๐ข๐น๐ฒ๐ต: ๐ฆ๐๐ณ ๐๐ฎ๐๐บ๐ฎ๐ป
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
๐๐ฐ๐ด๐ฆ๐ฏ ๐๐ข๐ฌ๐ถ๐ญ๐ต๐ข๐ด ๐๐ข๐ฌ๐ธ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐๐ฐ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ข๐ด๐ช ๐๐๐ ๐๐ญ๐ข๐ถ๐ฅ๐ฅ๐ช๐ฏ ๐๐ข๐ฌ๐ข๐ด๐ด๐ข๐ณ
SIANG itu, hujan membasahi Makassar. Namun, semangat orang-orang di jalan tak surutโsemua seolah bergerak menuju satu tujuan: mempersiapkan Lebaran.
Di tengah suasana itu, saya memacu kendaraan menuju Rumah Sakit Pelamonia. Sebelum menunaikan amanah tausiah bakda Zuhur di penghujung Ramadan ke-28, saya menepi sejenak di depan Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat.
Bukan karena kehabisan bensin, melainkan karena kepala mendadak penuh ideโdan, seperti tangki, perlu โdiisi ulang.โ
Di sela perjalanan, saya berhenti sejenak. Bukan hanya menarik napas, tetapi juga meracik kalimat agar tetap gurih dan renyah bagi pembaca Lensa Jurnalistik Islami. Sambil itu, saya mengamati para pengendara dengan wajah penuh determinasi, bak menuntaskan urusan terakhir sebelum gerbang Lebaran ditutup.
Sebagai penulis di Lensa Jurnalistik Islami, niat harus diluruskan sejak awal. Kedatangan ke rumah sakit bukan untuk โmenyerahkan diriโ ke ruang opname karena lemas berpuasa, melainkan memenuhi undangan Bapak H. Iskandar Basumbul untuk menyampaikan tausiah Zuhur.
Suasana terasa khidmatโpimpinan RS Pelamonia hadir hampir lengkap bersama jajarannya.
Usai tausiah, begitu kembali ke jalanan, suasana langsung berubah. Sepanjang perjalanan, mata ini seperti kamera tanpa tombol pauseโmenangkap potongan realitas yang terasa begitu nyata di tengah hiruk-pikuk menjelang Lebaran.
Rasanya seperti melakukan final approach menuju hari kemenangan, hanya saja โturbulensinyaโ bernama macet.
Menjelang Lebaran 2026, jalanan bukan lagi sekadar tempat berlalu-lalang, melainkan menjelma pusat perbelanjaan tanpa dindingโlengkap dengan diskon, teriakan penjual, dan parkir yang penuh perjuangan.
Di trotoar, penjual cangkang ketupat seakan โmengepungโ jalan. Jemari mereka lincah melipat janur, merajut harapan agar dagangan ludes sebelum takbir berkumandang.
Di sisi lain, ayam-ayam dalam keranjang menatap pasrah ke arah deretan songkok. Sebuah kontras yang sulit diabaikan: satu menunggu takdir menjadi opor, sementara yang lain bersiap tampil rapi untuk sujud di hari raya.
Tak jauh dari situ, perburuan baju baru berlangsung sengit di pasar hingga mal. Tradisi lama kembali hidup: tampil baru di hari yang fitri.
Namun, realitas sering kali justru menggelitik. Baju Lebaran belum tentu terbeli, tetapi toples kue sudah lebih dulu berjejer rapiโseperti pasukan elit yang siap tampil.
Kenari, nennuโ-nennuโ, beppa karoma dengan cita rasa โmanyameng na massadiduโ seolah memberi isyarat: urusan perut lebih cepat beres daripada urusan penampilan.
Kaleng Khong Guan pun tak pernah absenโdiam-diam menjadi โjebakan batman.โ Dibuka dengan harapan biskuit assorted, ternyata isinya kacipoโ. We ndoโe!
Urusan baju masih tertahan.
Rencana membeli pun kerap ditunda dengan kalimat sakral:
โTunggu THR cair.โ
Kalimat ini seperti mantra. Selama belum cair, semua rencana ditahanโseolah baju itu baru turun setelah ada wahyu finansial.
Begitu โwahyuโ itu turun, suasana berubah. Dari semula penuh penantian, kini menjadi penuh perhitungan.
Di titik itulah, ada satu peringatan kecil: saat membuka amplop THR nanti, harap tenang. Jangan sampai semangat lebih besar daripada teknik membukaโuangnya bisa ikut tersobek. Tragedi kecil yang kadang terasa lebih menyakitkan daripada lapar seharian.
Namun, di balik semua hiruk-pikuk itu, terselip pertanyaan yang lebih dalam. Saya teringat dialog sederhana antara ayah dan anak:
โKenapa Lebaran harus pakai baju baru?โ
โSupaya kita tampil lebih baik.โ
Anak itu kembali bertanya:
โKalau begitu, kenapa yang diperbaiki bajunya, bukan kelakuannya?โ
Ayahnya terdiam. Suasana berubahโdari ringan menjadi renungan.
Pada akhirnya, Lebaran menjadi ajang kumpul keluargaโdan tanpa disadari berubah menjadi sesi interogasi massal.
Persiapan mudik mungkin sudah 99% selesai. Tinggal satu persen yang belum: mental menghadapi pertanyaan yang selalu hadir setiap tahun.
Dan di antara semua itu, ada satu suara yang setia menunggu di ujung pertemuan:
โKapan nikah?โ
๐ฅ๐ฎ๐ฏ๐, ๐ฎ๐ด ๐ฅ๐ฎ๐บ๐ฎ๐ฑ๐ต๐ฎ๐ป ๐ญ๐ฐ๐ฐ๐ณ ๐/ ๐ญ๐ด ๐ ๐ฎ๐ฟ๐ฒ๐ ๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฒ
