Penulis: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di zaman ini, segala sesuatu ingin segera selesai. Buku diringkas, video dipercepat, ilmu dipadatkan menjadi infografik.
Kita hidup di tengah lautan data yang tak pernah surut. Server berdengung, algoritma menghitung, notifikasi berdatangan tanpa jeda.
Namun firman Allah dalam Surah Al-Kahf ayat 109 berdiri seperti mercusuar di tengah gelombang itu:
“Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum selesai kalimat-kalimat Tuhanku…”
Ayat dalam Al-Qur’an ini adalah koreksi bagi kesombongan zaman. Kita mungkin merasa telah membaca banyak hal, menguasai berbagai disiplin, memahami algoritma kehidupan. Tetapi di hadapan kalimat-kalimat Tuhan, kita hanyalah pembaca yang tak pernah tamat.
Dunia yang Penuh, Jiwa yang Kosong
Secara lahir, dunia hari ini berlimpah pengetahuan. Secara batin, manusia sering kehausan makna. Kita tahu cara kerja mesin, tetapi gagap membaca diri. Kita hafal teori, tetapi asing dengan hikmah.
Dalam analisis sufistik, alam semesta adalah kitab terbuka. Setiap peristiwa adalah ayat. Setiap luka adalah tanda baca. Setiap kehilangan adalah paragraf yang menunggu dipahami. Namun kitab itu tidak pernah mencapai halaman terakhir.
Ibn Arabi menyebut alam sebagai al-kitab al-mansyur—kitab yang terbentang. Ia bukan buku yang bisa ditutup, melainkan samudra makna yang terus bergerak. Dan manusia, betapapun cerdasnya, hanya mampu mengeja sebagian kecilnya.
Ilmu dan Kerendahan Hati
Kita sering menyangka bahwa semakin banyak yang kita baca, semakin dekat kita pada kesimpulan akhir. Padahal ayat ini justru mengajarkan sebaliknya bahwa semakin luas lautan tinta, semakin tampak tak terhingganya kalimat Tuhan.
Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa ilmu sejati adalah yang menumbuhkan kerendahan hati. Ketika seseorang merasa telah “tamat”, saat itulah ia berhenti belajar. Dan berhenti belajar berarti menutup diri dari tajalli—penampakan sifat-sifat Allah dalam kehidupan.
Di era algoritma, manusia ingin segalanya terprediksi. Namun kalimat Tuhan tidak tunduk pada rumus mesin. Ia melampaui statistik, melampaui perhitungan. Takdir bukan baris kode yang bisa dibaca ulang. Ia adalah hikmah yang baru dipahami setelah dijalani.
Membaca dengan Hati
Menjadi “pembaca yang tak pernah tamat” bukanlah kutukan. Ia adalah anugerah. Sebab itu berarti selalu ada ruang untuk takjub. Selalu ada ayat baru dalam hidup yang menunggu direnungi.
Jalaluddin Rumi berkata, “Kemarin aku cerdas, ingin mengubah dunia. Hari ini aku bijak, ingin mengubah diriku.” Itulah perjalanan membaca yang sejati. Bukan sekadar menambah informasi, tetapi memperhalus jiwa.
Barangkali yang perlu kita ubah bukan kecepatan membaca, melainkan cara membaca. Bukan sekadar dengan mata, tetapi dengan hati. Bukan sekadar mengejar tamat, tetapi menikmati proses memahami.
Karena pada akhirnya, hidup ini bukan novel dengan epilog yang jelas. Ia adalah kitab Ilahi yang terus dituliskan. Lautan tinta boleh saja mengering. Peradaban boleh berganti. Teknologi boleh melampaui imajinasi.
Namun kita sebagai manusia yang penuh tanya, akan tetap menjadi pembaca yang tak pernah tamat.
Dan mungkin justru di situlah letak kemuliaan kita. (*)
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban.”
