KABARIKA.ID, MAKASSAR– Alumni Kehutanan Universitas Hasanuddin turut mendampingi kunjungan Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, di Sulawesi Selatan pada 18–19 Oktober 2026. Kunjungan ini berlangsung di Kabupaten Maros dan Kampus Universitas Hasanuddin, Tamalanrea, sebagai bagian dari upaya memperkuat kolaborasi dalam pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari program SETAPAK 4, yang didanai oleh Pemerintah Inggris melalui Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO) dan dijalankan oleh The Asia Foundation (TAF) bersama Pilar Nusantara (PINUS) Sulawesi Selatan serta Tim Layanan Kehutanan Masyarakat (TLKM).

Dalam rangkaian kunjungan di Kabupaten Maros, Ridwan, S.Hut., M.Sc., alumni Kehutanan Universitas Hasanuddin, mendampingi Duta Besar Inggris untuk melihat secara langsung pelaksanaan sejumlah program di tingkat tapak. Pada kesempatan tersebut, Ridwan memaparkan tiga fokus program yang dilaksanakan di Maros, yaitu pengelolaan ekosistem karst, Perhutanan Sosial, dan EFT.

Selain memberikan penjelasan mengenai program, Ridwan juga mendampingi kunjungan lapangan untuk memperlihatkan hasil pendampingan terhadap Kelompok Tani Hutan (KTH) di Kabupaten Maros. Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung berbagai upaya yang dilakukan dalam memperkuat kapasitas masyarakat, mendorong pengelolaan hutan secara berkelanjutan, serta meningkatkan manfaat sumber daya alam bagi masyarakat setempat.

Rangkaian kunjungan kemudian berlanjut ke Kampus Universitas Hasanuddin di Tamalanrea. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memperluas pertukaran pengetahuan dan memperkuat hubungan antara para pemangku kepentingan, termasuk perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, pendamping masyarakat, dan mitra pembangunan internasional.

Keterlibatan alumni Kehutanan Universitas Hasanuddin dalam kunjungan ini menunjukkan pentingnya peran sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang kehutanan dalam mendukung pelaksanaan program di tingkat tapak. Pengalaman tersebut juga menjadi jembatan antara kebijakan, pelaksanaan program, dan kebutuhan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan.

Melalui kunjungan ini, diharapkan kolaborasi antara Pemerintah Inggris, The Asia Foundation, PINUS Sulawesi Selatan, TLKM, perguruan tinggi, dan para pemangku kepentingan lainnya dapat terus diperkuat. Sinergi tersebut diharapkan mampu mendukung pengelolaan ekosistem karst, pengembangan Perhutanan Sosial, serta pemberdayaan masyarakat sekitar hutan secara berkelanjutan di Sulawesi Selatan. (*)