Tawuran Mahasiswa Dalam Neraca Teologi (Bagian 1)

Berita, Opini1504 Dilihat

Oleh Khusnul Yaqin dan Supa Atha’na
(Kedua Penulis Dosen Aktif di Universitas Hasanuddin)

 

The quality of our lives depends not on whether or not we have conflicts, but on how we respond to them. – Thomas Crum

Konflik fisik mahasiswa Unhas yang terjadi sepekanan yang lalu tentu sangat disayangkan. Kerugian material dan non-material tak terhindarkan. Tudingan dan stereotipe negatif pun dialamatkan tidak hanya kepada mahasiswa, tetapi seluruh civitas academica Unhas. Secara terbuka ada opini menyebut ‘mahasiswa Unhas bengis dan memalukan’. Selain itu ada banyak percakapan di grup-grup WA yang menyebut dan mengaitkan dengan tanggung jawab dosen, kepedulian penasihat akademik dan kewibawaan para pejabat kampus.

Sebagai bagian dari civitas academica Unhas maka tanggapan negatif dari sebagian kecil warga masyarakat kami coba respons dengan sebuah analisa yang menggunakan pendekatan dan neraca teologi.

Sekaitan hubungan antara tindakan manusia dan Tuhan, dalam neraca teologi ada tiga mazhab besar yaitu; Free Will, Deterministik dan Jalan Tengah (amru bainal amrain).
Sederhananya, free will menyebut bahwa Tuhan telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk melakukan apa saja, baik atau buruk yang tentunya keduanya mempunyai konsekuensi logisnya masing-masing.

Dengan kehendak bebas yang dimiliki umat manusia berkonsekuensi logis pada keberadaan sebuah sistem yang disebut dengan punishment and reward. Sistem hukuman dan pahala. Bila berbuat baik, maka akan mendapatkan pahala dan jika berbuat jahat akan mendapatkan hukuman.

Para penganut mazhab deterministik menolak gagasan itu. Bagi deterministik, jika manusia mempunyai kehendak bebas, maka di mana letak kekuasaan Tuhan. Tuhan itu Maha Kuasa menentukan apa saja sekehendaknya. Apa yang telah, sedang dan akan terjadi sudah ditentukan oleh Tuhan. Manusia bagi penganut paham deterministik sisa menjalaninya saja.

Mazhab yang terakhir ini sering dipakai oleh penguasa yang zalim sepanjang sejarah kemanusiaan sebagai alat yang efektif untuk membungkam dan menindas rakyat. Ketika rakyat bangkit memberontak, sang penguasa teriak; ”Kalian pemberontak telah menyalahi ketentuan Tuhan”. Saya adalah penguasa dan kalian adalah rakyat (jelata) sudah ketentuan dan takdir Tuhan yang Maha Kuasa. Garis tangan kalian memang menjadi rakyat, sedangkan garis tangan saya adalah menjadi penguasa.

Terima saja nasib kalian sebagai rakyat tertindas. Tentunya pandangan ini berbeda dengan pandangan ‘Nrimo Ing Pandum, MakaryoIing Nyoto’ atau “Resopa Temmangingi, Namalomo Naletei, Pammase Dewata” yang ada dalam budaya nusantara.

Di antara dua mazhab besar itu ada yang memunyai gagasan jalan tengah. Para pengikut jalan tengah berteori bahwa Tuhan telah memberikan semua fasilitas. Fasilitas tersebut sudah dirancang sedemikian canggih berdasarkan takaran, ukuran dan besarannya. Fasilitasnya sudah diatur dengan keteraturan tingkat tinggi dan serba sempurna. Tidak akan ada yang menyimpang. Semua berjalan secara teratur dan harmonis.

Manusia dengan semacam perangkat kehendak bebasnya dapat menggunakan fasilitas itu dalam menjalani kehidupannya, baik dengan cara yang jahat (buruk) atau dengan jalan kebaikan.


Menurut mazhab jalan tengah, dengan cara pandang seperti itu kita tidak memangkas kekuasaan Tuhan dan tidak meniadakan konsekuensi hukum atas apa yang dilakukan manusia.

Hemat kami neraca teologi di atas dapat digunakan untuk menimbang dan memahami dengan baik letak posisi anatomi tawuran mahasiswa. Semoga dengan pendekatan neraca teologi tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat umum untuk dapat bijak melihat tawuran tersebut tanpa dilandasi dengan maksud streotipe tertentu. Semua pihak bisa berpikir jernih dan melihat secara adil akan kedudukan dan posisi dari anatomi tawuran mahasiswa.

I. Anatomi Tawuran Mahasiswa Dalam Neraca Teologi Deterministik

Anatomi tawuran mahasiswa dalam neraca teologi deterministik adalah sebuah bentuk relasi antara mahasiswa dengan dosen atau pejabat kampus seumpama relasi seorang dalang dengan wayagnya. Bagaimana peran dan kelakuan suatu wayang ditentukan oleh Sang Dalang. Apa yang telah dilakukan oleh mahasiswa baik atau buruk itu adalah cerminan dari dosen atau pejabat kampus. Mereka menjustifikasi pandangannya itu dengan pepatah kuno;” Guru kencing berdiri, murid kecing berlari”.

Tawuran mahasiswa itu adalah refleksi ketidakbecusan dosen dan pejabat kampus dalam menyelenggarakan proses pendidikan. Argumentasinya adalah dosen lebih memilih dan fokus pada kegiatan proyek, baik di dalam maupun di luar kampus sehingga mereka tidak punya waktu melakukan proses pendidikan yang berkarakter.

Ada juga pendapat sedikit lucu bahwa para dosen kurang berinteraksi secara santai dengan mahasiswa. Contohnya, dosen sangat jarang minum kopi bersama dengan mahasiswa baik di kantin maupun di tempat nongkrong lainnya. Mahasiswa merasa kurang diperhatikan yang memicu mahasiswa berbuat onar untuk mengambil perhatian masyarakat kampus. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *