakan PlastChem, sebuah basis data komprehensif dan mutakhir yang memuat semua bahan kimia yang diketahui terdapat dalam plastik.

Dari 16.000 bahan kimia yang berhasil diidentifikasi oleh para peneliti, 4.200 di antaranya dikategorikan “sangat berbahaya” bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Sementara itu, lebih dari 10.000 bahan kimia lainnya sama sekali tidak memiliki data yang tersedia.

Baca juga: Waspada! Mengonsumsi BPA Terbukti Memengaruhi Sensitivitas Kerja Insulin Alami dalam Tubuh

“Environmental Justice Foundation menggunakan basis data PlastChem untuk analisisnya, dengan mengemas ulang informasi tersebut ke dalam “konteks dunia nyata yang relevan dengan kebijakan,” ujar Jane Muncke, salah satu penulis PlastChem.

Jane Muncke adalah direktur pelaksana sekaligus kepala pejabat ilmiah di Food Packaging Forum, sebuah yayasan penelitian sains nirlaba yang berbasis di Zurich, Swiss. Muncke tidak terlibat dalam studi investigasi tersebut.

PlastChem mengelompokkan bahan-bahan kimia tersebut ke dalam 15 kelompok prioritas yang dapat menjadi sasaran regulasi. Kelompok-kelompok ini mencakup bisphenol seperti BPA, yang pada kadar tinggi dikaitkan dengan kematian dini; ftalat yang dikaitkan dengan ribuan kematian akibat penyakit jantung di seluruh dunia; serta “bahan kimia abadi” yang disebut PFAS (per- and polyfluoroalkyl substances) yang menurut penelitian, berkaitan dengan biaya layanan kesehatan bernilai miliaran dolar di AS saja.

Martin Wagner, pemimpin proyek PlastChem sekaligus profesor biologi di Norwegian University of Science and Technology di Trondheim mengatakan, banyak bahan kimia plastik yang juga merupakan pengganggu sistem endokrin yang mengacaukan hormon tubuh serta berkontribusi terhadap obesitas, berat badan lahir rendah, diabetes gestasional, cacat lahir, dan gangguan perkembangan saraf.

“Bahan-bahan kimia yang menjadi perhatian ini juga bersifat persisten, artinya tidak mudah terurai di lingkungan, bioakumulatif (menumpuk di dalam tubuh seiring waktu), dan mudah menyebar (mobile) di air minum atau lingkungan perairan,” ujar Wagner.

Martin Wagner, pemimpin proyek PlastChem sekaligus profesor biologi di Norwegian University of Science and Technology, di Trondheim, Norwegia. (Foto: ntnu.edu)

Laporan Baru Identifikasi Bahan Kimia Plastik yang Mengkhawatirkan oleh PlastChem, dapat diakses di sini.

Namun, lebih dari 50% bahan kimia berisiko tinggi yang menjadi perhatian tersebut tidak diatur oleh yurisdiksi besar seperti Uni Eropa ataupun oleh berbagai perjanjian lingkungan internasional yang menyasar bahan-bahan kimia utama, termasuk Konvensi Basel, Konvensi Minamata, Protokol Montreal, Konvensi Rotterdam, dan Konvensi Stockholm.

“Amerika Serikat belum meratifikasi beberapa perjanjian internasional yang telah diratifikasi oleh negara-negara lain, termasuk Konvensi Basel, Rotterdam, dan Stockholm. Hal ini sebenarnya membuat konsumen AS sangat rentan terhadap risiko kesehatan tersebut,” ujar Fenderl.

Menurut laporan studi tersebut, ini adalah masalah besar yang telah berkembang selama beberapa dekade.

Pada tahun 1950, produsen menghasilkan sekitar 2 juta metrik ton plastik setiap tahunnya, kini, lebih dari 430 juta metrik ton diproduksi setiap tahun.

Para ilmuwan memproyeksikan produksi plastik akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2050, disertai dengan penggunaan 2 miliar metrik ton bahan aditif kimia plastik.

“Secara global, saat ini terdapat 325.000 bahan kimia sintetis yang dikuasai oleh industri kimia. Tidak semuanya beredar di pasaran, namun sebanyak itulah jumlah yang telah ditemukan dan diproduksi sejak industri kimia berkembang pesat setelah Perang Dunia II. Paling banter, dengan asumsi yang sangat optimis, kita hanya memiliki informasi toksikologis mengenai mungkin 20% di antaranya,” papar Landrigan. (rus)