KABARIKA.ID, MAKASSAR — Perubahan dan krisis iklim secara global memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Dalam sebuah survei baru-baru ini, hanya empat persen mahasiswa yang mengaku sering atau “sangat” merasa optimis terkait krisis iklim.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Banyak mahasiswa lainnya justru merasakan perpaduan emosi yang suram: rasa tidak berdaya, frustrasi, dan kecemasan.
Namun, universitas mungkin belum berbuat cukup untuk membantu mahasiswa mengelola emosi-emosi sulit tersebut.
Itulah kesimpulan yang kurang mengenakkan dari dua studi lintas disiplin ilmu yang dilakukan oleh University of Utah.
Para peneliti menyurvei ratusan mahasiswa tingkat sarjana mengenai perasaan mereka terhadap perubahan iklim dan apa saja, jika ada, yang membantu mereka dalam menghadapinya.
Harapan Menjadi Sesuatu yang Langka
Tim peneliti yang dipimpin oleh pakar lingkungan Jennifer Follstad Shah dan psikolog Monika Lohani, menyurvei 547 mahasiswa yang terdaftar dalam tiga mata kuliah studi lingkungan dan satu mata kuliah komunikasi.
Mereka mengajukan satu pertanyaan sederhana: saat memikirkan perubahan iklim, apa yang Anda rasakan?
Sebanyak 54 persen mahasiswa mengaku sering atau “sangat” merasa tidak berdaya, sedangkan yang menyatakan hal yang sama terkait rasa frustrasi, ada sebanyak 55 persen.
Perasaan marah, khawatir, takut, dan cemas menyusul di belakangnya; masing-masing dirasakan secara intens (sangat) oleh sekitar satu dari setiap lima mahasiswa.
Sementara itu, 58 persen mahasiswa mengaku tidak pernah merasakan kebahagiaan terkait situasi iklim saat ini.
Hanya empat persen yang mengaku sering atau “sangat” merasa optimis. Bahkan jika mahasiswa yang sesekali merasakan harapan turut dihitung, angkanya hanya mencapai 40 persen.
Apa Peran Jurusan yang Diambil Mahasiswa?
Di sinilah studi ini menjadi menarik. Mahasiswa jurusan studi lingkungan tercatat memiliki skor lebih tinggi pada Indeks Kecemasan Iklim (Climate Anxiety Index) yang disusun oleh para peneliti.
Namun, setelah model statistik memperhitungkan variabel-variabel lain, jurusan kuliah seorang mahasiswa tidak lagi menjadi prediktor yang signifikan terhadap kecemasan iklim.
Model regresi hierarkis akhir, yang menjelaskan 52 persen varians dalam skor kecemasan iklim, menunjukkan faktor-faktor penyebab yang berbeda.
Faktor-faktor tersebut meliputi ideologi politik, seberapa sering mahasiswa menjumpai informasi mengenai iklim, apakah mereka menganggap perubahan iklim sebagai salah satu kekhawatiran pribadi utama, serta tingkat kecemasan umum yang mereka alami.
“Mereka tidak sendirian, banyak mahasiswa yang merasakan hal tersebut, dan kemungkinan besar banyak pula orang dewasa yang merasakannya,” ujar Shah.
Lingkaran Umpan Balik Kecemasan
Hubungan antara kecemasan iklim dan kecemasan umum ternyata cukup mencolok.
Kecemasan iklim dan kecemasan umum saling berkaitan erat, meskipun para peneliti tidak dapat memastikan apakah salah satunya memengaruhi yang lain.
Mahasiswa dengan tingkat kecemasan iklim sedang hingga tinggi cenderung melaporkan tingkat kecemasan umum yang rendah hingga sedang.
Temuan ini menunjukkan bahwa kecemasan iklim dan kecemasan umum saling berkaitan erat, namun tetap merupakan pengalaman psikologis yang berbeda.
“Bisa jadi kecemasan iklim berkontribusi terhadap kecemasan umum, atau sebaliknya,” kata Shah.
Faktor gender juga menunjukkan dinamika yang serupa. Dalam studi ini, perempuan melaporkan tingkat kecemasan umum yang jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki, dan pada awalnya juga tampak lebih cemas terhadap isu iklim.
Namun, setelah kecemasan umum diperhitungkan, gender tidak lagi menjadi prediktor sama sekali.
Temuan ini mengisyaratkan bahwa perbedaan dalam tingkat kecemasan umum, mungkin menjadi penjelasan mengapa perempuan pada awalnya dilaporkan memiliki tingkat kecemasan iklim yang lebih tinggi.
Dari Mana Kecemasan itu Berasal?
Tidak semua sumber informasi memberikan dampak yang sama. Pembelajaran di kelas dan media daring, terutama media sosial, merupakan prediktor signifikan bagi tingkat kecemasan iklim yang lebih tinggi.
Sebaliknya, informasi yang diperoleh dari teman, keluarga, maupun rekan kerja hampir tidak memberikan pengaruh apa pun.
Kurang dari 30 persen mahasiswa melaporkan sering mendapatkan informasi mengenai iklim dari keluarga atau rekan kerja.
Temuan ini mengindikasikan bahwa isu perubahan iklim mungkin lebih jarang dibahas dalam percakapan sehari-hari dibandingkan di dalam kelas atau di ruang daring.
Ada satu interaksi yang menarik perhatian para peneliti. Bagi mahasiswa di luar bidang studi lingkungan, paparan informasi iklim secara daring yang lebih tinggi berkorelasi signifikan dengan tingkat kecemasan yang lebih tinggi pula.
Namun, bagi mahasiswa jurusan studi lingkungan, hubungan tersebut tidak ditemukan.
Beberapa mahasiswa menuturkan bahwa mereka melakukan apa yang disebut sebagai hopescrolling (menelusuri konten yang memicu harapan), yaitu dengan sengaja mengatur linimasa media sosial mereka agar lebih banyak menampilkan konten yang berfokus pada solusi, alih-alih konten yang memicu keputusasaan.
Cara Mahasiswa Menghadapi Situasi Ini
Studi pendamping yang dilakukan Lohani mendalami apa yang sebenarnya dilakukan para mahasiswa saat menghadapi tekanan semacam ini.
Sebagian menemukan kelegaan melalui alam, hewan peliharaan, perawatan diri, atau dengan mempelajari lebih dalam mengenai sains di balik isu tersebut.
“Pengetahuan memberi mereka kekuatan untuk memahami berbagai kerumitan yang ada. Hal itu membuat mereka tidak merasa kehilangan harapan,” ujar Lohani.
“Berbagai kemajuan teknologi yang muncul untuk menekan jejak karbon justru membuat mereka merasa lebih optimistis,” lanjut Lohani.
Namun, banyak pula mahasiswa yang memilih untuk menutup diri sepenuhnya. Salah seorang mahasiswa menulis: “Terkadang saya merasa tidak ingin melakukan apa pun karena hal itu membuat saya sangat cemas.”
“Mereka yang merasa kewalahan mungkin cenderung memandang situasi secara berlebihan sebagai bencana, atau memilih untuk menghindar maupun mengalihkan perhatian. Pada akhirnya, hal ini tidak baik bagi kesejahteraan mereka sendiri, maupun bagi upaya penanganan krisis perubahan iklim,” catat Lohani.
Sementara bagi mereka yang bersikap apatis, mungkin dampaknya tidak terasa buruk bagi kesejahteraan mereka dalam jangka pendek, namun pada akhirnya, sikap tersebut akan berdampak negatif bagi diri mereka sendiri maupun komunitas di sekitarnya.
Apa yang Bisa Dilakukan Pihak Universitas
Kedua peneliti berpendapat bahwa pihak kampus harus berhenti menganggap kecemasan terkait perubahan iklim sekadar sebagai isu latar belakang yang tidak perlu diperhatikan secara khusus.
Rekomendasi mereka cukup konkret: membentuk kelompok dukungan untuk kecemasan iklim di pusat konseling, mendanai forum lintas departemen untuk diskusi terbuka, serta melatih para pengajar agar siap menghadapi respons emosional mahasiswa saat membahas materi mengenai perubahan iklim.
Program studi lingkungan di University of Utah sendiri telah mulai mengadakan kegiatan yang disebut “Good Grief Circles”.
Program ini mengadopsi model dari “Good Grief Network” yang turut didirikan oleh Laura Schmidt, seorang lulusan University of Utah pada 2014.
Sesi dukungan antar-rekan ini memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memproses tekanan ekologis yang mereka rasakan tanpa perlu khawatir akan dihakimi.
“Jangan takut untuk membicarakannya dan beri tahu orang lain bahwa Anda merasakan hal ini. Ada kekuatan dalam ikatan-ikatan tersebut,” ujar Shah.
Gambaran yang Lebih Luas
Studi ini memiliki keterbatasan, sampelnya lebih banyak terdiri dari perempuan (66 persen), orang kulit putih (69 persen), dan mereka yang memiliki pandangan politik condong ke kiri (63 persen).
Penelitian ini dilakukan di satu universitas di wilayah Mountain West yang gersang, tempat menyusutnya permukaan Great Salt Lake dan kekeringan hebat (megadrought) membuat dampak perubahan iklim mustahil untuk diabaikan.
Hasil lengkap penelitian ini telah dipublikasi pada jurnal Sustainability pada 5 Agustus 2026 dengan judul, “Climate Anxiety Among Undergraduates at an R1 University in the United States;” selengkapnya dapat diakses di sini.
Para peneliti menyerukan studi yang lebih luas yang mencakup kampus dan jurusan yang lebih beragam.
Terlepas dari keterbatasan tersebut, temuan ini menunjukkan bahwa kecemasan terkait perubahan iklim tidak hanya dialami oleh mahasiswa di bidang studi lingkungan.
Kondisi ini sangat berkaitan dengan kecemasan umum dan memengaruhi mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, sehingga memunculkan pertanyaan apakah pihak universitas telah menyediakan dukungan emosional yang memadai.
Sebagian besar mahasiswa yang disurvei menyatakan bahwa mereka menginginkan lebih banyak kesempatan untuk membicarakan hal ini. (rus)
