KABARIKA.ID, MAKASSAR – Di tengah bayang-bayang ancaman El Nino yang diprediksi melanda pada 2026, Indonesia membuktikan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar wacana.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Inflasi pangan yang kini terkendali di angka 3,28 persen, di bawah target maksimal 3,5 persen, menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi lintas sektor mampu menjaga stabilitas pasokan dan harga di tengah tekanan iklim global.
Ini ditegaskan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat menghadiri rangkaian kegiatan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Wilayah Sulampua Tahun 2026 di Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar, Jumat (23/10/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum penguatan sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan dalam menjaga ekosistem pangan berkelanjutan.
“Pertahanan sejahtera, inflasi terkendali. Alhamdulillah sekarang di bawah 3,5 persen. Target maksimal 3,5, sekarang 3,28,” ujar Mentan Amran usai kegiatan.
Menghadapi tantangan iklim, Mentan menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. El Nino yang diprediksi melanda pada 2026 telah diantisipasi melalui berbagai langkah strategis, sehingga Indonesia optimistis mampu menghadapinya.
“Sudah kita atasi dengan kondisi itu. Yang jelas, ini swasembada pangan beras berkelanjutan, Insya Allah. Harus kita bekerja bersama-sama, kolaborasi,” tegasnya.
Ia juga menyoroti delapan komoditas pangan strategis yang kini dalam kondisi stabil dan terkendali, yakni beras, jagung, gula, ayam, telur, bawang, cabai merah dan besar.
“Delapan komoditas ini sudah terkendali,” imbuh Mentan. (*)
