KABARIKA.ID, ATLANTA — Para pemain Argentina merayakan kemenangan Piala Dunia mereka atas Inggris dengan membentangkan spanduk bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas”, merujuk pada perang Falkland tahun 1982.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Argentina sempat tertinggal 0-1 saat pertandingan semifinal di Atlanta, Rabu (15/07/2026) menyisakan lima menit, namun mereka bangkit dan mencetak dua gol dalam waktu singkat untuk melaju ke final Piala Dunia kedua mereka secara berturut-turut. Argentina akan menghadapi Spanyol di New Jersey, pada hari Minggu.

Spanduk tersebut merujuk pada sengketa wilayah, yang disebut Kepulauan Falkland di Inggris dan Islas Malvinas di Argentina, yang memicu konflik selama 74 hari pada 44 tahun silam.

Lebih dari 900 orang, 649 warga Argentina dan 255 warga Inggris, tewas dalam konflik tersebut.

Lisandro Martínez dan Giovani Lo Celso membentangkan spanduk itu sambil tersenyum lebar dan melambai ke arah penggemar di tribun. Tidak diketahui dari mana asal spanduk tersebut.

Ini bukan kali pertama isu mengenai spanduk bermuatan politik muncul selama Piala Dunia.

Bulan lalu di Los Angeles, warga Amerika keturunan Iran mengibarkan bendera era pra-revolusi, yang menjadi simbol protes terhadap pemerintah Teheran, saat Iran bertanding. Pertandingan-pertandingan tersebut berlangsung tanpa insiden.

Setelah mengalahkan Swiss di perempat final dan memastikan pertemuan dengan Inggris, beberapa pemain Argentina terdengar meneriakkan yel-yel: “Demi Malvinas, demi Diego (Maradona), dan demi kesempatan terakhir Leo (Messi).”

Pemain Argentina, Giovani Lo Celso membentangkan spanduk bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas” di lapangan sepak bola Piala Dunia, Rabu (15/07/2026), di Atlanta. (Foto: theguardian)

Martínez mengatakan bahwa pembentangan spanduk itu memicu emosi yang mendalam.

“Saya bisa membayangkan seorang veteran Perang Malvinas melihat hal itu dan menangis. Saya tidak tahu apakah akan ada sanksi atau tidak, namun tindakan mereka hanyalah membentangkan spanduk itu dan menegaskan bahwa kepulauan tersebut adalah milik kami,” ujar Martínez, yang telah bermain di Inggris selama empat tahun terakhir bersama Manchester United.

Rekan setimnya, Leandro Paredes, menambahkan: “Sayangnya, itu adalah bagian yang menyedihkan dari sejarah kami, bagi semua orang yang terlibat dalam babak sejarah kami, saya ulangi, sejarah kami tersebut. Dan hal itu menyakitkan. Kami tahu bahwa kami juga bermain demi mereka.”

Kode etik stadion FIFA melarang keberadaan “spanduk, bendera, selebaran, pakaian, dan atribut lain yang bersifat politis, menyinggung, dan/atau diskriminatif” di dalam stadion. FIFA tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Reaksi Pemerintah Inggris

Menanggapi hal ini, Menteri Bisnis Inggris, Peter Kyle menyebut tindakan membentangkan spanduk tersebut sebagai sesuatu yang sama sekali tidak pantas.

“Politik harus dipisahkan dari sepak bola. Faktanya, salah satu prinsip utama Piala Dunia adalah pemisahan antara politik dan sepak bola. Kini masalah tersebut menjadi ranah FIFA. Saya berharap FIFA melakukan penyelidikan secara menyeluruh,” ujar Kyle.

Downing Street alias Kantor Perdana Menteri Inggris, mendukung seruan agar FIFA menyelidiki apakah para pemain Argentina melanggar aturan dengan membentangkan spanduk yang mendukung klaim negara mereka atas Kepulauan Falkland saat Piala Dunia berlangsung.

Seorang juru bicara Downing Street mengatakan: “Piala Dunia mungkin bukan milik kita, tetapi Kepulauan Falkland jelas milik kita. Komitmen kami terhadap Falkland tidak akan pernah goyah.”

Pejabat tersebut mengatakan bahwa tindakan apa pun yang mungkin diambil adalah urusan FIFA. Namun, saat ditanya apakah Perdana Menteri Keir Starmer sependapat dengan menteri kabinetnya mengenai perlunya penyelidikan, ia menjawab: “Saya mendukung pandangan tersebut.”

Pemimpin Partai Liberal Demokrat, Ed Davey, mendesak agar para pemain Argentina yang terlihat memegang spanduk tersebut dijatuhi sanksi larangan bermain pada pertandingan final hari Minggu melawan Spanyol.

Alasannya, Pasal 34.3 aturan turnamen melarang pemain menampilkan pesan atau slogan politik apa pun sebelum, selama, atau setelah pertandingan.
Argentina pernah dijatuhi denda oleh FIFA setelah membentangkan spanduk dengan slogan serupa usai pertandingan persahabatan melawan Slovenia pada tahun 2014.

Sementara itu, Menteri Keamanan Argentina, Alejandra Monteoliva, mengatakan pada hari Selasa bahwa peningkatan pengamanan telah dibahas dalam sebuah pertemuan di AS pada hari Senin.

“Akan ada 1.600 petugas yang dikerahkan. Kami ingin perayaan ini berlangsung damai. Masuknya unsur-unsur yang membawa pesan provokatif dalam bentuk apa pun, baik yang bermuatan politis maupun rasial, adalah dilarang,” kata Monteoliva kepada sebuah stasiun radio lokal di Argentina. (rus)