Penulis: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ramadan selalu datang dengan wajah yang agung. Jalanan dipenuhi ucapan religius, masjid-masjid lebih ramai dari biasanya, ayat-ayat Al-Qur’an dilantunkan dengan suara yang lebih bergetar.

Di permukaan, kesalehan tampak seperti gelombang besar yang menyapu ruang sosial. Namun di kedalaman batin, pertanyaan itu tetap saja ada.  Apakah yang kita rayakan benar-benar kesadaran, atau hanya suasana?
Di sinilah ilusi kesalehan kolektif menemukan panggungnya.

Tasawuf mengajarkan bahwa nilai amal tidak terletak pada keramaiannya, tetapi pada kejernihan niatnya.  Jalaluddin Rumi, pernah mengingatkan bahwa Tuhan tidak melihat bentuk lahiriah kita, melainkan rahasia yang bergetar di dalam dada. Ramadan menyediakan panggung spiritual yang megah, tetapi panggung selalu berisiko melahirkan pertunjukan. Kita bisa saja khusyuk di saf terdepan, namun hati tetap berdiri di belakang dunia.

Kelebihan Ramadan sesungguhnya terletak pada arsitektur ilahiahnya. Ia adalah bulan yang melipatgandakan nilai kebaikan, membuka pintu ampunan, dan menebalkan sensitivitas ruhani. Puasa bukan sekadar menahan lapar; ia adalah proses takhalli—pengosongan diri dari kerak ego. Lapar mengikis kesombongan, haus melunakkan kerasnya ambisi, dan malam-malam panjang melatih jiwa untuk bersunyi.

Dalam tradisi tasawuf, perjalanan spiritual selalu melalui tiga tahap: takhalli (mengosongkan), tahalli (menghias dengan kebajikan), dan tajalli (tersingkapnya cahaya Ilahi). Ramadan adalah kurikulum lengkap untuk itu. Siang hari mengosongkan, malam hari menghias, dan pada puncaknya hati berpeluang menyaksikan kilau makna yang tak terucap.

Namun manusia sering tergelincir pada kulit, lupa pada inti.
Kita sibuk menghitung jumlah rakaat, tetapi jarang menghitung berapa kali hati kita benar-benar hadir. Kita bangga pada jadwal khatam, tetapi enggan menundukkan amarah di rumah dan tempat kerja. Kita meramaikan media sosial dengan simbol-simbol religius, tetapi membiarkan prasangka dan iri hati tetap tumbuh tanpa puasa.

Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din membagi puasa ke dalam beberapa tingkatan. Ada puasa orang awam—sekadar menahan makan dan minum. Ada puasa orang khusus—menahan pancaindra dari dosa. Dan ada puasa yang paling khusus—menahan hati dari selain Allah. Pada tingkatan terakhir inilah Ramadan menemukan makna terdalamnya. Bukan sekadar tubuh yang berlapar, tetapi ego yang ditundukkan.

Ilusi kesalehan kolektif terjadi ketika kita berhenti di tingkat pertama namun merasa telah mencapai puncak. Kita terpesona oleh atmosfer, bukan transformasi. Padahal kelebihan Ramadan bukan pada kemeriahan ritualnya, melainkan pada potensinya membongkar diri kita sendiri.

Kesalahan manusia bukan karena ia berdosa—sebab manusia memang tempat salah dan lupa. Kesalahannya adalah ketika ia merasa cukup dengan simbol, puas dengan suasana, dan enggan masuk ke ruang sunyi tempat ego harus dihadapkan pada cermin.

Ramadan sejatinya adalah bulan pembongkaran. Ia membongkar ketergantungan kita pada dunia, membongkar kebiasaan buruk yang kita pelihara, membongkar identitas palsu yang kita bangun. Tetapi pembongkaran selalu menyakitkan. Karena itu kita lebih suka merayakan daripada mereformasi.

Jika Ramadan hanya berhenti pada kesalehan kolektif yang riuh, maka ia menjadi festival spiritual musiman. Namun jika ia menembus hingga ke kedalaman jiwa, ia berubah menjadi revolusi batin yang sunyi.

Pada akhirnya, Ramadan tidak pernah salah. Ia tetap cahaya yang sama setiap tahun. Yang berubah-ubah adalah kesiapan kita menerimanya.
Maka biarkan Ramadan melukai kesombongan kita, agar cahaya itu benar-benar menemukan jalannya.

Ramadan bukan sekadar bulan suci. Ia adalah kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih jujur di hadapan Tuhan—dan lebih lembut di hadapan sesama. Dan di situlah kesalehan tidak lagi menjadi ilusi kolektif, melainkan kesadaran yang tumbuh dari kedalaman jiwa. (*)

Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban.”