Membaca Kembali Asyura

Berita, Opini937 Dilihat

Oleh Ahmad Musa Said, S.Si

BULAN Muharram adalah salah satu bulan yang dimuliakan Allah Swt. Dan umat Islam yang menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup, yakin betul akan kemuliaan bulan ini. Sesuai potongan ayat berikut.

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. (QS At-Taubah [9] : 36).

Di dalam bulan ini terdapat satu hari yang bersejarah, yaitu hari kesepuluh atau yang disebut Asyura (kesepuluh). Terkenalnya hari ini adalah karena disyariatkannya (sunnah) berpuasa pada hari ini. Seperti dijelaskan pada hadits berikut:

“Bahwasannya ketika Rasulallah SAW datang ke kota Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi, mereka berpuasa pada hari Asyura. Sehingga beliau bertanya kepada mereka: ‘Apa yang menyebabkan kalian berpuasa pada hari ini? Maka mereka menjawab: ‘Ini adalah hari yang agung, dimana Allah (pada hari ini) telah menyelamatkan Musa AS dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun beserta bala tentaranya. Sehingga Musa AS berpuasa pada hari ini sebagai wujud syukurnya, oleh karenanya kami pun berpuasa’. Maka Rasulallah SAW bersabda: “Dan kami lebih berhak dengan Musa daripada kalian”. Lalu beliau berpuasa pada hari itu serta menyuruh para sahabatnya untuk berpuasa pula”. (HR Bukhari no. 2004 & Muslim no. 1130)

Membaca hadits di atas, terlihat bahwa Rasulullah SAW menganjurkan berpuasa pada hari Asyura dikarenakan ikut bergembira atas kemenangan Nabi Musa AS terhadap Fir’aun. Dan sebagai mukmin, cara merayakannya adalah dengan berpuasa, sebagaimana terkadang seorang muslim bernazar akan berpuasa jika terlepas dari kesulitan atau saat hajatnya tercapai.

Bahkan dalam kitab Al Majruhin karya Imam Ibnu Hibban, beliau menyebutkan bahwa banyak peristiwa penting yang terjadi pada para nabi alaihimussalaam di hari Asyura, di antaranya : Adam ditempatkan di surga dan diterima taubatnya, Ibrahim lahir dan diselamatkan dari api, Isa diangkat ke langit, Idris diangkat ke langit, Allah menyembuhkan nabi Ayyub, Isa lahir, Yusuf diselamatkan dari sumur, Sulaiman diberi kerajaan serta diterimanya taubat Daud alaihimussalaam.

Meskipun sebagian ahli hadits menganggap hadits ini lemah, namun jika disandarkan pada yang jelas sahih tentang tenggelamnya Fir’aun, maka hari Asyura ini dianggap hari bersuka cita, meskipun tidak dengan perayaan yang meriah, namun dengan berpuasa.

Ada tragedi yang terjadi pada tahun 61 H, yaitu peristiwa pembantaian Imam Husain RA, cucu baginda Nabi Muhammad SAW yang terjadi bertepatan pada hari Asyura (10 Muharram).

Namun karena peristiwa ini terjadi setelah wafatnya Rasulullah SAW, maka kedudukannya tidak dapat ditetapkan sebagai landasan syariah atau ritual ibadah dalam Islam. Karena syariat Islam telah sempurna sebelum Rasulullah SAW wafat.

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al Ma’idah [5] : 3).

Terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan kesedihan Rasulullah SAW atas berita wafatnya Husayn RA.

Dari Ummul Mukminin Ummu Salamah RA berkata, suatu hari Rasulullah SAW duduk di dalam rumahku lalu bersabda, jangan ada yang masuk ke dalam. Maka akupun menunggunya, lalu masuklah Husain RA, saya mendengar Rasulullah SAW menangis sampai terisak-isak, lalu saya menemuinya sedang bersama Husayn RA mengelus dahi Rasulullah SAW yang sedang menangis. Maka Rasulullah bersabda : sesungguhnya Jibril AS tadi bersama kami dan bertanya kepadaku, apakah aku mencintai Husain, maka aku katakan iya. Jibril AS lalu berkata bahwa umatmu akan membunuhnya di suatu negeri yang disebut Karbala, lalu Jibril AS membawakan tanahnya lalu memperlihatkannya pada Nabi SAW. Ummu Salamah RA lalu melanjutkan bahwa tatkala Husain RA terbunuh, orang bertanya apa nama negeri ini, orang menjawab Karbala, maka orang-orang menjawab; sungguh benar Rasulullah SAW, negeri Karbun (kesulitan) wa Balaa (dan ujian). (HR Al Haitsami, Majmu’ Zawaid 9/191).

Namun ini adalah hadits yang menunjukkan mu’jizat Rasulullah SAW yang dapat mengetahui informasi yang akan datang dengan izin Allah SWT dan menunjukkan sisi fitrah manusiawi Rasulullah SAW yang pasti bersedih ketika orang-orang kesayangannya wafat apalagi terbunuh. Bukan menjadi dalil agar ikut mengkhususkan suatu hari untuk meratapi syahidnya imam Husain RA, meskipun beliau adalah cucu Rasulullah SAW.

Karena jika hadits ini dijadikan sandaran untuk menangisi kematian Husain RA, maka sesungguhnya kesedihan Rasulullah SAW ketika pamannya Hamzah bin Abdul Muththalib syahid di perang uhud, lebih dahsyat lagi bahkan menyalatinya setiap menyalati sahabat lain yang syahid di perang uhud. Bahkan beliau menyuruh wanita yang menangis agar menangisi Hamzah RA.

Ketika pulang dari perang Uhud, wanita-wanita Anshar sedang menangisi suami-suami mereka yang terbunuh. Ibnu Umar melanjutkan, “Lalu Rasulullah SAW mengatakan, “Akan tetapi tidak ada yang menangisi Hamzah.” Kemudian beliau tidur, ketika terbangun kaum wanita masih menangis. Beliau bersabda, “Jika hari ini mereka menangis hendaklah menangisi jenazah Hamzah. (HR. Ahmad no: 4742).

Meskipun demikian, hadits ini bukan menjadi sandaran agar kita ikut pula menangisi syahidnya Hamzah RA. Karena agama ini justru menganjurkan kita agar jangan larut dalam kesedihan, jangan menangis berlebihan dan jangan pula meratapi kematian.

“Bukan termasuk golongan kami orang yang memukul pipi, merobek-robek saku dan meratap dengan kata-kata jahiliah.” (HR. Ahmad no. 3476)

Bahkan dalam kitab Nahjul Balaghah yang dinisbatkan ke Imam Ali RA, beliau berkata : ta’ziyah (ucapan duka cita) yang lebih dari tiga hari itu memperbaharui musibah, dan tahni’ah (ucapan suka cita) yang lebih dari tiga hari itu mengabaikan rasa kasih sayang.

Maka setelah menilik ulang histori asyura ini, dapat disimpulkan bahwa syariat diagungkannya Asyura dengan berpuasa adalah sehubungan dengan kemenangan Musa AS melawan Fir’aun dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan syahidnya Husain RA. Meskipun sebagai umat Islam tentu kita bersedih atas peristiwa tersebut.

Sebagaimana pendapat Ibnu Taimiyah rahimahullah :
Tidak disangsikan lagi bahwa Husain RA terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan syahid. Pembunuhan terhadap Husain RA merupakan tindakan maksiat kepada Allah Azza wa Jalla dan rasul-Nya SAW dari para pelaku pembunuhan dan orang-orang yang membantu pembunuhan ini. Di sisi lain, merupakan musibah yang menimpa kaum muslimin, keluarga Rasulullah SAW dan yang lainnya. Husain RA berhak mendapatkan gelar syahid, kedudukan dan derajat ditinggikan. (Minhâjus Sunnah : IV/550)

Salah satu cara mencintai Imam Husain RA adalah dengan mengikuti sunnah kakek beliau, yaitu Nabi Muhammad SAW. Bahkan Imam Husain RA diriwayatkan syahid dalam keadaan berpuasa Asyura.

Selamat membaca kembali Asyura, semoga ibadah puasa kita diterima Allah SWT.

———-
Penulis adalah pengurus Divisi Keagamaan PP IKA UNHAS, Korps Mubalig Muhammadiyah Kota Depok, Wadah Silaturrahim Alumni (Wasilah) Pendidikan Kader Ulama MUI Kota Depok, Majelis Nasional KAHMI 2022–2027.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *