Mengurus Taman Budaya Benteng Somba Opu yang Cenderung Tak Terurus

Wawancara Khusus dengan Kepala UPT Taman Budaya Benteng Somba Opu Sulsel, Yessy Y Ariestiani

Berita1053 Dilihat

KABARIKA.ID, MAKASSAR – Pengurus Pusat IKA Unhas, Yessy Yoanna Ariestiani mendapat amanah sebagai Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Budaya Benteng Somba Opu. Ia bertugas menjadikan kawasan Taman Budaya Benteng Somba Opu menjadi etalase pariwisata dan budaya Sulawesi Selatan.

Sekretaris Divisi Pengembangan dan Pemberdayaan Pemuda PP IKA Unhas ini akan menjadikan kawasan Taman Budaya Benteng Somba Opu sebagai kebanggaan masyarakat Sulsel.

Benteng Somba Opu adalah rekonstruksi benteng abad ke-16 yang pernah menjadi benteng Kesultanan Gowa. Benteng ini erada di pesisir Gusung Sarombe, Kecamatan Barombong, kota Makassar.

Benteng Somba Opu ini berada di kawasan Taman Budaya Benteng Somba Opu yang berada di kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa.

Di antara kesibukan mengatur dan menata kawasan taman budaya Benteng Somba Opu, Yessy, sapaan akrab ibu muda yang enerjik menerima KABARIKA untuk wawancara.

Kabarika: Selamat atas tugas baru sebagai Kepala UPT. Keberadaan Taman Budaya Benteng Somba Opu cenderung terbengkalai. Langkah awal yang Anda lakukan?

Yessy: Menerima amanah ini menjadi sesuatu hal yang luar biasa dan tentunya harus berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan tugas dengan baik. Taman Budaya Benteng Somba Opu saat ini memang terlihat tertinggal dengan banyaknya sarana prasarana yang rusak dan butuh perhatian. Hal pertama yang saya lakukan adalah mengidentifikasi kawasan taman budaya, aset dan bangunan juga faktor lingkungan dan sosial kemasyarakatan.

Kabarika: Bagaimana bayangan Anda tentang taman budaya Benteng Somba Opu saat pertama kali menerima penugasan?

Yessy: Bayangan saya bahwa tempat tersebut adalah miniatur Sulawesi Selatan dengan banyaknya variatif rumah adat dari kabupaten/kota dan itu betul. Hanya saja lokasinya kurang terpelihara dan juga bangunannya perlu perhatian agar kembali menarik sehingga orang dari luar daerah bahkan dari mancanegara mau berkunjung.

Salah satu rumah adat milik pemerintah kabupaten butuh perbaikan.

Kabarika: Apa yang menjadi prioritas untuk dibenahi setelah mengetahui persoalan di lapangan?

Yessy: Prioritas adalah pembenahan dan pemeliharaan rumah-rumah adat serta penanganan kebersihan.

Kabarika: Bagaimana kondisi rumah-rumah adat?

Yessy: Banyak yang seperti tidak terurus. Contohnya rumah adat pangkep yang ternyata sudah habis terbakar beberapa tahun lalu. Tetapi di sisi lain, kami juga melakukan komunikasi dengan kabupaten/kota dan rata-rata mereka tidak memiliki anggaran yang memadai untuk melakukan pemeliharaan, apalagi anggaran tiga tahun terakhir terserap untuk penanganan covid-19.

Atap salah satu rumah adat yang rusak parah. Saat hujan, air menetes ke dalam rumah adat.

Kabarika: Bagaimana perhatian pemilik atau kabupaten selama ini?

Yessy: Responnya bagus, cuma beberapa mengakui ada keterbatasan anggaran dalam hal pemeliharaan rumah adat di taman budaya benteng somba opu. Pagar-pagar rumah adat banyak yang rusak.

Kabarika: Bagaimana mensinergikan kabupaten sebagai pemilik rumah adat dengan UPT.

Yessy: Kami melakukan kunjungan ke kabupaten/kota untuk mendiskusikan program yang dilaksanakan di taman budaya benteng somba opu dan jg sinergi dalam pemeliharaan rumah adat, sejauh ini bagus. Hanya saja kembali bahwa saat ini pemeliharaan rumah adat tidak menjadi prioritas beberapa kabupaten.

Kabarika: Bagaimana sosial kultur masyarakat yang ada di sekitar Benteng Somba Opu?

Yessy: Hmmm kalau ini mungkin cukup rumit ya… masyarakatnya baik dan bersahabat tetapi di sisi lain kami berharap bisa bekerjasama bersama warga untuk tetap memelihara kebersihan dan kenyamanan di taman budaya Benteng Somba Opu. Dan ini membutuhkan kolaborasi dengan RT/RW, lurah dan camat setempat.

Kabarika: Apakah ada masyarakat yang tinggal atau bermukim di dalam kawasan Benteng Somba Opu?

Yessy: Saat ini ada

Kabarika: Setelah mengetahui persoalan yang ada, butuh waktu berapa lama sehingga Benteng Somba menjadi destinasi?

Yessy: Tentunya kami berharap secepatnya.

Kabarika: Bagaimana dengan perhelatan budaya? Kapan bisa dimulai.

Atap bagian depan rumah adat yang hampir roboh.

Yessy: Perhelatan budaya tetap kami laksanakan dengan kondisi seadanya. Baru saja digelar di awal Juni pameran seni rupa, di pertengahan Juli ada workshop seni dan tari daerah dan bulan Oktober nanti sebagai rangkaian hari jadi kami akan menggelar festival budaya daerah Sulawesi Selatan yang akan mengundang 24 kabupaten/kota.

Kabarika: Apa harapan Anda terhadap masyarakat Sulsel, terutama yang berada di sekitar lokasi.

Yessy: Harapannya agar tetap sipakatau saling menghargai dan senantiasa berkoordinasi dengan kami selaku pengelola kawasan taman budaya, jaga kebersihan, jaga ketertiban dan tidak merusak aset yang ada.

Kabarika: Terhadap Pemerintah, Pemprov Sulsel dan Pemkab Gowa?

Yessy: Taman budaya berharap bisa selalu berkobalorasi dengan pemerintah kabupaten/kota dan juga ingin mendapat dukungan terus menerus dari Pemprov Sulsel. Jika taman budaya Benteng Somba Opu kembali bangkit tentu akan membawa dampak yang baik bagi kemajuan budaya dan pariwisata di sulawesi selatan.

Kabarkika: Di Kepengurusan Pusat IKA Unhas, Anda berada pada posisi Sekretaris Divisi Pengembangan dan Pemberdayaan Pemuda. Apa harapan yang bisa dikolaborasikan dengan UPT maupun keberadaaan Benteng Somba Opu secara keseluruhan?

Yessy: Tentunya kepemudaan dan kebudayaan seyogyanya berjalan bersama. Pemuda yang berbudaya adalah warisan terbaik.

Kabarika: Terimakasih banyak atas waktunya. Semoga sehat dan sukses melaksanakan amanah ini.

Yessy: Ahsiyap, terimakasih doanya. semoga Kabarika sukses. (esteh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *