Unhas Luncurkan GUMSB sebagai Basis Fastabiqul Khairat

Berita1667 Dilihat

KABARIKA.ID, MAKASSAR –Universitas Hasanuddin (Unhas) meluncurkan kegiatan keagamaan bertajuk GUMSB atau Gerakan Unhas Mengkaji dan Salat Berjamaah, Selasa sore (6/9/2022), bertempat di Masjid Ikhtiar kampus Unhas Tamalanrea. GUMSB selanjutnya akan dilaksanakan setiap pekan oleh civitas academica Unhas.

GUMSB mengusung tema “Makrifatul Qur’an : Wahyu Ilahi sebagai Sumber Ilmu dan Kebutuhan Primer, dengan menghadirkan Anregurutta Prof Dr KH Quraish Shihab, Lc MA sebagai narasumber.

Para peserta GUMSB secara bergiliran mengaji dengan membaca surah TaHa ayat 1-18. Selanjutnya, Prof Quraish Shihab menyajikan uraian dengan menempatkan manusia sebagai tema sentral kajian secara Daring alias online.

Rektor Unhas Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa, M.Sc bersama Warek Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, Sekretaris Unhas, serta civitas academica Unhas menyimak uraian Prof Quraish Shihab secara Daring.
Rektor Unhas Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa, M.Sc bersama Warek Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, Sekretaris Unhas, serta civitas academica Unhas menyimak uraian Prof Quraish Shihab secara Daring.

Pejabat Unhas yang hadir adalah Rektor Unhas Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa, M.Sc, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas Prof drg Muhammad Ruslin, M.Kes. Ph.D, Sp.BM(K), Sekretaris Unhas Prof Dr Sumbangan Baja, ketua panitia Ustad Drs Sulaiman Gossalam, M.Si dan civitas academika lainnya.

Rektor dalam sambutannya mengatakan, GUMSB dilaksanakan dengan landasan fastabiqul khairat. “Gerakan Unhas Mengkaji dan Salat Berjamaah ini dilaksanakan dengan berlandaskan fastabiqul khairat bagi seluruh civitas akademika,” ujar rektor Prof JJ.

Ketua panitia GUMSB Ustad Drs Sulaiman Gossalam, M.Si menyampaikan laporan pelaksanaan GUMSB.
Ketua panitia GUMSB Ustad Drs Sulaiman Gossalam, M.Si menyampaikan laporan pelaksanaan GUMSB.

Prof JJ percaya bila gerakan ini menjadi momentum untuk mewujudkan ilmuwan Unhas yang selain menguasai teori ilmu-ilmu umum, juga dalil-dalil yang bersumber dari kitab suci Al Qur’an. Hal itu sangat mungkin terjadi karena Islam mendorong manusia untuk menuntut ilmu. Dengan ilmu (sains) akan mengantarkan manusia untuk lebih dekat kepada Tuhan.

Semakin banyak ilmu pengetahuan seseorang seharusnya semakin baik untuk mengenal Tuhan. Dengan itu menjadikan manusia bertakwa kepada Tuhan, selalu mematuhi tuntunan dan perintah Tuhan dalam setiap aktivitas dan pekerjaannya.

Dalam hal ini, Allah berfirman dalam Surah 35 (Fatir), ayat 27 dan 28: “Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang berilmu (ulama). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Dalam Surah 3 (Al-Imran), ayat 18, Allah mengangkat dan menyamakan para ‘pemikir, ilmuwan’ dengan status malaikat: “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Prof Quraish Shihab mengingatkan bahwa Tuhan (dengan menciptakan satu kesatuan sistem alam semesta), bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, dan para rasul dan pemilik pengetahuan, (masing-masing dengan kapasitas ilmunya), bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana.

Dalam Surah 39 (Az Zumar), ayat 9, Allah berfirman: “Orang berilmu nan bijak dan orang bodoh tidaklah sama.“ Sedangkan dalam Surah 34 (Saba), ayat 6, Dia mengatakan: “Dan orang-orang yang diberi ilmu mengetahui bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar (sebagai kebenaran) dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.

“Nilai ilmu dan pengetahuan dalam Al Qur’an sangat tinggi. Karena semakin banyak seseorang mempelajari ilmu pengetahuan, semakin ia menyadari keberadaan Tuhan. Maka tidak heran jika ayat pertama yang diturunkan adalah tentang ajakan membaca dan menulis. Surah 96 (Alaq) dimulai dengan ayat perintah: Iqra (Bacalah!),” papar Prof Quraish Shihab.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang- orang yang diberi ilmu.

Dalam hadits Rasulullah SAW disebut beberapa keutamaan orang berilmu dan ilmu itu sendiri: 1. Ilmuwan adalah pewaris para nabi; 2. Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan; 3. Carilah ilmu sampai liang lahad; 4. Barangsiapa meninggalkan rumahnya untuk menuntut ilmu, ia telah melangkah di jalan Allah; 5. Jika Tuhan ingin membimbing seseorang, Dia akan membuatnya paham dan belajar.

Dalam Islam, tidak ada pertentangan antara sains dan agama bahkan ada hubungan yang sehat, erat, dan selaras. Dalam Islam, ada keseimbangan antara hati dan pikiran, antara spiritual dan material, surgawi dan duniawi. Suatu keseimbangan dan keadilan ilahi yang memberikan masing-masing nilai dan bobot padanya.

Hal ini juga dipertegas oleh Dr. Maurice Bucaille dalam bukunya The Bible, the Quran and Science bahwa sains dan Quran memiliki hubungan yang sangat harmonis.

Dasar dari berkembangnya studi Islam adalah kehausan manusia akan pengetahuan dan kesiapan umat Islam untuk menggunakan akal pikiran mereka. Ada beberapa ilmuwan Muslim yang memperkaya penelitian ilmiah dan menemukan teori ilmu pengetahuan.

1) Al Khwarizmi (meninggal 846), yang menemukan ilmu aljabar dan logaritma. 2) Ar-Razi (864-935), yang buku kedokterannya menjadi buku referensi bagi mahasiswa kedokteran di universitas-universitas Eropa selama beberapa abad. 3) Ibn Sina, seorang filsuf dan dokter (980-1037), yang ensiklopedia medisnya digunakan di institusi dan universitas Eropa hingga abad ke-19. 4) Al Biruni (973-1050), sejarawan ilmu pengetahuan dan politikus yang mempelajari astronomi, mineralogi, farmakologi dan ilmu-ilmu lainnya. 5) Omar Khayyam (meninggal 1211), seorang penyair besar yang mahir dalam matematika, astronomi dan ilmu-ilmu lainnya. 6) Ada juga Al Farabi, Jabir bin Hayyan, Al Kindi, Al Battani, Tsabit bin Qurra, At Tabari, Al Asma’i, dan masih banyak yang lainnya. (*/rs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *