KABARIKA.ID, MAKASSAR — Kedengarannya mirip film fiksi ilmiah. Namun, para ilmuwan di Tiongkok kini sedang mengembangkan ‘robot kehamilan’ pertama di dunia yang mampu mengandung bayi hingga cukup bulan dan melahirkan, layaknya seorang perempuan hamil kemudian melahirkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Para pakar yang mengerjakan proyek ini, robot humanoid tersebut akan dilengkapi dengan rahim buatan yang menerima nutrisi melalui selang.
Sebuah prototipe ‘robot kehamilan’ rencananya dirilis tahun depan, dengan harga jual sekitar 100.000 yuan atau sekitar Rp 225,9 juta.
Dr. Zhang Qifeng adalah arsitek dari proyek ambisius tersebut, sekaligus pendiri perusahaan Kaiwa Technology yang memproduksi ‘robot kehamilan’ itu.
Perangkat yang Qifeng bayangkan bukan sekadar inkubator, melainkan humanoid yang dapat mereplikasi seluruh proses kelahiran manusia, mulai dari konsepsi hingga persalinan.
Qifeng mengatakan, teknologi rahim buatan ini sudah dalam tahap matang dan kini perlu ditanamkan ke dalam perut robot, agar manusia sungguhan dan robot dapat berinteraksi untuk mencapai kehamilan.
Permasalahan Etika
Proyek ini mendapat sorotan dari para ahli etika. Mengenai masalah etika dan hukum, Qifeng mengaku telah mendiskusikannya dengan pihak berwenang di daerahnya.
“Kami telah mengadakan forum diskusi dengan pihak berwenang di Provinsi Guangdong dan mengajukan proposal terkait, sambil membahas kebijakan dan peraturan perundang-undangan,” ujar Qifeng.
Perkembangan ini mengingatkan kita pada film The Pod Generation yang dirilis tahun 2023, di mana raksasa teknologi menawarkan pasangan pilihan untuk menggunakan rahim buatan yang dapat dilepas atau “pod” untuk berbagi kehamilan.
Sejauh ini para ahli belum memberikan penjelasan spesifik tentang bagaimana sperma dan sel telur dibuahi kemudian ditanamkan ke dalam rahim buatan.
Berita tentang perkembangan ini yang merupakan wawancara Qifeng, memicu diskusi sengit di media sosial Tiongkok, terutama di Duoyin dan TikTok versi Tiongkok.
Para kritikus mengecam teknologi tersebut sebagai teknologi yang bermasalah secara etika dan tidak alami.
Banyak yang berpendapat bahwa menghilangkan koneksi maternal janin adalah tindakan kejam, sementara muncul pertanyaan tentang bagaimana sel telur akan diperoleh untuk proses tersebut.
Mendapat Dukungan
Meskipun mendapat kritikan dari sudut pandang etika, namun banyak pula yang mendukung inovasi teknologi ini. Mereka menganggapnya sebagai cara untuk menyelamatkan perempuan dari penderitaan terkait kehamilan.
“Banyak keluarga mengeluarkan biaya yang signifikan untuk inseminasi buatan namun gagal, sehingga pengembangan robot kehamilan berkontribusi bagi masyarakat,” ujar seorang penulis yang dianomimkan.
Domba Prematur dalam Rahim Buatan
Sebelumnya, para ilmuwan telah berhasil menjaga domba prematur tetap hidup selama berminggu-minggu menggunakan rahim buatan yang tampak seperti kantong plastik.
“Biobag” menyediakan semua yang dibutuhkan janin untuk terus tumbuh dan berkembang, termasuk suplai darah yang kaya nutrisi dan kantung pelindung cairan ketuban.

Setelah 28 hari berada di dalam kantong alias ‘rahim buatan’, bayi domba-domba tersebut telah bertambah berat badan dan tumbuh bulu.
Meskipun kantong bio berfungsi seperti inkubator, yang memungkinkan individu prematur tumbuh di lingkungan yang mirip dengan rahim, para ilmuwan berharap ‘robot kehamilan’ ini akan mampu mendukung janin dari pembuahan hingga persalinan.
Reaksi dari Aktivis Feminis
Sejak tahun 1970-an, aktivis feminis seperti Andrea Dworkin, telah menentang keras penggunaan ‘rahim buatan’ dengan alasan bahwa hal itu dapat menyebabkan “akhir dari perempuan”.
Perempuan sudah memiliki kekuatan untuk melenyapkan laki-laki dan dalam kebijaksanaan kolektif mereka telah memutuskan untuk mempertahankannya,” tulis Dworkin pada 2012 silam.
Pertanyaan sebenarnya sekarang adalah, akankah laki-laki, setelah rahim buatan disempurnakan, ingin mempertahankan perempuan?
Pada 2022, sekelompok peneliti dari Rumah Sakit Anak Philadelphia –yang telah mengembangkan ‘rahim buatan’– menerbitkan sebuah artikel tentang pertimbangan etis teknologi.
Para peneliti menulis: “Kekhawatirannya adalah hal ini dapat menyebabkan devaluasi atau bahkan patologisasi kehamilan, dan dapat mengurangi pengalaman perempuan dalam mendapatkan makna, pemberdayaan, dan pemenuhan diri dari aspek unik biologi perempuan ini.”
Rahim buatan, seperti konsep yang dipamerkan oleh Universitas Eindhoven pada 2019, memungkinkan seorang anak dibesarkan tanpa ibu kandung.

Namun, sebuah survei yang dilakukan awal tahun ini menunjukkan 42 persen orang berusia 18–24 tahun mengatakan, mereka akan mendukung teknologi untuk “mengembangkan janin sepenuhnya di luar tubuh perempuan”.
Perkembangan ini mengingatkan pada film The Pod Generation yang dirilis tahun 2023, di mana raksasa teknologi menawarkan pilihan kepada pasangan untuk menggunakan ‘rahim buatan’ yang dapat dilepas atau ‘pod’ untuk berbagi kehamilan.
Bantu Atasi Infertilitas
Jika terwujud, ‘kehamilan humanoid’ ini dapat dianggap sebagai alat untuk membantu mengatasi meningkatnya angka infertilitas di Tiongkok.
Laporan menunjukkan angka infertilitas di Tiongkok meningkat dari 11,9 persen pada 2007 menjadi 18 persen pada 2020.
Sebagai tanggapan, pemerintah daerah di Tiongkok memasukkan perawatan inseminasi buatan dan fertilisasi in vitro dalam pertanggungan asuransi kesehatan untuk mendukung persalinan bagi pasangan infertil.
Kelahiran Prematur dan Risikonya bagi Bayi
Sekitar 10 persen dari seluruh kehamilan di seluruh dunia mengakibatkan persalinan prematur, yaitu persalinan sebelum usia kehamilan 37 minggu.
Ketika ini terjadi, tidak semua organ bayi, termasuk jantung dan paru-paru, akan berkembang. Mereka juga bisa kekurangan berat badan dan lebih kecil.
Tommy’s, sebuah badan amal di Inggris, mengatakan ini bisa berarti bayi yang disebut prematur belum siap untuk hidup di luar rahim.
Kelahiran prematur merupakan penyebab kematian neonatal terbesar di AS dan Inggris.
Bayi yang lahir prematur menyumbang sekitar 1.500 kematian setiap tahun di Inggris. Di AS, kelahiran prematur dan komplikasinya menyumbang 17 persen dari kematian bayi.
Bayi yang lahir prematur sering kali dibawa ke unit perawatan intensif neonatal, tempat mereka dirawat 24 jam.
Bagaimana peluangnya untuk bertahan hidup?
– Kurang dari 22 minggu hampir tidak memiliki peluang bertahan hidup.
– 22 minggu, sekitar 10%,
– 24 minggu, sekitar 60%,
– 27 minggu, sekitar 89%,
– 31 minggu, sekitar 95%, dan
– 34 minggu setara dengan bayi yang lahir cukup bulan. (rus)
