Dua Pekan, Dua Negara, 12 Kota

(Catatan Ringan di Sela Kunjungan Kerja Menteri Pertanian RI)

Berita, Opini1342 Dilihat

 

Oleh Ahmad Musa Said

Pengurus Pusat Ikatan Alumni (IKA) Unhas

 

TAK terasa sudah tujuh bulan lebih Andi Amran Sulaiman (AAS) mengemban amanahnya untuk kembali menjadi Menteri Pertanian pada periode kedua ini. Pria kelahiran Bone ini sungguh sibuk mengurus pertanian, hampir tak ada kata istirahat baginya kalau sudah menyentuh semua hal terkait petani.

Mulai dari bibit, pupuk, sawah, alat mesin pertanian, harga, bahkan terkadang rumah tangga petani pun dipertanyakannya dalam berbagai kunjungan. Tak jarang ada janda tua yang dibantu, pemuda yang kurang mampu sampai petani beristri dua pun di-support-nya agar dapat bertani dengan tenang.

Tak terhitung waktu, tenaga, pikiran dan bahkan materi semua terkuras untuk berhasilnya jihad pangan beliau. Dari sisi finansial, Menteri yang S1 sampai S3-nya di Universitas Hasanuddin (Unhas) ini, tak pernah menerima gaji dan tunjangannya untuk dimanfaatkan sendiri, melainkan disumbangkan untuk anak yatim piatu, janda, dan orang yang bermasalah secara ekonomi, seperti yang terlilit hutang dan rentenir.

Beliau selalu menyatakan bahwa dirinya sudah susah sejak kecil, maka dia senang membantu orang yang dalam kesusahan.

Dapat dikatakan tinggal sedikit waktu kebersamaan dengan istri tercinta yang setia mendampinginya sejak awal perjuangannya. Sesekali putri terakhirnya menghubungi untuk melepaskan kerinduan melalui panggilan video, di saat senggang antara kunjungan ke kunjungan lainnya.

“Keluarga harus diberi pengertian,” ujarnya kepada Djati dalam liputan “Point of View” SCTV.

Tenaga dan pikiran penggemar lagu Bugis klasik ini terkuras untuk mengurusi pangan bagi 279 juta warga Indonesia, dengan berbagai permasalahannya. Hanya sedikit waktu tersisa untuk memikirkan kebelangsungan bisnisnya di Tiran Group, perusahaan yang dirintisnya sejak 1996.

Keuntungan dari bisnis inilah yang dipergunakan selama ini untuk kegiatan amal sosial, termasuk mensponsori berbagai kegiatan IKA Unhas yang saat ini ia pimpin.

Dengan pendapatan dari bisnis ini pulalah peraih Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan di Bidang Wirausaha Pertanian dari Presiden RI SBY di tahun 2007 ini, membiayai perjalanan dinasnya menggunakan pesawat jet sewaan. Fasilitas yang membuat mobilitasnya begitu fleksibel, dapat diatur sesuai keperluan dan memudahkan jika ada perubahan agenda mendadak.

Sejak berangkat dari Halim ke Padang 18 Mei lalu, Ahad esoknya langsung beranjak menuju Vietnam. Di Hanoi, Mentan AAS bertemu Menteri Pertanian dan Pembangunan Desa Vietnam, Le Minh Hoan untuk kerja sama teknologi lahan rawa.

Senin pagi, dari Hanoi terbang ke Chanto melihat Koperasi Petani Padi dan Rice Milling Complex.

Selasa pagi berangkat ke Guangzhou, Cina dilanjutkan makan malam bersama Konsulat Jenderal RI dan Direktur China National Rice Research Institute (CNRRI).

Rabu esoknya, melakukan kunjungan ke CNRRI dan Perusahaan Precision Agriculture.

Sorenya, Mentan lalu bertolak ke Makassar. Meskipun libur panjang, di Makassar tak luput dari kesibukan terkait pertanian, namun paling tidak ada sedikit kesempatan untuk memperhatikan bisnisnya.

Senin, 27 Mei 2024 aktivitas dimulai dengan penyerahan bantuan sarana dan prasarana pertanian untuk Provinsi Sulawesi Selatan, dan terkhusus tambahan bantuan bagi enam kabupaten yang terdampak bencana.

Dari Makassar ini, semestinya langsung ke Merauke, namun karena janji kepada Perhimpunan Organisasi Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (Himpuni) untuk menjamu mereka di dalam acara halal bihalal, maka kembalilah beliau ke Jakarta setelah selesai beramah tamah dengan Pj Gubernur Sulawesi Selatan.

Barulah setelah acara Himpuni di Selasa malam, pria yang hobi coto nusantara ini lanjut berangkat ke Merauke pada pukul 00.30, Rabu dini hari.

Setelah 5 jam perjalanan, sudah pukul 7.30 di Merauke, tiada kata istirahat. Heli sewaan telah menyambut langsung meninjau potensi optimalisasi lahan (Opla) dan cetak sawah.

Sambil menikmati menu sate, gulai dan dendeng rusa, siang itu beliau memberi arahan kepada Bupati Merauke terkait hasil survey.

Tak ada rehat siang itu, tak sempat menginap di Merauke, sang Menteri lalu melanjutkan penerbangan ke Gorontalo. Di pesawatlah beliau menyandarkan kepala lalu tertidur, selimut dipasangkan, paling tidak mencegah dinginnya suhu menyerang daya tahan tubuh di tengah aktivitas yang begitu melelahkan.

Setiba di Gorontalo, Gorontalo Utara menjadi tujuan, sekitar 1 jam perjalanan, di sana putra Babinsa ini meninjau gudang jagung dan memastikan ketersediaannya.

“Ya, letih itu seolah terobati di kala menyaksikan hasil panen petani diserap dengan harga yang pantas,” ujar AAS singkat.

Lalu, dengan senyum khasnya, dia berbalik dan mengajak, “Ayo kita pergi ekspor,” serunya bersemangat.

Di Pelabuhan Anggrek, Gorontalo Utara, CEO AAS Foundation ini melepas ekspor 50.000 ton jagung ke Filipina dan 10.000 ton ke pasar domestik, dari total 264.000 ton.

Setelah mengantar salah satu tamu pentingnya kembali ke Jakarta, beliau memohon maaf kepada Pj. Gubernur Gorontalo bahwa sudah sangat lelah, ingin istirahat.

“Mohon maaf, tak dapat menghadiri jamuan makan malamnya,” ujarnya.

Selama 20 jam tanpa baring sempurna hari itu.

Cara Menteri Pertanian mengklarifikasi info harga di petani kepada staf Bulog pada acara pelepasan ekspor jagung di Gorontalo Utara. (Foto: Uca)

Pada waktu istirahat beliaulah kami memanfaatkan waktu untuk silaturahmi dengan kawan-kawan sesama alumni Unhas di Gorontalo, meski tanpa penugasan khusus. Paling tidak, kami mencoba membuat mereka mengerti bahwa agenda pak Menteri begitu padat, dan mohon maaf jika agenda khusus dengan IKA Unhas Wilayah maupun KKSS Daerah kali ini tidak terakomodasi.

Di luar dugaan, HM. Dahlan Usman, Ketua IKA Unhas Gorontalo, justru menegaskan bahwa kehadirannya meluangkan waktu untuk mendampingi rombongan Puang Amran adalah wujud kebanggaan dan support kami terhadap jihad pangan beliau.

“Jangankan tak diagendakan khusus, tak disapa pun tak masalah buat kami, yang penting program Kementerian Pertanian dapat tercapai,” seru Dahlan dari dalam mobilnya yang kami tumpangi.

“Kepentingan puluhan juta petani jauh lebih di atas dibanding IKA Unhas Gorontalo, kami ikhlaskan Ketua Umum IKA Unhas mengurus maslahat yang lebih besar untuk bangsa,” lanjut Dahlan sepulang ngopi malam itu.

Meskipun super sibuk, Mentan AAS selalu menyapa alumnus ekonomi 94 ini dengan sapaan Pak Ketua, ketika berpapasan.

Kamis pagi, setelah menengok besarnya manfaat pompanisasi di Bonebolango, Mentan AAS lalu bertolak menuju Manokwari. Di sana, AAS disambut Sekda. Beliau mendiskusian tentang potensi cetak sawah di Papua Barat.

Jumat pagi rapat koordinasi dengan Forkopimda dan seluruh bupati yang ada di Papua Barat. Pertanyaan difokuskan berapa kesiapan Papua Barat untuk mendukung cetak sawah.

Rapat begitu singkat, karena setelah dihitung jumlah penduduk, didapatkan berapa hektar kekurangan sawah untuk memenuhi kebutuhan domestik dan berapa kira-kira kemampuan Papua Barat untuk mendukung program ini. Tak lebih dari 15 menit rapat itu, mentan lalu berseru, “Ayo kita ke lapangan. Rapat tak perlu lama, yang penting bantuannya banyak.”

Lahan yang dipantau ternyata sudah beroperasi dan dibantu pompanisasi bantuan TNI Angkatan Darat. Mentan sangat kagum dengan inisiatif TNI yang selama ini selalu bersatu bahu-membahu dengan petani demi suksesnya kemandirian pangan.

Kondisi sawah di Manokwari Selatan, Papua Barat, yang telah menggunakan pompanisasi meninggikan asa Mentan akan pencapaian swasembada pangan. (Foto: Uca)

Dari sawah ke kebun sawit, mendengarkan harapan masyarakat adat Suku Arfak yang berharap dapat sejahtera di tengah perkembangan sawit.

Salat Jumat di masjid wilayah transmigrasi, Mentan menyerahkan donasi untuk pembangunan masjid. Jumat berlalu, rombongan menuju Bandara, sempat berdiskusi dengan Gubernur Papua Selatan yang baru saja tiba dari Jayapura, lalu takeoff ke Merauke.

Mendung Sabtu pagi, 1 Juni 2024, jauh di ujung timur, tidak menyurutkan semangat Mentan untuk memimpin upacara hari lahirnya Pancasila.

Mentan AAS berpesan bahwa semangat Pancasila harus menjadi pemersatu anak bangsa dalam mendukung program ketahanan pangan, demi menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

Suasana setelah upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di Merauke, 1 Juni 2024. (Foto: Uca)

Setelah upacara Mentan melanjutkan kegiatan memantau lahan sawah dengan menggunakan heli. Setelah turun dari heli, mengadakan rapat sejenak lalu meninjau lahan sawah dengan perjalanan darat.

Ahad pagi, dua heli diterbangkan dua kali untuk memantau kondisi lahan lainnya di Merauke. Pada penerbangan kedua dilakukan pendaratan di landasan Yonif 757 dan melanjutkan perjalanan darat ke lahan persiapan Opla.

Tanpa jeda, sekembalinya dari pemantauan, turun dari heli, setelah melaksanakan salat jama’ qashar, Mentan AAS langsung menuju pesawat jet untuk kembali ke Jakarta.

Seperti kata pepatah Arab, wa man thalabal ulaa bighayri kaddin, adhaa’al umuura fiy thalabil mahaali (siapa yang ingin mencapai hasil yang istimewa tanpa jerih payah, sama saja membuang waktu mengejar sesuatu yang mustahil).

Ya, beliau sangat paham bahwa urusan jihad pangan ini tidak bisa main-main, harus diseriusi betul kalau mau kembali swasembada, ekspor dan menjadi lumbung pangan dunia.

Selamat istirahat pak Menteri, perjuangan masih panjang, banyak agenda menanti esok hari. Semoga semua jerih payah berbuah manis.

========

Penulis adalah Peneliti Pusat Riset Perikanan – Badan Riset dan Inovasi Nasional yang juga aktif di Majelis Nasional KAHMI Bidang Maritim, Majelis Tabligh Muhammadiyah Makassar, Korps Muballigh Muhammadiyah Depok, Wasilah MUI Depok, KKSS Depok dan Content Writer di Kabarika.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *