Oleh: ๐‘บ๐’–๐’‡ ๐‘ฒ๐’‚๐’”๐’Ž๐’‚๐’

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hingga saat ini, saya masih keliling daerah menunaikan tausiah Maulid dan pengajian lainnya. Dari masjid ke masjid, dari desa ke desa. Kendaraan pun sampai hafal tugas gandanya: mengantar saya berdakwah sekaligus berburu BBM solar.

Belakangan, ada satu pemandangan yang konsisten menyambut perjalanan: antrean panjang di SPBU. Rupanya, fenomena ini bukan cuma terjadi di Makassar, tetapi sudah menjalar ke mana-mana. Panjangnya luar binasa, eh luar biasa.

Kalau antrean itu bebek, mungkin sudah punya dinasti, bertelur, beranak-pinak. Saking panjangnya, Warung Palekko pun mungkin tergoda buka cabang di pinggir SPBU.

Sejak BBM, khususnya solar, mulai bermasalah, saya punya strategi sendiri. Kalau mau mengisi solar, saya memilih mencari SPBU ke arah Gowaโ€“Takalar. Alhamdulillah, strategi ini lumayan jitu karena jalurnya relatif tidak dipadati truk dan bus.

Berbeda dengan arah Makassarโ€“Parepare yang ramai kendaraan besar menuju berbagai daerah, mulai dari Sulawesi Barat, Palu, Parepare, Palopo, Sorowako, Malili, hingga Morowali. Tidak heran kalau SPBU di jalur itu lebih padat; kendaraan besarnya saja ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ต๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฑรช๐˜ณรช, berbaris panjang.

Tetapi, di SPBU Gowa pun antrean tidak selalu mulus. Saya pernah menyaksikan sendiri, ketika sopir terlalu lama menunggu, mulailah keluar bakat-bakat ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ซ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ (menyerobot).

Satu mobil nekat maju mengambil posisi persis di depan kendaraan yang sedang mengisi BBM. Pengendara lain bukannya menegur, malah ikut merapat di belakangnya. Yang tadinya satu baris, mendadak mekar menjadi dua, lalu tiga baris. Antrean pun mulai berkembang biak.

Hasilnya? Semua kendaraan di area SPBU saling mengunci. Mobil depan tidak bisa maju, mobil belakang tidak bisa mundur, yang kiri dan kanan terkunci rapat. Semua ingin paling cepat, akhirnya ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ (terkancing)โ€”tidak ada yang bergerak sama sekali. Mau cepat, malah jadi lamban.

Lalu datanglah polisi. Begitu sosok berseragam cokelat muda itu muncul, beberapa pengendara langsung bertepuk tangan kegirangan. โ€œAlhamdulillah, sang penyelamat tiba!โ€

Polisi turun dengan penuh wibawa. Beliau mulai memberi arahan: โ€œYang ini mundur!โ€

Tidak bergerak.

โ€œYang sana maju!โ€

Sama saja, diam di tempat.

โ€œYang kiri geser!โ€

Tetap terkunci.

Akhirnya, mungkin dalam hati polisi berpikir: โ€œ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถโ€™โ€”ini saya sedang mengatur lalu lintas atau sedang mengatur pameran mobil?
Semua kendaraan sudah seperti pajangan, dipandang bisa, digerakkan tidak!โ€

Kendati berada di bawah kanopi pompa bensin, terlindung dari terik matahari, keringat Pak Polisi terus mengalir deras. Entah karena El Niรฑo ditambah panas mesin kendaraan. Musim kemarau memang serba salah: di rumah listrik mati, air bor tersendat; di luar, antrean BBM ikut memanaskan suasana.

Akhirnya Pak Polisi angkat tangan. Bukan memberi aba-aba, melainkan tanda menyerah. Beliau mundur, lalu berteduh sambil mengipas wajah dengan sapu tangan. Penonton yang tadi bertepuk tangan langsung melongo. Sang penertib antrean akhirnya ikut antre: antre teduh! Saya cuma bisa tertawa dari dalam mobil.

Tapi di balik tawa itu, ada keprihatinan. Percuma SPBU ditambah atau beroperasi sepanjang hari kalau stok BBM tetap kosong. SPBU-nya siap melayani, tetapi BBM-nya seperti punya jam kerja sendiri. Akhirnya, yang paling rajin bekerja bukan pompa bensin, melainkan kesabaran masyarakat.

Kita sudah 81 tahun merdeka, tetapi urusan mendapatkan BBM saja masih harus berjuang lewat antrean panjang. Rakyat menunggu, mudah-mudahan persoalan ini juga segera mendapat perhatian serius.

Dari panjangnya antrean, muncullah macam-macam spekulasi. Ada yang bilang panic buying, ada pula yang curiga jangan-jangan kelangkaan ini menjadi jalan halus untuk mendorong masyarakat beralih ke kendaraan listrik. Kalau benar begitu, bensin makin sulit dicari, tetapi alasan mengapa bensin sulit dicari justru gampang bermunculan.

Di sisi lain, pajak kendaraan terus menjadi beban, sementara harga Pertamax dan Dex makin tinggi. Rakyat akhirnya bingung: kendaraan lama berat dipelihara, kendaraan baru berat dibeli. Mau bertahan dengan kendaraan lama, dompet ngos-ngosan; mau pindah ke kendaraan baru, dompet bisa langsung sakaratil maut.

Akhirnya, yang antre bukan cuma kendaraan di SPBU. Pemiliknya ikut antre dalam kecemasan, sementara dompet sudah antre lebih dulu di ruang ICU keuangan.

Jika memang ada permainan di balik kelangkaan BBM, tentu kita berharap pihak berwenang segera membongkarnya. Bila keadaan terus begini, wajar ada warga berseloroh, โ€œSudah saatnya kita naik sepeda Polygon saja seperti di Jepang!โ€ Bedanya, di Jepang naik sepeda karena gaya hidup; di sini jangan-jangan karena isi bensin sudah bikin hidup bergaya prihatin.

Pada akhirnya, persoalan seperti ini mengingatkan kita bahwa kebijakan publik bukan sekadar soal angka dan laporan. Bagi rakyat, BBM bukan teori; ia dibutuhkan untuk mengantar anak, mencari nafkah, berdakwah, dan pulang ke rumah.

Atraksi di jalan pun belum selesai.

Tiga hari lalu saya melihat ambulans melaju dari Pangkep menuju Makassar. Sirene meraung, lampu berkedip. Tiba-tiba seorang pengendara motor melaju di depannya, bergerak ke kiri-kanan sambil berteriak, โ€œPinggir! Pinggir! Ambulans mau lewat!โ€

Awalnya saya kira dia sedang menjalankan aksi kemanusiaan, satu paket dengan ambulans. Setelah diperhatikan, ternyata ada misi pribadi: menjadikan ambulans sebagai pembuka jalan gratis untuk kabur dari kemacetan. Begitu celah terbuka, dia ikut melesat. ๐˜ž๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ค๐˜ค๐˜ข ๐˜ต๐˜ฐ!

Belum selesai. Di belakang ambulans, sebuah mobil pribadi ikut menyalakan hazard (lampu berkedip-kedip), seolah-olah pasien di dalam ambulans adalah keluarganya. Mobil itu menempel rapat, menikmati jalan yang mendadak terbuka. Namun, ketika ambulans kembali terjebak macet, mobil tersebut tiba-tiba mematikan hazard. Oh, ketahuan! Rupanya, hubungan kekeluargaannya hanya berlaku selama jalan masih lancar. Begitu macet datang, hubungan keluarga pun ikut bubar. Ternyata, itu cuma akal-akalan untuk menghindari kemacetan.

Bukan hanya satu mobil. Motor dan kendaraan lain pun ikut memanfaatkan celah yang dibuka ambulans. Akhirnya, ambulans di depan, rombongan kendaraan membuntuti di belakang. Jalan raya pun berubah menjadi iring-iringan pencari celah!

Di sinilah saya melihat, kemacetan ternyata bisa membuat akal manusia bekerja lembur. Begitu ada celah, kreativitas langsung munculโ€”bukan untuk mencari solusi, tetapi untuk mencari jalan kabur.

Uniknya, kita sering marah kalau orang lain menyerobot. Kalau kita sendiri melakukannya, bahasanya lebih halus: โ€œSaya cuma memanfaatkan kesempatan.โ€ Orang lain menempel ambulans disebut akal bulus. Kalau kita yang ikut? โ€œLho, saya kan cuma mengekor!โ€
Ini membuat saya bertanya: sebenarnya apa yang sedang macetโ€”jalanan, distribusi BBM, atau akal sehat kita?

Sebagai muballigh, saya melihatnya sebagai pelajaran akhlak. Krisis BBM jangan sampai berubah menjadi krisis kesabaran. Kendaraan memang butuh BBM untuk bergerak, tetapi kehidupan membutuhkan kejujuran dan rasa malu.

Ada saatnya kita berhenti, bukan karena tangki kosong, melainkan karena akal sehat menyuruh kita antre.

Sebab, SPBU bisa menjadi laboratorium terbuka: menguji panjang antrean dan pendeknya kesabaran. Stok BBM boleh terbatas, tetapi akal bulus jangan sampai tidak terbatas.

๐Ÿ๐Ÿ’ ๐’๐ž๐ฉ๐ญ๐ž๐ฆ๐›๐ž๐ซ ๐Ÿ๐ŸŽ๐Ÿ๐Ÿ” (๐’๐…)