K U W A I T

Oleh Mubha Kahar Muang

Berita, Opini233 Dilihat

DATARANNYA rendah, gersang dan tandus, tidak menarik.
Mata pencaharian penduduknya adalah menangkap ikan dan mutiara.
Semua berubah pada dataran tandus itu ketika ditemukan ladang minyak sekitar 1937 Kuwait melesat menjadi salah satu negara kaya di Jazirah Arab.

Nama Kuwait berasal dari bahasa Arab yang artinya “benteng yang dibangun di dekat air.” Ada juga yang menyebut Kuwait berasal dari kata “kutt” yang artinya “rumah kecil berbentuk persegi empat yang terbuat dari kayu”. Seluruh wilayah Kuwait memang dikelilingi pantai, bahkan beberapa terdiri dari pulau-pulau.

Kuwait tidak memiliki sungai dan danau. Untuk mendapatkan air bersih Kuwait harus mengelolah air laut dengan biaya yang cukup tinggi. Kuwait dikenal pula sebagai salah satu negeri dengan iklim terpanas di dunia.

Di musim panas suhu sering mencapai 50 derajat celcius. Karena itu sangat sedikit kegiatan pertanian sehingga kebanyakan kebutuhan makanan harus diimpor.

Kuwait sedikit lebih luas dari Timor Leste. Letaknya berbatasan dengan Irak di utara dan Arab Saudi di sebelah selatan.

Pada abad ke-3, wilayah pesisir Kuwait dijajah Yunani di bawah pimpinan Alexander Agung. Yunani kuno menamakan Lariss untuk kawasan utama Kuwait dan Ikaros untuk Pulau Failaka.

Menurut Strabo dan Arrian, keduanya sejarawan dan filsuf Romawi pada periode Romawi abad ke-2, Alexander Agung memberi nama Ikaros untuk Pulau Failaka karena baik bentuk maupun ukurannya, mirip dengan Pulau Aegean di Yunani.

Sekitar tahun 224, Kekaisaran Persia Sassania menjadikan Kuwait bagian dari kekuasaannya.

Persia Sassania ketika itu memiliki pengaruh yang cukup besar, bahkan bangsa Romawi menganggap bangsa Persia Sassania sebagai satu-satunya bangsa yang berstatus sama dengan mereka.

Kekaisaran Sassania merupakan Kekaisaran Persia pra-Islam terakhir yang dipimpin oleh Dinasti Sassania. Pada masa itu, Irak dan Kuwait menjadi satu pemerintahan di bawah Persia.

Pada tahun 636, Kekhalifahan Rasyidin memerangi Kekaisaran Sassania dan bertempur di Kuwait, dekat kota Kazma. Pertempuran yang merupakan perang pertama yang dilakukan oleh Pasukan Rasyidin dan berhasil memenangkannya.

Kekhalifahan Rasyidin disebut juga Khulafaur Rasyidin, merupakan sebutan khusus bagi empat khalifah pertama dalam peradaban Islam. Ketika Khalifah Umar bin Khattab membebaskan wilayah-wilayah Persia, beliau mengangkat Sa’ad bin Abi Waqqash, mantan pasukan Perang Badar dan Perang Uhud sebagai emir di Basra, Irak.

Sejak saat itu Kuwait menjadi bagian dari dunia Islam. Namun, kekhalifahan ini dibubarkan setelah Ali bin Abi Thalib wafat.

Tahun 661 Persia kembali menjadikan Irak dan Kuwait satu pemerintahan di bawah Persia.

Tahun 1535 Kesultanan Ustmaniyah memperluas kekuasaannya lalu merebut Bagdad dan Kuwait dari Persia.

Kesultanan Utsmaniyah dikenal dengan sebutan lain, Kesultanan Turki atau Kesultananan Ottoman.
Ketika kekuasaan Utsmaniyah surut tahun 1897, Britania Raya membantu pengembalian wilayah Utsmaniyah di semenanjung Balkan. Imbalannya Britania Raya menguasai beberapa wilayah di timur termasuk Kuwait.

Sejak saat itu Sheikh Mubarak selaku emir dari Dinasti Al-Sabah memperoleh pengakuan diplomatik atas Kuwait oleh Kesultanan Utsmaniyah tahun 1897.

Pengakuan itu dilanjutkan dengan ditandatanganinya traktat protektorat dengan Britania Raya pada 23 November 1899. 64 tahun kemudian Kuwait memperoleh kemerdekaan dari Britania Raya, tepatnya 19 Juni 1961.
~

Kuwait menarik perhatian dunia ketika diserbu Irak pada 2 Agustus 1990 hingga terjadi peperangan yang dikenal dengan Gulf War. Dalam perang tersebut Kuwait didukung koalisi pasukan PBB dan NATO dipimpin Amerika Serikat (AS).

Pasukan koalisi berhasil membebaskan Kuwait dari invasi Irak pada 27 Februari 1991. Perang yang melibatkan banyak negara ini dikenal dengan Perang Teluk I.

Awalnya Irak mengklaim bahwa Kuwait merupakan salah satu wilayahnya. Selain alasan historis diduga, serbuan Irak lebih disebabkan oleh kesulitan keuangan setelah Perang Delapan Tahun melawan Iran.

Kesulitan keuangan Irak ketika itu diperparah dengan kelebihan produksi minyak oleh Kuwait dan Uni Emirat Arab. Saddam Hussein, pemimpin Irak, menyebut perang ini sebagai perang ekonomi.

Irak tengah kesulitan untuk membayar utang luar negerinya, termasuk kepada Kuwait dan Arab Saudi. Upaya Irak meminta penghapusan utang ditolak oleh kedua negara itu.

Perang juga dipicu oleh perselisihan antara Kuwait dan Irak atas Ladang Minyak Rumeyla.

Sehari setelah serbuan Irak pada 3 Agustus 1990, PBB mengeluarkan ultimatum agar Irak menghentikan serbuannya.

PBB pun memberi sanksi embargo pada 6 Agustus 1990.
Sehari setelah itu Kuwait meminta bantuan AS agar Irak menarik pasukannya dari Kuwait.

Pada 8 Agustus 1990 Irak mengumumkan telah menganeksasi Kuwait. AS mengirim bantuan pasukan disusul oleh negara-negara Arab.

Afrika Utara dan Niger ikut mengirim pasukan, juga beberapa negara Eropa seperti Inggris, Perancis dan Jerman Barat, termasuk beberapa negara Eropa Utara dan Timur. Dua negara Asia, Bangladesh dan Korea Selatan, juga mengirimkan pasukan.

Pasukan negara-negara Arab dipimpin oleh Letjen Khalid bin Sultan. Sementara Pasukan AS dan Eropa di bawah komando Jenderal Norman Schwarzkopf dan Jenderal Collin Powell.

Pada 29 November 1990 PBB mengultimatum Irak untuk meninggalkan Kuwait hingga 15 Januari 1991. Perundingan James Baker dengan menteri luar Negeri Irak, Tareq Aziz pada 9 Januari 1991 gagal. Irak tidak bersedia menarik pasukannya.

12 Januari 1991 George Bush mendapat persetujuan Kongres AS untuk menyatakan perang terhadap Irak. Tanggal 17 Januari, pasukan koalisi menggempur Baghdad dan beberapa wilayah Irak lainnya dari udara dalam operasi Desert Storm. Serangan tersebut menyasar sistem komunikasi Irak, kilang minyak, bangunan pemerintah dan memutus akses jalan di seluruh Irak.

Irak melancarkan serangan balasan ke Israel, terutama Tel Aviv dan Haifa serta wilayah Dhahran di Arab Saudi. Irak melakukan perang lingkungan dengan membakar sumur-sumur minyak Kuwait dan menumpahkan minyak ke Teluk Persia.

Pada saat itu Uni Soviet melakukan upaya diplomasi dengan tawar-menawar perdamaian antara Irak dengan Uni Soviet melalui Mikhael Gorbachev dan Yevgeny Primakov, tetapi ditolak Presiden Bush pada 19 Januari 1991. Setelah itu Uni Soviet tidak lagi melakukan tindakan apa pun di Dewan Keamanan PBB.

Pertengahan Februari pasukan koalisi mulai mengalihkan serangan melalui jalur darat di wilayah Irak dan Kuwait. Israel diminta oleh AS untuk tidak melakukan serangan balasan karena khawatir kekuatan militer negara-negara Arab berbalik sehingga dapat mengubah jalannya peperangan.

Operasi yang dilancarkan dari wilayah darat Saudi Arabia pada 24 Februari, berhasil memukul mundur pasukan elite Irak.
Kuwait akhirnya berhasil direbut tanggal 27 Februari 1991.

Keesokan harinya pasukan Irak secara resmi meninggalkan Kuwait. Kemenangan ini disambut sukacita oleh rakyat Kuwait. Efek dari perang tersebut, Kuwait mengeluarkan biaya perbaikan infrastruktur minyak lebih dari 5 miliar dollar AS, dan AS konon mengeluarkan biaya operasional sebesar 102 miliar dollar AS. Sejak itu Kuwait sangat tergantung kepada AS, khususnya di bidang militer.

Sejarah telah mengajarkan, potensi sebuah wilayah dapat menjadi anugerah tetapi sekaligus dapat menjadi bencana.

Jakarta,
15 November 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *