Penulis: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salat Magrib baru saja usai. Langit masih menyisakan jingga yang tipis, seperti doa yang belum sepenuhnya naik ke langit. Dua orang nenek melangkah pelan keluar dari masjid. Punggung mereka sedikit bungkuk, tetapi ingatan dan rasa mereka tetap tegak.
“Suara imamnya bagus. Lantunan ayat-ayatnya merdu dan indah. Setiap ayat terasa menyentuh relung batin. Khusyuk rasanya,” ujar yang pertama, sambil menggenggam tas kecilnya erat-erat, seolah takut kehilangan sisa getar itu.
“Iya, benar,” sahut yang lain. “Tapi di hati saya ada yang mengganjal.”
Langkah mereka melambat. Di pelataran masjid, angin menyentuh dedaunan, seperti ikut mendengar percakapan yang sederhana namun dalam itu.
“Saya tak mendengar Bismillāhirraḥmānirraḥīm dilantunkan seperti ayat yang lain. Kenapa ia tidak dilagukan? Di mana ia? Ia seperti ditahan , dipenjara… … tidak dizahirkan.” Dinding masjid pasti merindukannya. Pepohonan di sekitar ini juga menunggunya.”
Kegelisahan itu bukan sekadar soal suara. Ia bukan semata perkara hukum jahr atau sirr dalam bacaan. Di dalam kegundahan sang nenek, tersembunyi kerinduan akan sesuatu yang lebih awal dari ayat, lebih lembut dari lagu, dan lebih dalam dari tajwid. Kerinduan pada pembukaan yang penuh kasih.
Bismillah adalah pintu. Ia bukan sekadar kalimat pembuka, melainkan nafas pertama dari segala yang suci. Di sana ada pengakuan bahwa segala sesuatu bermula dari Nama. Nama yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Nama yang mendahului murka, yang melampaui hitungan pahala dan dosa.
Ketika ia tak terdengar, sebagian hati merasa ada ruang yang kosong. Seperti rumah tanpa salam. Seperti surat tanpa sapaan dan pengantar.
Barangkali imam membacanya sirr, sesuai dengan pendapat yang ia yakini. Fikih memberi ruang bagi perbedaan. Tetapi batin jamaah—terutama mereka yang hidupnya telah lama ditempa sunyi dan kehilangan—seringkali tak hanya mencari sahnya bacaan. Mereka mencari kehadiran.
Di usia senja, suara bukan lagi sekadar bunyi. Ia adalah tanda. Ia adalah kepastian bahwa Tuhan masih disapa dengan kelembutan. Bahwa kasih masih disebut sebelum ayat-ayat perintah dan peringatan turun mengalun.
Kegelisahan sang nenek adalah kegelisahan tentang kasih yang seolah tak dinyatakan. Tentang rahmat yang tak diperdengarkan. Padahal hidup mereka barangkali telah terlalu sering keras, terlalu sering sunyi.
Masjid sore itu tetap kokoh. Dindingnya diam, tapi menyimpan gema ribuan Bismillah dari masa ke masa. Pepohonan di halamannya tetap berdiri, seolah menjadi saksi bahwa bukan hanya perjumpaan hukum dan suara, tetapi juga pertemuan rasa. Di antara sah dan indah, di antara benar dan menyentuh, manusia selalu merindukan keduanya bersatu.
Dua nenek itu akhirnya melangkah pulang. Senja makin redup. Namun kegelisahan mereka tinggal di serambi masjid, menjadi pertanyaan yang belum usai. Sudahkah kita benar-benar membebaskan Bismillah—bukan hanya dari lirihnya suara, tetapi dari penjara hati yang terlalu sibuk dengan bentuk dan lupa pada ruh?
Sebab pada akhirnya, yang dirindukan bukan sekadar bunyi. Yang dirindukan adalah kasih yang dizahirkan.
__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban.”