KABARIKA.ID – PT Pupuk Indonesia (Persero) membangun infrastruktur irigasi dan sumur bor di lima daerah untuk membantu petani mengatasi keterbatasan air, terutama di lahan tadah hujan yang rentan mengalami kekeringan saat musim kemarau.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Melalui Program Mata Air Indonesia yang dijalankan bersama Rabu Biru Foundation, Pupuk Indonesia menghadirkan fasilitas pengairan di Gunungkidul, Grobogan, Pacitan, Sampang, dan Kupang. Salah satu proyeknya berada di Kelurahan Mertelu, Gunungkidul, Yogyakarta, yang diresmikan Sabtu (24/10/2026), dengan fasilitas irigasi untuk mengairi 28 hektare lahan pertanian dan membantu 93 petani.

Pembangunan infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat produktivitas pertanian di wilayah yang selama ini bergantung pada curah hujan. Selain menyediakan sumber air, program ini juga memberikan pendampingan kepada petani agar pemanfaatan fasilitas pengairan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan bahwa ketersediaan air menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan usaha pertanian. Menurutnya, penggunaan pupuk dan potensi lahan yang baik tidak akan memberikan hasil maksimal apabila tanaman mengalami kekurangan air.

“Ketersediaan air merupakan faktor penting untuk menjaga keberlanjutan pertanian. Tanpa pasokan air yang memadai, potensi lahan dan penggunaan pupuk belum tentu dapat menghasilkan panen secara optimal,” ujar Rahmad kepada wartawan Sabtu (25/10/2026).

Program Mata Air Indonesia merupakan bagian dari pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pupuk Indonesia melalui pendekatan Creating Shared Value atau penciptaan nilai bersama.

Melalui pendekatan tersebut, perusahaan berupaya memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan sektor pertanian yang menjadi bagian dari kegiatan usahanya.

Lima daerah yang menjadi lokasi pelaksanaan program ini meliputi Gunungkidul di Daerah Istimewa Yogyakarta, Grobogan di Jawa Tengah, Pacitan dan Sampang di Jawa Timur, serta Kupang di Nusa Tenggara Timur.

Rahmad menjelaskan bahwa persoalan ketersediaan air bagi petani membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Karena itu, Pupuk Indonesia menggandeng Rabu Biru Foundation untuk memperluas manfaat pembangunan infrastruktur pertanian.

“Pupuk dan air sangat penting bagi pertanian. Pupuk Indonesia tidak bisa bekerja sendiri dan perlu berkolaborasi dengan berbagai pihak, salah satunya Rabu Biru Foundation, untuk menghadirkan manfaat bagi petani di lima daerah,” pungkas Rahmad.

Sumur Bor 103 Meter untuk Mengairi 28 Hektare Lahan

Di Gunungkidul, pembangunan infrastruktur air difokuskan pada kawasan pertanian Mertelu yang memiliki karakteristik tanah kering dan berada di wilayah karst berbatu.

Kondisi geografis tersebut membuat petani menghadapi tantangan dalam memperoleh pasokan air secara berkesinambungan. Ketika musim kemarau berlangsung panjang, kegiatan pertanian menjadi semakin bergantung pada ketersediaan sumber air alternatif.

Untuk mengatasi persoalan itu, Pupuk Indonesia membangun sumur bor dengan kedalaman 103 meter yang terhubung dengan tandon beton berkapasitas 20.000 liter.

Fasilitas tersebut dilengkapi pompa air, panel surya, serta jaringan perpipaan yang berfungsi menyalurkan air dari sumur menuju tempat penampungan dan lahan pertanian.

Infrastruktur pengairan itu dirancang untuk melayani lahan seluas 28 hektare dan memberikan manfaat kepada 93 petani penerima pupuk bersubsidi di Mertelu.

Penggunaan panel surya menjadi bagian dari sistem pengoperasian pompa air untuk mendukung distribusi air ke lahan pertanian.

Dengan tersedianya fasilitas tersebut, petani diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada air hujan dan memiliki kesempatan lebih baik untuk mempertahankan kegiatan budidaya ketika memasuki musim kemarau.

Petani Dapat Pelatihan Budidaya dan Pascapanen

Program Mata Air Indonesia tidak hanya berfokus pada pembangunan sarana fisik. Pupuk Indonesia bersama Rabu Biru Foundation juga menyiapkan pendampingan pertanian agar penerima manfaat mampu mengoptimalkan penggunaan air dan pengelolaan lahan.

Pendampingan tersebut meliputi pelatihan budidaya selama satu musim tanam, penggunaan varietas unggul yang sesuai dengan kondisi lahan kering, serta pemeliharaan fasilitas sumur bor.

Petani juga mendapatkan pembekalan mengenai penanganan hasil pertanian setelah panen. Langkah ini diharapkan membantu meningkatkan kualitas produksi sekaligus memperkuat kemampuan petani dalam mengelola usaha pertanian.

Rahmad berharap infrastruktur yang telah dibangun dapat dikelola dan dirawat secara bersama-sama oleh masyarakat serta kelompok tani penerima manfaat.

Menurutnya, keberlanjutan program tidak hanya ditentukan oleh tersedianya fasilitas pengairan, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat menjaga sarana tersebut agar tetap berfungsi dalam jangka panjang.

Titiek Soeharto Harap Program Diperluas

Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto, yang juga menjabat Ketua Dewan Pembina Rabu Biru Foundation, menyambut baik kolaborasi pembangunan infrastruktur pengairan bagi petani.

Ia berharap fasilitas yang disediakan dapat membantu masyarakat menghadapi kesulitan memperoleh air, khususnya di wilayah pertanian yang kerap mengalami kekeringan.

Menurutnya, dukungan terhadap ketersediaan air merupakan salah satu kebutuhan penting untuk menjaga kelangsungan kegiatan pertanian dan mendorong peningkatan hasil panen.

Titiek juga berharap kerja sama serupa dapat menjangkau lebih banyak daerah yang menghadapi persoalan keterbatasan sumber air pertanian.

“Kerja sama ini tidak hanya berhenti di sini. Kami berharap, ke depan, program serupa dapat hadir di daerah-daerah lain yang membutuhkan agar semakin banyak petani yang merasakan manfaatnya,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang petani penerima manfaat di Mertelu, Suyoto, mengaku terbantu dengan pembangunan fasilitas irigasi tersebut.

Selama ini, menurutnya, keterbatasan air menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi petani, terutama ketika musim kemarau tiba. Kehadiran sumur bor dan jaringan pengairan diharapkan dapat memberikan kepastian pasokan air untuk kegiatan pertanian.

“Dengan bantuan ini harapannya hasil panen kami lebih melimpah. Tentunya meningkatkan kesejahteraan bagi petani di Mertelu,” jelas dia.

Selain menyediakan infrastruktur pengairan, Pupuk Indonesia turut menyerahkan bantuan satu unit ambulans melalui Yayasan Sehat Hijau Sejahtera Yogyakarta dalam rangkaian peresmian Program Mata Air Indonesia di Gunungkidul.

Bantuan ambulans tersebut ditujukan untuk mendukung peningkatan akses layanan kesehatan masyarakat, khususnya dalam penanganan kondisi darurat medis.

Melalui pembangunan infrastruktur air, pendampingan budidaya, dan dukungan fasilitas sosial, Pupuk Indonesia berharap Program Mata Air Indonesia dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekaligus membantu meningkatkan produktivitas pertanian di daerah yang rentan mengalami kekeringan.