Memperingati 354 tahun hari lahir La Patau Matanna Tikka 3 November 1672–3 November 2026

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Oleh Muhammad Sapri Andi Pamulu, Ph.D.

Ketua Umum PERWIRA LPMT

Mengenang La Patau Matanna Tikka berarti menengok masa ketika pengetahuan, hubungan politik, dan kehidupan budaya saling berjalin. La Patau, Raja/ Mangkau Bone ke-16, Ranreng Tuwa Wajo ke-17 dan Datu Soppeng ke-18 yang memerintah pada 1696–1714, lahir pada 3 November 1672.

Pada peringatan 354 tahun hari lahirnya, kita dapat membaca warisannya melalui tiga hal: catatan yang menjaga pengetahuan, diplomasi yang mengelola hubungan politik, serta budaya yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat dan hubungan antarkeluarga.

Membaca warisan sejarah memerlukan rasa hormat sekaligus kehati-hatian. Sumber sejarah memberi kita pijakan untuk memahami masa lalu, sementara penafsiran atas maknanya bagi masa kini perlu disampaikan secara proporsional.

Merawat pengetahuan melalui manuskrip

Salah satu sumber penting untuk memahami masa La Patau ialah Lontara Bilang, catatan harian yang mencakup periode Januari 1692 hingga September 1714. Naskah ini menjadi bahan bagi peneliti untuk menelusuri peristiwa dan kehidupan pada zamannya. Alih aksara dan penerbitannya oleh Perpusnas Press dan Yayasan Turikalengna turut membuka kesempatan bagi lebih banyak orang untuk membaca dan mengkajinya.

Dalam kerangka Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, manuskrip termasuk salah satu dari sepuluh Objek Pemajuan Kebudayaan. Kerangka hukum ini lahir jauh setelah masa La Patau; karena itu, ia digunakan di sini sebagai sudut pandang masa kini untuk mengenali dan merawat warisan, bukan sebagai istilah yang digunakan pada abad ke-17.

Merawat Lontara Bilang bukan hanya menyimpan naskah. Kita perlu menjaga bentuk dan riwayatnya, menelaah alih aksara serta konteksnya, dan mendorong penelitian yang terbuka. Naskah lama dapat memperkaya pemahaman kita, tetapi maknanya perlu dibangun melalui pembacaan yang teliti dan perbandingan dengan sumber lain. Warisan manuskrip juga mengingatkan bahwa pengetahuan memerlukan penerus.

Ketika generasi muda diberi kesempatan membaca, meneliti, dan mendiskusikan sumber sejarah, masa lalu tidak hanya menjadi cerita yang didengar, tetapi pengetahuan yang dapat dipahami dan diuji.

Diplomasi politik di tengah kepentingan yang beragam

Jejak diplomasi La Patau dapat ditelusuri melalui surat Raja Bone bersama Sira Daeng Talele Karaeng Ballajawa kepada Pemerintah Agung pada 1697. Dokumen yang dihimpun Arsip Nasional Republik Indonesia itu berkaitan dengan persoalan suksesi di Soppeng dan memperlihatkan penggunaan komunikasi tertulis dalam hubungan politik pada masa tersebut. Surat itu memberi gambaran tentang kepentingan yang perlu dikelola setelah wafatnya Arung Palakka.

Diplomasi pada masa itu tidak berlangsung di ruang yang bebas dari persaingan. Ada perbedaan kepentingan, persoalan suksesi, dan upaya menjaga hubungan politik. Karena itu, diplomasi La Patau lebih tepat dipahami sebagai kerja menghadapi keadaan nyata pada zamannya—melalui komunikasi dan strategi—daripada sebagai hubungan yang selalu tanpa ketegangan. Hubungan dengan kerajaan lain juga dijalin melalui perkawinan antarkeluarga.

Sumber sejarah lokal mencatat hubungan La Patau dengan keluarga kerajaan Luwu dan Gowa. Kajian tentang Tana’ Sempugi membahas perkawinan dinastik dan kekerabatan sebagai salah satu cara membentuk hubungan politik antarkerajaan di Sulawesi Selatan. Dalam tatanan kerajaan masa itu, ikatan keluarga dapat menjadi jembatan bagi hubungan politik yang lebih luas.

Budaya dalam kehidupan masyarakat dan hubungan kekerabatan

Warisan budaya tidak hanya tersimpan dalam naskah atau berlangsung di lingkungan istana. Ia juga terlihat dalam cara masyarakat mengelola ruang hidup, sumber air, pekerjaan bersama, dan hubungan antarkeluarga. Kajian arkeologi mengenai permukiman kuno Cenrana mencatat pembagian ruang pemerintahan, produksi, permukiman, dan tempat sakral.

Penelitian yang sama membahas sumur dan saluran air buatan yang berkaitan dengan irigasi, komunikasi, serta kebutuhan sehari-hari. Temuan tersebut memberi petunjuk tentang pengetahuan dan teknologi tradisional yang digunakan di lingkungan kerajaan dan masyarakat Cenrana.

Dalam kerangka Pemajuan Kebudayaan masa kini, pengetahuan tentang lingkungan dan pengelolaan air dapat dibahas sebagai pengetahuan tradisional, sementara sarana dan teknik pengelolaan air dapat dikaji sebagai teknologi tradisional. Adat istiadat juga menjadi bagian penting dari kerangka tersebut.

Namun, pengelompokan ini merupakan cara kita membaca bukti masa lalu dengan istilah masa kini; sumber yang tersedia menunjukkan bahwa praktik-praktik tersebut dikenal atau berlangsung pada masa yang dikaji, bukan bahwa semuanya bermula pada masa La Patau. Penelitian Cenrana turut mencatat peran kepala kampung dalam urusan air, gotong royong, pesta, dan hasil panen.

Catatan ini menunjukkan bahwa kehidupan budaya tumbuh dalam kebiasaan sehari-hari dan cara masyarakat mengatur kepentingan bersama. Dari sana, kita dapat melihat bahwa warisan budaya mencakup bukan hanya benda peninggalan, tetapi juga pengetahuan, tata kehidupan, dan hubungan sosial yang diwariskan.

Hubungan antarkeluarga dan kerajaan menjadi sisi budaya lain yang penting. Kajian sejarah tentang Tana’ Sempugi membahas asseajingeng—ikatan persaudaraan atau kekerabatan—yang terbentuk di antara kerajaan-kerajaan lokal. La Patau disebut sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam jaringan hubungan tersebut.

Dalam ingatan keluarga dan organisasi pewaris, jalinan ini terus dirawat melalui Sompunglolo. Sompunglolo dapat menjadi ruang untuk mengenali pertalian, mempertemukan generasi, dan menjaga silaturahmi. Nilainya pada masa kini tidak hanya terletak pada penelusuran asal-usul, tetapi juga pada kesediaan merawat hubungan dengan sikap saling menghormati. Dalam membicarakan jaringan tersebut, ketelitian tetap diperlukan.

Ikatan kekerabatan dan hubungan antarkerajaan tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa semua kerajaan merupakan satu pemerintahan atau memiliki batas yang sama dengan wilayah administratif Indonesia sekarang. Pembedaan ini membantu kita menghargai hubungan sejarah tanpa menarik kesimpulan yang melampaui sumber.

Warisan yang terus dirawat

Pengetahuan, diplomasi politik, dan budaya merupakan tiga sisi yang saling melengkapi dalam membaca warisan La Patau. Lontara Bilang menyediakan sumber untuk memahami kehidupan pada zamannya. Surat diplomatik memperlihatkan bagaimana hubungan politik dikelola di tengah kepentingan yang beragam.

Jejak permukiman Cenrana dan jaringan Tana’ Sempugi membantu kita melihat pengetahuan, teknologi, adat, serta kekerabatan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Memperingati hari lahir La Patau Matanna Tikka dapat menjadi kesempatan untuk merawat warisan itu secara nyata: menjaga dan mengkaji manuskrip, membuka ruang penelitian, mendokumentasikan pengetahuan serta praktik budaya, dan menghidupkan silaturahmi Sompunglolo.

Dengan demikian, penghormatan kepada tokoh sejarah berjalan bersama tanggung jawab terhadap sumber dan kebudayaan yang diwariskan. Sejarah bukan hanya cerita tentang masa lampau. Ia adalah pengetahuan yang kita jaga, hubungan yang kita pelajari, dan budaya yang kita rawat bersama.