Masjid Berarsitektur Unik dan Eksotis sebagai Pusat Pengembangan Peradaban Islam, Segera Berdiri di Makassar

Berita1811 Dilihat

KABARIKA.ID, MAKASSAR – AAS Foundation dalam waktu dekat akan memulai proses pembangunan sebuah masjid istimewa dan unik di Panaikang, kecamatan Panakkukang, Kota Makassar. Proses penjurian tahap akhir terhadap hasil sayembara gambar desain masjid, berlangsung di AAS Building Lt. 3, Kamis (17/11/2022).

Proses penjurian tahap kedua sebagai tahap akhir atas 10 besar karya desain ini, berlangsung melalui zoom meeting. Dari 10 besar tersebut, hanya sembilan yang mengikuti proses penjurian. Satu finalis mengundurkan diri sebelum proses penjurian berlangsung.

Proses penilaian akhir ini menghadirkan tiga orang juri dari organisasi profesi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Yakni, Prof Ananto Yudono dan Fahmi dari IAI Sulsel, serta Ar Fauzan Noe’man dari IAI Jawa Barat.

Saat pembukaan penjurian, panitia melaporkan bahwa peserta yang mendaftar untuk mengikuti sayembara menggambar desain masjid AAS Foundation ini berjumlah 144. Namun hingga batas akhir pengiriman hasil desain, hanya 48 peserta yang mengirimkan karya desain.

Proses penjurian tahap pertama yang menghasilkan 10 besar finalis, berlangsung pada 1-3 Oktober 2022 yang lalu.

Sementara itu, owner AAS Foundation Dr. Andi Amran Sulaiman dalam sambutannya saat pembukaan kegiatan penjurian mengatakan, masjid yang akan dibangun ini untuk generasi kita 100-125 tahun yang akan datang.

Masjid ini nantinya akan menjadi pusat pengembangan peradaban Islam di Indonesia, dan Indonesia Timur pada khususnya.

“Kita ini mengalami krisis moral. Banyak orang pintar, tetapi tidak bermoral,” tandas Andi Amran.

Selain sebagai pusat pengembangan peradaban Islam, manajemen masjid ini juga akan menerapkan ekonomi sirkular bagi jamaah. Di sekitar masjid akan dibangun ruko sebagai sarana bisnis untuk pengembangan ekonomi umat dan ekonomi jamaah.

“Ada pertukaran ekonomi di dalamnya. Ada bagi hasil, untuk masjid 60 persen dan untuk pengelola bisnis 40 persen,” papar pendiri AAS Foundation yang juga ketua umum PP IKA Unhas itu.

Mantan Menteri Pertanian periode 2014-2019 itu telah menyiapkan anggaran pembangunan masjid ini yang diperkirakan di atas Rp 100 miliar.

“Kami sudah siapkan dananya. Di masjid ini nantinya tidak ada celengan yang beredar,” tandas Andi Amran.

Masjid ini akan dibangun di atas lokasi seluas dua hektar. Bangunan masjid beserta bangunan pendukungnya akan menempati areal seluas satu hektar.

Dr. Andi Amran Sulaiman didampingi juri Prof Ananto Yudono mengamati maket desain Masjid AAS Foundation karya para finalis

Masjid dengan desain arsitektur unik nan eksotis yang didedikasikan sebagai pusat pegembangan peradan Islam ini, juga akan dilengkapi dengan perpustakaan fisik dan digital serta museum sejarah peradaban Islam.

“Nanti juga kita lengkapi metaverse yang berisi gambar-gambar masjid teridah di seluruh dunia, dan peradaban Islam di seluruh dunia. Jamaah masjid akan melihat peradaban Islam di seluruh dunia dalam bentuk digital,” papar Andi Amran.

Konsep pengelolaan masjid yang inovatif dengan mendorong tumbuhnya ekonomi sirkular bagi jamaah, serta penyediaan fasilitas modern berbasis teknologi digital, membuat masjidi ini nantinya berbeda dengan masjid pada umumnya yang lebih banyak berfungsi sebagai tempat ibadah.

Masjid ini juga diharapkan melahirkan komunitas baru yang memiliki wawasan Islam yang sekaligus memiliki jiwa kewirausahaan yang mampu membangkitkan perputaran ekonomi di lingkungan masjid, sehingga melahirkan jamaah masjid yang sejahtera.

Desain Arsitektur Unik dan Makna Filosofis

Sembilan finalis telah menampilkan karya terbaiknya disertai dengan deskrpisi desain mendetail. Satu hal yang menarik dari sejumlah desain yang dibuat oleh para finaslis, adalah kemampuan memadukan nilai-nilai budaya lokal dalam karya arsiteknur yang indah dan memiliki makna filosofis.

Gambar para finalis dalam layar zoom meeting

Karya dari finalis nomor 005-SMAAS, misalnya. Karya desainnya yang diberi nama “Al-Ukhuwah” memadukan model songkok Recca atau songkok To Bone dengan model rumah panggung orang Bugis.

“Masjid ini merupakan interpretasi dari songkok Recca yang merupakan warisan budaya Sulsel yang bersumber dari cipta, rasa, dan karsa orang Bone. Songkok Recca yang bisa dipakai oleh siapa saja, menunjukkan tidak adanya perbedaan kasta atau strata sosial,” kata finalis 005 dalam presentasinya melalui zoom meeting.

Karya desain berjudul “Al-Ukhuwah”

Desain masjid yang merepresentasikan bentuk songko Recca, ditransformasikan membentuk 34 buah arkade segi tiga, menunjukkan jumlah sujud dalam sehari semalam.

Finalis 006-SMAAS menyodorkan kary desain yang diberi judul “Perahu As-Sunnah”. Menurut finalis, sunnah diibaratkan sebagai perahu yang melindungi para penumpang dari angin, hujan, dan gelombang. Seperti halnya sunnah yang melindungi jiwa, harta, dan kehormatan.

“Kosep dasar perancangan bangunan masjid AAS Foundation adalah sebagai pusat pengembangan peradaban Islam di Sulawesi, dengan masjid sebagai fungsi utama dan ruang-ruang penunjang sebagai ruang aktivitas lainnya,” tulis finalis 006 yang namanya dirahasiakan oleh tim juri.

Karya desain berjudul “Perahu Sunnah”

Karya berikutnya disajikan oleh finalis nomor 027-SMAAS, dengan judul karya “Cahaya Mukjizat”.

Nama karya ini diambil dari sebuah peristiwa perjalanan Rasulullah SAW bersama sejumlah sahabatnya di malam hari. Para sahabat kemudian menyaksikan jari-jemari Rasulullah SAW bersinar terang, sehingga cahaya sinar itu membantu para sahabat menambatkan hewan tunggangannya.

Menurut finalis, konsep awal model ini dibentuk dari gubahan massa kotak yang sifatnya kaku dan sangat ideal dalam efisiensi fungsi ruang aktivitas salat. Model ini kemudian dipadupadankan dengan bentuk pola detail dari pohon nipah yang ada di area lokasi pembangunan masjid.

Karya desain berjudul “Cahaya Mukjizat”

Finalis nomor 030-SMAAS menamakan karya desainnya sebagai “Transformasi Filosofi Cahaya, Keimanan, dan Ruang Arsitektur”.

Desain yang disodorkan dilengkapi dengan tanaman pohon di halaman dan sekitar masjid, serta payung peneduh di pelataran.

Menurut finalis, tanaman dapat mengondisikan iklim menjadi sesuai dengan kebutuhan kenyamanan manusia. Saat matahari bersinar terik, tanaman mengontrol iklim dengan memberi naungan dari sinar matahari.

Sedangkan tenda hidrolik yang dipasang di pelataran masjid terinspirasi payung hidrolik di Masjid Nabawi. Keberadaan tenda hidrolik ini memungkinkan pelataran dapat difungsikan sebagai tempat salat pada waktu tertentu.

Finalis nomor 053-SMAAS membuat karya desain yang diberi nama “Songkok Bumi”. Menurut finalis, konsep “Songkok Bumi” merepresentasikan rasa syukur masyarakat kota Makassar kepada Sang Pencipta, yang diutarakan melalui arsitektur sebagai ruang beribadah dan ruang berbudaya.

Karya desain berjudul “Songkok Bumi”

“Penerapan bentuk bangunan secara horizontal pada ruang publik dan vertikal pada ruang sakral (ibadah) merupakan keputusan desain yang tepat secara fungsi dan efektif secara sistem bangunan yang berkelanjutan, dengan balutan desain arsitektur metafora tangan menengadah sebagai perwujudan rasa syukur kepada Allah SWT,” tulis finalis.

Finalis nomor 092-SMAAS menyuguhkan karya desain yang diberi nama “Masjid Baitur Aladhi Yawi”. Konsep desain masjid ini juga menjadikan songkok Recca sebagai sumber inspirasi.

“Seperti songkok Recca yang menjadi hiasan atau penutup kepala masyarakat Makassar, masjid Baitur Aladhi Yawi, sesuai namanya diharapkan menjadi naungan peneduh bagi jamaah dan cendekiawan yang ingin beribadah, meningkatkan ketakwaan serta menjalankan syariat Islam,” tulis finalis.

Karya desain berjudul “Masjid Baitur Aladhi Yawi”

Finalis nomor 098-SMAAS membuat karya desain yang diberi nama “Passirikang”. Konsep desain masjid AAS Foundation ini mengadopsi beberapa hasil budaya dan kepercayaan masyarakat Bugis-Makassar untuk meningkatkan nilai lokalitas dan citra kawasan. Seperti songkok Recca dan sulapa eppa.

Menurut finalis, songkok Recca merupakan pakaian kebesaran masyarakat Bone (Bugis) dan Makassar, sedangkan sulapa eppa merupakan pandangan dan filosofi hidup masyarakat Bugis-Makassar.

“Masjid ini merupakan citra masyarakat lokal dengan mengambil bentuk dasar sulapa eppa yang menyimbolkan jati diri masyarakat dan di-superimpose dengan sosok songkok Recca sebagai baju kehormatan mereka,” tulis finalis nomor 098-SMAAS.

Finalis nomor 119-SMAAS menciptakan karya desain yang diberi nama “Kontemplasi Nipah”. Pemilihan nipah sebagai salah satu elemen penting dalam perancangan, dapat meminimalisasi pelukaan terhadap lahan, serta diharapkan dapat meningkatkan kualitas ekosistem di area pembangunan masjid, sehingga tercipta keselarasan dengan lingkungan.

“Seiring dengan perkembangan masa, masjid mengalami transformasi, baik secara fungsi maupun peran. Fungsi utama masjid adalah sebagai tempat ibadah. Karakteristik tempat ibadah adalah menghadirkan kekhusyukan dalam masjid yang memberi kesempatan kepada para jamaah untuk mengkontemplasikan segala hal yang terjadi,” kata finalis nomor 119-SMAAS dalam narasinya.

Finalis nomor 132-SMAAS, mempresentasikan karya desain yang diberi nama “Rukun Menjulang”. Sebagai pusat peradaban dan pendidikan Islam di Kawasan Indonesia Timur, menurut finalis, masjid AAS Foundation ini diharapkan dapat menjadi pusat kerukunan (dalam arti harmonis dan damai) dengan sesama manusia dan alam.

“Bentukan masjid dibuat menjulang layaknya bukit agar menyatu dengan alam di sekitarnya. ‘Rukun Menjulang’ berusaha menjaga keasrian serta keaslian alam tempatnya berdiri. Termasuk menjaga ekosistem yang telah tercipta di lokasi tersebut,” tulis finalis dalam deskripsinya.

Memadukan Beberapa Konsep Desain

Owner AAS Foudation Andi Amran Sulaiman mengakui seluruh karya desain dari para finalis adalah bagus dan unik. Namun demikian, ia menginginkan penggabungan beberapa desain untuk diaplikasikan dalam pembangunan masjid nantinya.

“Apakah tidak bisa dibuat ulang desain dengan memadukan beberapa model desain yang unik,” tanya Andi Amran kepada tim juri.

“Bisa,” kata para juri.

Andi Amran mengimpikan ada citra songkok Recca dan perahu Pinisi dalam bangunan masjid nantinya, yang didedikasikan sebagai pusat pengembangan peradaban Islam. “Sehingga masjid ini tidak ada samanya, berbeda dengan yang lain,” tandas Andi Amran.

Menurutnya, semua peserta sayembara akan mendapatkan amal jariah. Bahkan nama para pemenang sayembara akan ditulis namanya di dalam masjid.

“Di masjid ini nanti ada pendidikan bahasa Arab, Inggris, dan bahasa Cina (Mandarin). Juga ada pembelajaran akhlak mulia. Jika sudah azan, semua kegiatan dihentikan untuk salat,” papar Andi Amran.

Untuk membuat para jamaah nyaman dan orang tertarik datang ke masjid ini salat berjamaah, lanjut Andi Amran, masjid ini akan dilengkapi lift dan di lantai atas atau puncak akan dibuat kafe elit. (rus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *