Teliti Risiko Pneumonia terhadap Balita Pada Masyarakat Pendukung Budaya Panggang di NTT, Sintha Lisa Purimahua Raih Gelar Doktor

Berita1029 Dilihat

KABARIKA.ID, MAKASSAR – Sekretaris bidang penelitian, pengembangan, dan pengabdian pada masyarakat IKA Unhas wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr Sintha Lisa Purimahua, SKM, M.Kes, semringah setelah dinyatakan lulus yudisium dengan predikat sangat memuaskan pada ujian promosi doktor bidang ilmu kesehatan masyarakat, Selasa (7/02/2023), di ruang ujian Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar.

Di depan tim penguji yang terdiri dari Prof Dr. Darmawansyah, SE, M.Si; Dr. Ridwan Mochtar Thaha, M.Sc; dr Arif Santoso, Sp.P(K), Ph.D, FASR dan Prof Dr. Allo Liliweri, M.S. selaku penguji eksternal, Sintha mempertahankan disertasi berjudul, “Faktor Risiko Kejadian Pneumonia Balita pada Masyarakat dengan Budaya Panggang di Kabupaten Timur Tengah Selatan,” Provinsi NTT.

Bertindak sebagai promotor adalah Prof Dr drg A. Arsunan Arsin, M.Kes. Sedangkan kopromotor 1 adalah Prof Dr. Anwar Daud, SKM, M.Kes, dan kopromotor 2 adalah Dr. Agus Bintara Birawida, S.Kel., M.Kes.

Budaya panggang atau dalam bahasa lokal disebut sei adalah tradisi mengasapkan ibu yang baru melahirkan bersama bayinya selama 40 hari, di provinsi NTT. Selama 40 hari ibu dan bayinya harus duduk atau tidur di atas bara api yang berasal dari pembakaran kayu dalam Rumah Bulat atau rumah adat yang disebut Ume ‘Kbubu. Emisi dari pembakaran bahan bakar biomassa ini mencemari lingkungan rumah dan menimbulkan gangguan kesehatan ibu maupun bayinya.

Hasil penelitian Sintha menunjukkan bahwa faktor intrinsik dan ekstrinsik menyebabkan penyakit pneumonia pada Balita dari praktik panggang tersebut.

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko kejadian pneumonia terhadap Balita pada masyarakat pendukung budaya panggang serta diagnosa klinis dan radiologis melalui foto rontgen untuk penegakan diagnosa laboratorium.

Sintha Lisa Purimahua, SKM, M.Kes saat menjawab pertanyaan penguji.

Salah satu keistimewaan disertasi yang ditulis oleh Shinta adalah penggabungan dua pendekatan, yakni metode kuantitatif dan kualitatif.

Responden penelitian ini adalah ibu yang berumur antara 25-35 tahun yang memiliki satu atau dua orang anak Balita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang berumur 1-12 bulan yang mengalami pneumonia sebanyak 20 anak atau 60,6 persen. Sedangkan anak yang berusia 12 bulan ke atas yang berisiko pneumonia sebanyak 13 anak atau 39,4 persen.

Berdasarkan jenis kelamin, anak perempuan jumlahnya lebih tinggi, yakni 17 anak atau 51,5 persen. Sedangkan Balita laki-laki sebanyak 16 orang atau 48,5 persen.

Hasil pemeriksaan foto thorax dan keluhan berdasarkan umur, lebih banyak diderita oleh anak berumur 1-12 bulan dengan pneumonia berat, yakni 7 orang atau 87,5 persen. Sedangkan yang didiagnosa pneumonia sebanyak 13 anak atau 52,0 persen, sedangkan yang berusia 13-36 bulan ada 8 anak atau 32,0 persen. Adapun anak yang berusia 36 bulan ke atas sebanyak 4 anak atau 16,0 persen.

Yang didiagnosa menderita batuk sebanyak 19 orang anak atau 59,4 persen untuk anak yang berusia 1-12 bulan, dan 8 orang atau 25,0 persen anak yang berusia 13-36 bulan, sedangkan anak yang berusia di atas 36 bulan sebanyak 5 orang atau 15,6 persen.

Informan peneltian yang memiliki anak Balita berumur antara 21-35 tahun, dengan tingkat pendidikan paling rendah tamat SD dan paling tinggi sarjana strata 1.

Masih ada di antara mereka yang belum pernah mendengar informasi terkait penyakit pneumonia sehingga mereka tidak mengetahui penyebab dan pencegahan pneumonia. Ada juga yang mengetahui penyakit pneumonia sebagai penyakit saluran pernapasan, tetapi tidak tahu dampaknya.

Mengenai pengetahuan responden tentang pemberian ASI eksklusif bagi responden yang memiliki anak Balita, mereka memberikan ASI tetapi juga memberikan susu botol selama enam bulan pertama karena anak sering ditinggal di rumah. Orang tuanya pergi ke kebun atau berkeja sebagai guru.

Menurut Shinta, yang terbaru dari penelitian yang dilakukannya adalah metode penelitian dengan dua pendekatan, yaitu kuantitatif dan kualitatif.

“Penelitian kuantitaf selama ini hanya pemeriksaan klinis saja, sedangkan temuan saya adalah pemeriksaan dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium melalui foto thorax/dada untuk menentukan apakah Balita pneumonia hasilnya positif pneumonia atau tidak,” ujar Shinta. (rus)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *