PERISTIWA SEJARAH HARI INI, 20 Mei: Organisasi Boedi Oetomo Berdiri dan Presiden Soeharto Memilih Mundur

Berita696 Dilihat

KABARIKA.ID, MAKASSAR – Dua peristiwa sejarah yang terjadi pada 20 Mei memiliki makna yang monumental dalam perjalanan dan perkembangan negara dan bangsa Indonesia.

Berdirinya organisasi Boedi Oetomo yang diprakarsai oleh siswa STOVIA dan bergerak di bidang pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan membuka jalan bagi perkembangan Indonesia ke arah yang lebih baik dan modern.

Tanggal 20 Mei 1998, 25 tahun yang lalu, merupakan titik balik dalam kehidupan perpolitikan di Indonesia. Karena terdesak oleh tuntutan massa dan tidak adanya dukungan dari tokoh masyarakat terhadap rencana Presiden Soeharto untuk membentuk Komite Reformasi, maka tidak ada pilihan lain kecuali memenuhi tuntutan para demonstran, yakni mundur dari jabatannya sebagai Presiden RI setelah berkuasa lebih dari tiga dekade.

20 Mei 1908 – Organisasi Boedi Oetomo Berdiri

Peringatan hari kebangkitan nasional (Harkitnas) setiap tanggal 20 Mei, mengacu pada tanggal berdirinya organisasi Boedi Oetomo (BO) pada 20 Mei 1908 di Batavia atau Jakarta.

Boedi Oetomo didirikan oleh beberapa siswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) atau sekolah dokter untuk bumiputera, yang menjadi cikal-bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI).

Mahasiswa STOVIA pendiri dan anggota organisasi Boedi Oetomo. (Foto: kemdikbud.go.id)

Beberapa tokoh pendiri Boedi Oetomo antara lain Soetomo dan Soeraji Tirtonegoro, Goenawan Mangoenkoesoemo. Pendirian Boedi Oetomo dapat diwujudkan berkat gagasan Wahidin Soedirohoesodo.

Boedi Oetomo dikenal sebagai organisasi yang berperan besar dalam membangkitkan semangat perjuangan bangsa menuju kemerdekaan.

Tujuan organisasi Boedi Oetomo adalah untuk menjamin kehidupan sebagai bangsa yang terhormat. Fokus pergerakan Boedi Oetomo adalah dalam bidang pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan.

Organisasi Budi Utomo bersifat sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Susunan kepengurusan organisasi Boedi Oetomo adalah:

Ketua: R. Soetoemo,
Wakil Ketua: M Soelaiman,
Sekretaris I: Soewarno,
Sekretaris II: M Goenawan Mangoenkoesoemo,
Bendahara: R Angka.

Boedi Oetomo punya peran penting dalam mengawali era pergerakan nasional sebelum kemunculan beberapa organisasi lainnya, seperti Indische Partij (IP), Sarekat Islam (SI), dan lain-lain.

Ide penetapan Hari Kebangkitan Nasional muncul dua tahun setelah Indonesia merdeka. Pada 1947, Belanda melancarkan agresi militer yang mengakibatkan terjadinya gejolak sosial, politik, dan ekonomi.

Tidak lama kemudian, muncul pihak oposisi pemerintah yang dipimpin oleh Amir Sjarifuddin bernama Front Demokrasi Rakyat.

Dari masalah-masalah yang muncul tersebut, Presiden Soekarno menilai diperlukan adanya suatu simbol untuk mempersatukan bangsa. Karena besarnya pengaruh pergerakan Boedi Oetomo dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, Presiden Soekarno pada 20 Mei 1948 menetapkan hari kelahiran Budi Utomo sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Presiden Soekarno yang menilai bahwa organisasi Boedi Oetomo merupakan tonggak awal dari kebangkitan bangsa Indonesia.

Penetapan Hari Kebangkitan Nasional dengan merujuk pada hari lahir organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur, disahkan pada 16 Desember 1959.

Tema Hari Kebangkitan Nasional 2023

Tema peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-115 tahun 2023 ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Menkominfo RI) Nomor 241/M.KOMINFO/HM.04.01/05/2023. Tema Hari Kebangkitan Nasional 2023 adalah “Semangat untuk Bangkit”.

Logo dan tema peringatan HUT ke-115 Hari Kebangkitan Nasional 2023. (Foto: kominfo)

 

Tema tersebut dipilih agar Hari Kebangkitan Nasional dapat melambangkan nilai-nilai semangat dan kekuatan untuk bangkit menuju masa depan Indonesia yang lebih baik. (rus)

20 Mei 1998 – Presiden Soeharto Memilih Mundur

Sejak mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR pada 18 Mei 1998, situasi dan kondisi politik di Jakarta sudah mulai genting. Dinamika sosial politik berubah cepat dari jam ke jam. Fokus perhatian para demonstran maupun rakya di seluruh Indonesia adalah keputusan yang bakal diambil oleh Presiden Soeharto dalam menyikapi perkembangan politik yang sudah sangat tidak kondusif.

Usai Magrib, perwakilan dari 47 senat mahasiswa perguruan tinggi seluruh Indonesia berdialog dengan Pimpinan DPR. Mereka meminta kepastian kapan Presiden Soeharto akan mengundurkan diri.

“Ssecepatnya, mungkin Jumat, tergantung Presiden,” ujar Harmoko, Ketua DPR/MPR saat itu.

“Kalau sampai Jumat tak ada tanggapan, pimpinan Majelis akan mengundang pimpinan fraksi untuk membahas kemungkinan diadakannya Sidang Umum Istimewa MPR,” kata Harmoko lagi.

Situasi tegang terus berjalan seiring dengan waktu. Pukul 20.00 WIB, sebanyak 14 menteri di bawah Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri Ginandjar Kartasasmita, menyampaikan surat kepada Presiden Soeharto. Intinya, mereka tidak bersedia duduk dalam Kabinet hasil reshuffle alias kocok ulang.

Presiden Soeharto berencana membentuk Komite Reformasi, naun tokoh yang diharapkan bergabung justru semuanya menolak. (Foto: kompas.com)

Selang satu jam kemudian, tepatnya pukul 21.00 WIB, Cak Nur (Nurcholish Madjid-Red) dihubungi oleh Menteri Agama Dr. Quraish Shihab. Menag meminta kepastian agar Cak Nur mau menerima tawaran Presiden Soeharto untuk menjadi Ketua Komite Reformasi. Namun, Cak Nur tetap menolak.

Tak hanya itu, dari 45 orang yang dihubungi untuk menjadi anggota Komite Reformasi, hanya tiga orang yang bersedia. Quraish Shihab kemudian mengontak Presiden Soeharto tentang sikap penolakan dari Cak Nur.

“Ya sudah, mundur saja,” ujar Soeharto.

Quraish Shihab kaget dan bertanya apa alasannya. “Kalau Cak Nur yang moderat saja tidak mau, tak ada pilihan lain kecuali saya mundur,” jawab Soeharto.

Pukul 22.30 WIB, para pimpinan DPR mendapat telepon dari ajudan presiden bahwa mereka akan diterima di Istana Negara pada Kamis pukul 08.30 WIB. Sejak saat itu, tersiar kabar bahwa Presiden Soeharto akan segera mengundurkan diri. (rus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.