Kementerian Luar Negeri Pastikan Tidak Ada WNI yang Jadi Korban Gempa di Maroko

Berita485 Dilihat

KABARIKA.ID, MAKASSAR – Tiga hari pasca terjadinya gempa bumi di Maroko, Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu) memastikan tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban gempa berkekuatan magnitudo 6,8 itu.

Berita baik itu disampaikan oleh Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia, Judha Nugraha, pada perbincangan dengan RRI Pro 3 Jakarta, Minggu malam (10/09/2023).

Menurut Judha, pihak Kemlu tetap memantau kondisi WNI di Maroko sejak terjadinya gempa pada Jumat (8/9/2023). Komunikasi dengan Kedutaan Besar RI (KBRI) di Rabat, ibu kota Maroko, serta masyarakat Indonesia di sana terus berlangsung.

Termasuk di dalamnya 70 anggota delegasi Indonesia yang mengikuti kegiatan International Conference on Unesco Global Geopark di Marrakesh.

“Semuanya terpantau aman, meskipun ada satu orang luka ringan tetapi kondisinya tidak mengkhawatirkan,” ujar Judha.

Menurut Judha, jumlah WNI yang tinggal di Maroko tercatat sebanyak 500 orang. Mereka diharapkan untuk melaporkan sanak keluarganya yang belum mendatakan diri kepada KBRI Rabat.

“Kami mengantisipasi bila ada WNI yang tidak melakukan lapor diri sehingga datanya tidak tercatat di KBRI,” uja nya.

Judha mengatakan, WNI yang belum melaporkan diri dapat langsung menghubungi hotline KBRI Rabat di nomor +212661095995.

Pernyataan senada dikemukakan oleh Duta Besar Indonesia untuk Maroko, Hasrul Azwar yang memastikan tidak ada WNI yang menjadi korban dalam gempa bumi di Maroko tersebut.

Dubes Indonesia untuk Maroko Hasrul Azwar. (Foto: rri.co.id)

“Sejauh ini tidak ada warga negara Indonesia yang menjadi korban. Lokasi gempa jauh dari perkotaan dan tempat wisata,” kata Hasrul Azwar.

Gempa bumi yang melanda pegunungan High Atlas di Maroko merusak bangunan bersejarah di Marrakesh, kota terdekat dengan pusat gempa.

Sementara sebagian besar korban jiwa dilaporkan berada di wilayah pegunungan selatan di provinsi Al-Haouz dan Taroudant.

Menurut Dubes Hasrul Azwar, di desa pegunungan Tafeghaghte dekat pusat gempa, hampir tidak ada bangunan yang masih berdiri. Batu bata tanah liat tradisional yang digunakan penduduk Berber di wilayah tersebut, terbukti tidak mampu menghadapi gempa yang jarang terjadi ini.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,8 di negara Afrika Utara tersebut menewaskan tak kurang dari 2.012 jiwa warga setempat.

Gempa di Lempeng Afrika

Berdasarkan laporan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) seperti dilansir Ground Report, gempa terjadi karena sesar miring terbalik. Yaitu, di kedalaman dangkal sekitar 18,5 Kilometer di dalam pegunungan High Atlas.

Laporan awal lokasi gempa bumi di Maroko dengan magnitudo 6,8, pada Jumat malam (8/09/2023). (Foto: Seismik Nasional Maroko)

Massa batuan bergerak turun pada jenis sesar tersebut, sehingga menyebabkan sebagian batuan juga bergerak dalam arah horizontal.

USGS menyebut gempa Maroko terjadi di lempeng Afrika. Yaitu, di sekitar 550 kilometer sebelah selatan batas lempeng antara lempeng Afrika dan Eurasia.

Menurut USGS, gempa dengan magnitudo 6,8-7,3 ini tidak biasa. Tetapi, bukan pula hal yang tidak terduga.

USGS mengatakan, gempa sebesar itu tidak diperkirakan terjadi di wilayah tersebut dan memang jarang terjadi. Pada tahun 1960, gempa berkekuatan magnitudo 5,8 pernah terjadi dekat Kota Agadir, Maroko.

Saat itu, gempa magnitudo 5,8 Maroko menyebabkan ribuan kematian dan perubahan aturan konstruksi bangunan.

Hari Berkabung Nasional

Raja Maroko Mohammed VI memerintahkan angkatan bersenjata untuk memobilisasi tim pencarian dan penyelamatan khusus dan menyerukan pendirian rumah sakit bedah lapangan.

Raja Maroko Mohammed VI juga menetapkan masa berkabung nasional selama tiga hari, mulai Sabtu (9/9/2023).

“Kerajaan Maroko menetapkan tiga hari masa berkabung nasional. Bendera nasional akan dikibarkan setengah tiang,” bunyi keterangan Kerajaan Maroko, seperti dilansir dari laman Aljazeera, Sabtu (9/9/2023).

Selain itu, Raja Maroko juga memerintahkan penyediaan bantuan kepada semua warga yang kehilangan tempat tinggal. Dia juga memerintahkan pembentukan Komite Antar-Kementerian bertugas mempersiapkan program rekonstruksi semua rumah warga yang rusak berat di daerah terdampak gempa. (*/rus)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *