Makna dan Semangat Ramadan di Tengah Perbedaan Pendapat

Berita, Opini224 Dilihat

KABARIKA.ID–Awal Ramadan selalu menimbulkan perbincangan hangat di kalangan umat Islam Indonesia, terutama terkait perbedaan pendapat antara Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan pemerintah dalam menentukan hari pertama berpuasa.

Seperti penetapan awal Ramadan 1445 Hijriah tahun ini, pemerintah menetapkan awal Ramadan 1445 Hijriah pada Selasa, 12 Maret 2024, sementara Muhammadiyah jauh hari menetapkan Senin, 11 Maret, sebagai awal bulan suci tersebut.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menjelaskan bahwa penetapan ini berdasarkan hasil hisab.

Namun, Kemenag menyatakan kemungkinan tidak bisa mengamati awal Ramadan sesuai kriteria baru MABIMS (Menteri Agama Brunei Indonesia Malaysia Singapura).

Kriteria ini menetapkan bahwa hilal dapat teramati dengan ketinggian minimal 3 derajat dan elongasinya minimal 6,4 derajat.

Meskipun demikian, Muhammadiyah telah memulai ibadah puasa dan salat tarawih sejak hari sebelumnya, menegaskan kepatuhan pada metode hisab yang mereka anut.

Begitu pula dengan warga di sekitar Pondok Pesantren Mahfilud Dluror Jember yang juga telah memulai ibadah puasa tanpa menunggu hasil rukyatul hilal.

Perbedaan pandangan ini juga tercermin dalam penolakan NU terhadap wacana penghapusan sidang isbat yang disampaikan oleh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti.

Menurut Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, penghapusan sidang isbat yang tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba.

Lepas dari perbedaan tersebut, semangat Ramadan juga tercermin dalam perayaan yang meriah di berbagai negara.

London dan Frankfurt menghiasi jalan-jalannya dengan lampu Ramadan, menegaskan pesan keberagaman dan keindahan Ramadan sebagai momen spiritual bagi umat Islam di seluruh dunia.

Menyoroti makna Ramadan, Rektor UIN Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar menekankan pentingnya menjalani Ramadan di tengah dinamika politik.

Ramadan menjadi waktu untuk memperkokoh nilai-nilai keagamaan dan menjaga kesalehan, meskipun di tengah tantangan politik.

Dalam konteks yang lebih luas, perbedaan pandangan tentang awal Ramadan mencerminkan keberagaman dalam praktik keagamaan di Indonesia.

Namun, semangat kebersamaan dan kesucian Ramadan tetap menjadi poin sentral yang disatukan oleh umat Islam di Indonesia dan di seluruh dunia. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *